Menu ✖

Mode Gelap
Suyudi Ario Seto Disetujui DPR Jadi Kapolri, Gantikan Listyo Sigit Kebun Hantu, Menyusuri Arsip Tubuh dan Pengalaman yang Tak Selesai AI Mengubah Wajah Demokrasi, Akademisi: Verifikasi Jadi Senjata Publik Tanam 10 Pala Tomandin di SMA Don Bosco Fakfak, Siswa Belajar Ketangguhan di Tengah El Nino KAI Services Perkuat Layanan Premium di Balik Perjalanan Nusantara Explorer KKP Percepat Sertifikasi Awak Kapal Perikanan melalui Modernisasi Pelatihan

SENI BUDAYA

 Pameran Tunggal “My Artistic Soul” Ireng Halimun; Merawat Nyala Seni di Lintasan Zaman

badge-check


  Pameran Tunggal “My Artistic Soul” Ireng Halimun; Merawat Nyala Seni di Lintasan Zaman Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Perupa Ireng Halimun, yang memiliki nama asli Iwan Ridwan, kembali menegaskan konsistensinya dalam dunia seni rupa melalui pameran tunggal bertajuk “My Artistic Soul”. Pameran tersebut resmi dibuka Selasa (11/8/2026), di Koi Gallery-Resto, Kemang, Jakarta Selatan, dan akan berlangsung hingga 31 Agustus 2026.

Pameran ini menghadirkan karya-karya lama dan karya terbaru Ireng Halimun dalam rentang perjalanan kreatif sekitar satu dekade terakhir. Bagi sang perupa, “My Artistic Soul” bukan sekadar ruang untuk memajang lukisan, melainkan momentum untuk melihat kembali perjalanan panjangnya dalam membangun bahasa visual dan menemukan makna dalam proses berkesenian.

Pameran juga menjadi ruang perjumpaan antara seniman, karya, dan publik. Sebab, bagi Ireng Halimun, karya seni tidak berhenti ketika selesai dikerjakan di atas kanvas. Karya justru menemukan kehidupan berikutnya ketika berhadapan dengan mata, pikiran, perasaan, serta tafsir masyarakat.

Lima Dekade Menyusuri Dunia Seni

Ireng Halimun lahir di Jakarta pada 11 Agustus 1965. Ketertarikannya terhadap seni telah tumbuh sejak usia sembilan tahun. Perjalanan tersebut kemudian berkembang melalui proses pendidikan, komunitas, pengalaman berkesenian, serta perjumpaan panjang dengan berbagai lingkungan seni.

Ia mendapatkan pelatihan teater dan sastra sejak 1978 dan menjadi anggota Sanggar Garajas, Bulungan, sejak 1979. Pendidikan formalnya ditempuh di SMP Muhammadiyah 17 Ciputat dan SMA Negeri 6 Jakarta, sebelum melanjutkan pendidikan di Jurusan Seni Rupa IKIP Jakarta pada 1984–1990.

Selain pendidikan formal, Ireng juga aktif dalam berbagai komunitas seni, termasuk Seni Rupa Rawamangun (S2R2) dan UKM IKIP Jakarta.

Perjalanan pamerannya dimulai sejak 1986 melalui pameran tunggal di Goethe Institut Jakarta. Sejak saat itu, ia terus memperlihatkan karya-karyanya kepada publik, baik melalui pameran tunggal maupun pameran bersama.

Beberapa pameran tunggalnya antara lain “Man Usia” di Balai Budaya Jakarta pada 2017 dan “Langkah 5 hingga 7 Nant” di Balai Budaya Jakarta pada 2022.

Sementara dalam pameran bersama, jejak Ireng Halimun antara lain tercatat dalam “Mutasi Nuswantara”, “Napas Seni”, “Atmosferupa”, “Seni Kasih Rupa Cinta”, “Titik Perhatian”, “Estetik Art”, “Re(Posisi)”, “C’est La Vie”, “Jakarta Now”, “50 Tahun TIM”, “Interval”, “Garajas 45 Tahun – Cinta Indonesia”, “Trans Jakarta”, “Six Signs”, “Draw-Ink”, hingga “Indonesia Local Genius”.

Pada 2021, ia mewakili DKI Jakarta dalam Pameran Restart di Galeri Nasional Indonesia. Perjalanan tersebut kemudian dilanjutkan melalui berbagai pameran lainnya hingga memasuki tahun 2025, antara lain “Bangkit”, “Ber-be-rin”, “Timtimasa”, “Abstraction Optimism”, “Tatap Rupa”, “Ramadan dan Berwarna”, “Tasyakurupa”, dan “TU7UH RUPA”.

Karya sebagai Catatan Perjalanan Batin

Melalui “My Artistic Soul”, Ireng Halimun ingin menghadirkan karya-karya yang merekam perjalanan batinnya sebagai seorang seniman.

Karya lama dan karya baru ditempatkan dalam satu ruang untuk memperlihatkan bagaimana sebuah proses kreatif berkembang seiring perjalanan waktu. Perubahan pengalaman, lingkungan, pemikiran, kegelisahan, serta berbagai peristiwa kehidupan menjadi bagian dari proses yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa rupa.

Bagi Ireng, seniman bukan sekadar seorang craftman atau pengrajin yang mengulang pekerjaan secara mekanis. Seniman harus terus mencari, mencoba, bereksplorasi, dan membuka kemungkinan baru.

Karena itu, sebuah karya tidak harus dipahami hanya berdasarkan apa yang ingin disampaikan penciptanya. Setelah berada di ruang publik, karya memiliki kemungkinan untuk ditafsirkan secara berbeda oleh setiap orang.

Di titik inilah pameran menjadi penting. Ia bukan hanya tempat memamerkan karya, tetapi juga ruang dialog antara seniman dan masyarakat.

Seni yang Terus Bergerak

Lebih dari lima dekade bersentuhan dengan dunia seni, Ireng Halimun tidak hanya dikenal melalui aktivitas melukis. Ia juga aktif sebagai penulis seni dan artikel umum, moderator, pembicara, pembaca puisi, serta juri dalam berbagai kegiatan kesenian.

Ia pernah menjadi peserta Kongres Kesenian Indonesia II pada 2005, mendirikan Komunitas Perupa Naspa Seni (KPNS) pada 2015, serta terlibat dalam berbagai kegiatan dan pameran Sanggar Garajas.

Aktivitasnya juga merambah ke dunia literasi dan media seni. Ia terlibat dalam pengelolaan media Semesta Seni dan berbagai kegiatan kebudayaan yang mempertemukan seni rupa, sastra, dan gagasan kreatif.

Karena itu, “My Artistic Soul” dapat dibaca lebih jauh sebagai sebuah catatan perjalanan seorang manusia yang memilih seni sebagai jalan hidup.

Dari seorang anak yang mulai mengenal seni pada usia sembilan tahun, Ireng Halimun tumbuh menjadi perupa yang terus mencari, berkarya, berpameran, menulis, mengajar, membangun komunitas, dan membuka ruang dialog kebudayaan.

Pameran yang dibuka hari ini menjadi penanda bahwa perjalanan tersebut belum selesai.

Seni, bagi Ireng Halimun, bukan sekadar tentang apa yang tertuang di atas kanvas. Seni adalah cara membaca kehidupan, mengolah pengalaman, merekam zaman, sekaligus menerjemahkan pergulatan batin manusia ke dalam bahasa yang dapat dirasakan oleh orang lain. *** (Dulloh)

Baca Lainnya

Kebun Hantu, Menyusuri Arsip Tubuh dan Pengalaman yang Tak Selesai

1 Oktober 2026 - 10:53 WIB

Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO

1 Oktober 2026 - 03:44 WIB

Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda

1 Oktober 2026 - 03:12 WIB

Rhoma Irama Menangis Saat Menonton Film Lawas, dari Pengabdian ke Perjuangan Dangdut Menuju UNESCO

30 September 2026 - 08:17 WIB

Kolaborasi Addie MS & Twilite Orchestra, Anggun, dan Judika Warnai Perayaan 81 Tahun KAI

30 September 2026 - 07:37 WIB

Mentor Bang Budi dan Lukisan Karya Anak yang Membawa Cerita Aceh Tamiang ke Jakarta

30 September 2026 - 01:37 WIB

Bupati Aceh Tamiang Dorong Terapi Melukis untuk Pulihkan Trauma Anak Korban Bencana

29 September 2026 - 19:34 WIB

Ekraf Peduli Hadirkan Karya Anak Korban Bencana Sumatra, Pemerintah Dorong Pemulihan Lewat Seni

29 September 2026 - 18:39 WIB

Dianna Dee Full Jadwal Show, Sempatkan Cover Lagu di YouTube, 1 Minggu Tembus Setengah Juta Views

29 September 2026 - 17:10 WIB

HUT ke 81, KAI Daop 4 Semarang Menggelar Acara Baca Puisi Antar Negara

29 September 2026 - 09:44 WIB

Trending di RAGAM