Wartatrans.com, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto meminta seluruh jajaran pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang kembali mengalami erupsi. Presiden mengimbau masyarakat tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah.
Aktivitas vulkanik Anak Krakatau meningkat sejak awal Juli 2026 dan kembali mengalami erupsi menerus pada Sabtu (5/9) malam. Badan Geologi mencatat erupsi menerus dimulai pukul 23.07 WIB, disertai suara gemuruh dan fenomena semburan lava yang menyerupai lava fountain.

Presiden meminta unsur pemerintah, mulai dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), TNI-Polri hingga pemerintah daerah, memastikan langkah mitigasi berjalan cepat dan terkoordinasi.
Status Anak Krakatau Level III
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
Masyarakat dan wisatawan dilarang mendekati kawasan gunung api dalam radius yang telah ditetapkan otoritas. Badan Geologi juga meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas di kawasan berbahaya dan tetap mengikuti rekomendasi resmi.
Aktivitas Anak Krakatau sendiri bukan fenomena yang baru. Setelah erupsi besar pada 2018, gunung api tersebut terus mengalami aktivitas dalam skala tertentu dan kembali memasuki periode erupsi pada 2026.
BNPB Perkuat Mitigasi
BNPB memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk mengantisipasi dampak erupsi, khususnya abu vulkanik yang menyebar ke sejumlah wilayah.
BNPB juga mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika berada di luar ruangan serta mengurangi aktivitas di kawasan yang terdampak abu.
Langkah mitigasi dilakukan untuk mengantisipasi gangguan terhadap kesehatan masyarakat, transportasi, pendidikan dan aktivitas ekonomi.
BMKG Pantau Pergerakan Abu Vulkanik
BMKG meningkatkan pemantauan atmosfer selama 24 jam untuk mengetahui arah dan perkembangan sebaran abu vulkanik.
Hasil pemantauan menunjukkan abu vulkanik dari Anak Krakatau telah menyebar ke sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda. Kondisi angin dan cuaca menjadi faktor penting dalam menentukan arah penyebaran abu.
BMKG juga memantau kondisi muka laut melalui sistem peringatan dini tsunami. Hingga pemantauan yang dilakukan, tidak ditemukan indikasi anomali muka laut yang menunjukkan adanya tsunami akibat aktivitas erupsi terbaru.
Delapan Bandara Terdampak
Dampak erupsi paling terasa pada sektor penerbangan. Abu vulkanik yang masuk ke wilayah udara membuat sejumlah bandara harus menghentikan sementara operasional demi keselamatan penerbangan.
Kementerian Perhubungan melakukan koordinasi dengan BMKG, AirNav Indonesia, pengelola bandara dan maskapai penerbangan.
Sejumlah bandara di Jakarta, Banten, Jawa Barat dan Sumatera terdampak. Gangguan tersebut menyebabkan ribuan penerbangan terganggu dan ratusan ribu penumpang terdampak.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan keselamatan penerbangan menjadi prioritas pemerintah. Pembukaan kembali bandara dilakukan berdasarkan hasil pemantauan kondisi abu vulkanik dan keamanan ruang udara.
Sekolah Beralih ke Pembelajaran Jarak Jauh
Dampak abu vulkanik juga memengaruhi kegiatan pendidikan.
Sejumlah pemerintah daerah mengambil langkah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk melindungi siswa dan tenaga pendidik dari paparan abu vulkanik.
Kebijakan tersebut dilakukan terutama di wilayah yang mengalami dampak langsung maupun berpotensi terdampak berdasarkan perkembangan arah sebaran abu.
Kementerian Kesehatan Ingatkan Bahaya Abu Vulkanik
Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh paparan abu vulkanik.
Abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan, menyebabkan iritasi mata serta menimbulkan gangguan pada kulit. Anak-anak, lanjut usia dan masyarakat yang memiliki kerentanan terhadap gangguan pernapasan perlu mendapatkan perhatian lebih.
Masyarakat diminta menggunakan masker ketika berada di luar rumah dan segera membersihkan diri setelah terpapar abu.
BGN Sesuaikan Operasional MBG
Dampak erupsi juga berimbas terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Badan Gizi Nasional melakukan penyesuaian sementara operasional MBG di wilayah terdampak, khususnya pada satuan pendidikan yang menerapkan pembelajaran jarak jauh.
Penyesuaian tersebut dilakukan sebagai bagian dari langkah mitigasi dan perlindungan terhadap penerima manfaat di tengah kondisi lingkungan yang terdampak abu vulkanik.
Pemerintah Daerah Bergerak
Pemerintah daerah di sekitar Selat Sunda juga meningkatkan kesiapsiagaan.
Di Banten dan Lampung, pemerintah daerah berkoordinasi dengan BPBD, BMKG, Badan Geologi, aparat keamanan serta unsur terkait lainnya.
Sementara di Jakarta, dampak abu vulkanik juga menjadi perhatian pemerintah daerah karena sebarannya mencapai wilayah ibu kota.
Langkah pemerintah daerah meliputi pemantauan kualitas udara, perlindungan masyarakat, penyesuaian kegiatan pendidikan hingga koordinasi transportasi.
Pemerintah Minta Masyarakat Tidak Panik
Pemerintah menegaskan bahwa erupsi Anak Krakatau harus dihadapi dengan kewaspadaan, bukan kepanikan.
Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan gunung api, menggunakan masker apabila terjadi hujan abu, mengikuti perkembangan informasi resmi dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Badan Geologi masih mempertahankan status Level III atau Siaga karena aktivitas vulkanik Anak Krakatau masih dinamis dan kemungkinan terjadinya erupsi lanjutan tetap ada.
Dengan koordinasi antara Presiden, BNPB, Badan Geologi, BMKG, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kesehatan, TNI-Polri, pemerintah daerah serta lembaga terkait lainnya, pemerintah memastikan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam menghadapi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.*** (Septi)


























