Wartatrans.com, JAKARTA — Pemerintah terus mengawal penanganan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap sektor transportasi nasional. Langkah penutupan sementara serta pengalihan rute penerbangan diambil guna mengutamakan keselamatan penumpang dan operasional penerbangan dari paparan abu vulkanik. Dalam kunjungan kerja di Bandara Internasional Soekarno-Hatta bersama Menteri Perhubungan Dudi Purwagandi serta jajaran pimpinan Injourney, disampaikan bahwa keberadaan Indonesia di wilayah Ring of Fire menuntut kewaspadaan penuh serta respon cepat dari seluruh instansi terkait.
Erupsi yang terjadi dalam 72 jam terakhir berimbas langsung pada operasional delapan bandara utama. Meskipun Bandara Pagar Alam kini telah kembali beroperasi normal, sejumlah bandara lain masih harus ditutup sementara. Wilayah Jakarta dan sekitarnya yang terdampak mencakup Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Pondok Cabe, serta Bandara Budiarto di Curug. Sementara untuk wilayah Jawa Barat, penutupan terjadi di Bandara Husein Sastranegara Bandung, dan untuk wilayah Lampung meliputi Bandara Radin Inten II serta Bandara Taufik Kemas.

Secara keseluruhan, tercatat sebanyak 2.961 penerbangan terdampak selama tiga hari terakhir, yang terdiri atas 2.339 penerbangan domestik dan 622 penerbangan internasional. Situasi ini berdampak langsung pada sedikitnya 341.000 penumpang, baik yang tertahan di bandara-bandara maupun yang akhirnya harus membatalkan perjalanan mereka.
Keputusan penutupan bandara dan pembaruan Notice to Airmen (NOTAM) terus berpatokan pada pengujian paper test berkala oleh AirNav bekerjasama dengan BMKG, serta pemantauan data Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin. Berdasarkan analisis VAAC Darwin, abu vulkanik pada ketinggian 50.000 kaki berangsur menjauh ke arah Samudra Hindia. Adapun abu pada ketinggian 15.000 kaki bergerak ke arah Barat Daya dengan kecepatan 10 knot dan masih menyentuh sebagian wilayah Banten, Lampung, serta Jabodetabek.
Presiden Prabowo Subianto juga telah memimpin rapat terbatas secara virtual bersama Kementerian dan Lembaga teknis seperti BMKG, BNPB, dan PVMBG dari Kementerian ESDM. Arahan Presiden menegaskan bahwa seluruh langkah mitigasi harus berjalan terintegrasi dengan menempatkan faktor keselamatan penerbangan sebagai prioritas utama.
Guna menjaga konektivitas udara, pemerintah mengoperasikan sepuluh bandara pengalihan. Lima bandara utama disiagakan operasional selama 24 jam penuh, yaitu Bandara Kertajati di Majalengka, Bandara Ahmad Yani di Semarang, Bandara Adi Soemarmo di Surakarta, Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo, dan Bandara Juanda di Surabaya. Selain lima bandara tersebut, lima bandara pendukung lainnya juga disiapkan di Palembang, Pekanbaru, Pontianak, Balikpapan, dan Medan.
Untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak, pemerintah menetapkan dua kebijakan utama. Pertama, pengembalian dana tiket atau refund sebesar 100 persen yang dapat diajukan secara daring melalui Online Travel Agent maupun secara langsung di kounter bandara. Kedua, penyediaan sarana transportasi darat gratis menggunakan bus Damri dan Kereta Api Indonesia (KAI) bagi penumpang yang mendarat di bandara pengalihan menuju Jakarta atau arah sebaliknya.
Sementara di sektor transportasi laut, jalur penyeberangan Merak menuju Bakauheni dilaporkan masih beroperasi dengan baik. Pemantauan menunjukkan tidak ada indikasi kenaikan permukaan air laut yang ekstrem maupun gelombang tinggi yang berpotensi tsunami, sehingga penyeberangan tetap aman dilakukan di bawah pengawasan ketat.
Pemerintah turut mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan di tengah sebaran abu vulkanik. Kandungan material silika dalam abu gunung berapi tidak hanya berisiko pada mesin pesawat dan operasional landasan pacu, tetapi juga dapat mengganggu saluran pernapasan masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan balita.*** (MA)






























