Menu

Mode Gelap
KKP Imbau Nelayan Waspada Erupsi Gunung Anak Krakatau, Hindari Radius 3 Kilometer Cerita Bupati Madina Jumpa Mantan: Ada Bibik-bisik Soal Bandara, Pelabuhan dan BUMD? KAI Tambah Kapasitas Perjalanan KA untuk Penuhi Kebutuhan Mobilitas Pelanggan Kisah Perempuan Gaza: Dari Persiapan Perkawinan ke Medan Pertempuran  PELNI Pastikan Operasional Kapal Tetap Terjaga di tengah Erupsi GAK 4 Layanan Penerbangan Sudah Beralih ke Bandara Kertajati, Dampak Abu Vulkanik GAK

SOSOK

Kisah Perempuan Gaza: Dari Persiapan Perkawinan ke Medan Pertempuran 

badge-check


 Kisah Perempuan Gaza: Dari Persiapan Perkawinan ke Medan Pertempuran  Perbesar

Wartatrans.com, GAZA — Kisah Samah al-Mar‘i dan Makna Sebenar Ar-Rijal, dimana kisah ini terjadi dua hari sebelum maut menjemputnya, Samah al-Mar‘i al-‘Arabid, seorang ibu berusia 47 tahun di Gaza, masih sibuk bersama keluarganya mempersiapkan sebuah perkahwinan.

Anak lelakinya, ‘Ubaidah, sedang menantikan hari bahagia. Keluarga itu juga sedang menyiapkan rumah baharu mereka. Di tengah kehancuran dan peperangan yang tidak kunjung berakhir, mereka masih berusaha mempertahankan satu perkara yang paling sederhana dalam kehidupan manusia: harapan.

Namun, harapan itu tiba-tiba berubah menjadi medan pertempuran.

Bunyi tembakan terdengar dari kejauhan. Pasukan khas Israel dilaporkan menyusup ke kawasan kediaman keluarga tersebut dengan tujuan menangkap suami Samah, Mu‘in al-‘Arabid, yang disebut sebagai pegawai keselamatan dalaman di Gaza.

Operasi yang dirancang secara rahsia itu ternyata tidak berjalan seperti yang mereka bayangkan.

Ketika mengetahui bahawa suaminya menjadi sasaran, Samah dihadapkan pada pilihan yang amat berat. Dia boleh berdiam diri. Dia boleh melarikan diri. Atau dia boleh berusaha menyelamatkan keluarganya.

Samah memilih untuk bertahan. Bersama anak lelaki dan anak perempuannya, dia dilaporkan mengambil senjata dan terlibat dalam pertempuran untuk memberikan ruang kepada suaminya berundur.

Pertempuran berlangsung sengit. Dalam laporan yang beredar, Samah disebut berjaya menembak dua anggota pasukan Israel. Namun pasukan khas tersebut kemudian mendapat sokongan udara. Lebih daripada sepuluh serangan udara dilaporkan dilancarkan ke kawasan tersebut dan sekitarnya.

Rumah dan kawasan di sekelilingnya berubah menjadi medan kehancuran. Samah akhirnya terkena tembakan dan gugur di lokasi kejadian. Dalam saat-saat terakhirnya, dia juga dilaporkan menyaksikan anak perempuannya gugur, sementara anak lelakinya mengalami kecederaan parah.

Mu‘in, suaminya, akhirnya ditangkap setelah bertahan hingga kehabisan peluru dan dikepung.

Begitulah kisah sebuah keluarga yang hanya beberapa hari sebelumnya sedang mempersiapkan perkahwinan, tetapi kemudian harus berhadapan dengan kenyataan perang yang merenggut hampir seluruh harapan mereka.

Namun, kisah Samah tidak seharusnya berhenti hanya pada keberaniannya mengangkat senjata.

Ada pertanyaan yang jauh lebih besar di baliknya: Apakah sebenarnya makna ar-rijal? Allah SWT berfirman:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ»

“Di antara orang-orang Mukmin itu terdapat rijal-rijal yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.”

(Surah al-Ahzab: 23)»

Rijal tidak semata-mata bermaksud lelaki dari sudut jantina. Dalam konteks ayat tersebut, ia menggambarkan manusia yang memiliki keteguhan jiwa, amanah, keberanian dan kesetiaan terhadap prinsip yang diyakininya.

Rijal adalah mereka yang tetap berdiri ketika keadaan menuntut mereka berdiri. Mereka tidak mudah menjual prinsip demi kepentingan dunia. Tidak meninggalkan amanah ketika tanggungjawab menjadi berat. Dan tidak hanya berbicara tentang pengorbanan, tetapi bersedia menanggung akibat daripada pilihan yang diyakininya.

Kerana itu, kisah Samah seharusnya menjadi bahan renungan – bukan sekadar kisah heroisme dalam peperangan.

Kita tidak perlu berada di medan perang untuk menguji apakah kita memiliki sifat rijal. Ujiannya hadir setiap hari.

Ketika keluarga memerlukan kita, apakah kita hadir? Ketika amanah diberikan, apakah kita menunaikannya Ketika kebenaran berhadapan dengan kepentingan, apakah kita berani memilih kebenaran? Ketika hawa nafsu mengajak kepada kemaksiatan, apakah kita mampu berkata tidak? Ketika dunia menawarkan keuntungan dengan harga prinsip, apakah kita sanggup menolaknya? Dan ketika jalan perjuangan terasa panjang serta melelahkan, apakah kita masih mampu istiqamah?

Di sinilah makna rijal menjadi penting. Sebab persoalan umat bukan sekadar tentang berapa ramai lelaki yang dimiliki, tetapi berapa ramai manusia yang bersedia memikul amanah dengan jiwa yang matang.

Ramai yang kuat secara fizikal, tetapi rapuh ketika berhadapan dengan godaan.

Ramai yang lantang berbicara tentang keberanian, tetapi mundur ketika prinsipnya diuji.

Ramai yang ingin dihormati sebagai lelaki, tetapi enggan memikul tanggungjawab yang datang bersama kehormatan itu.

Kisah Samah al-Mar‘i mengingatkan kita bahawa keberanian bukan sekadar kemampuan memegang senjata.

Keberanian juga bermaksud mampu mempertahankan kebenaran, menjaga amanah, melindungi keluarga, mengendalikan hawa nafsu dan tetap teguh ketika berhadapan dengan tekanan.

Dan dalam konteks kehidupan kita hari ini, perjuangan itu boleh hadir dalam bentuk yang berbeza.

Memperbaiki keluarga. Mendidik generasi. Menegakkan kejujuran. Melawan korupsi. Menolak kemaksiatan. Membela mereka yang dizalimi. Serta memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan tanpa kehilangan akal sehat dan prinsip agama.

Samah mungkin telah gugur di Gaza. Tetapi pertanyaan yang ditinggalkannya jauh lebih panjang daripada kisah kematiannya:

Apakah kita masih mempunyai keberanian untuk menjadi manusia yang memegang amanah ketika dunia meminta kita menyerah?

Kerana pada akhirnya, ar-rijal bukan tentang siapa yang paling keras suaranya. Bukan pula tentang siapa yang paling gagah penampilannya. Tetapi tentang siapa yang tetap teguh ketika prinsipnya diuji.

Itulah makna sebenar keberanian. Itulah makna amanah. Dan itulah salah satu pesan penting daripada firman Allah tentang rijal: manusia yang benar-benar menepati janji mereka kepada Allah.*** (PG/Hairul Anwar)

Baca Lainnya

Prabowo Dorong Kesempatan Warga Dayak Pedalaman Mengabdi di TNI

1 September 2026 - 11:26 WIB

Pelayanan dengan Hati Bawa Prama KAI Services Iwan Kurniawan Raih SPARK Agustus 2026

31 Agustus 2026 - 20:11 WIB

ATL Beri Mandat Salman Yoga Bentuk Kepengurusan ATL Gayo 2026–2030

14 Agustus 2026 - 16:13 WIB

Ireng Halimun dan Perjalanan Panjang Seni Lukis

1 Agustus 2026 - 13:24 WIB

Khaidir Abdulrahman: Korban Penyalahgunaan Narkoba Harus Diselamatkan, Bukan Dijauhi

22 Juli 2026 - 20:42 WIB

Bertemu Awak Media Jakarta, Ahli Waris Kapitan Pattimura Frans Matulessy Dapat Dukungan Moril Pembangunan Museum

21 Juli 2026 - 21:22 WIB

Haul Akbar Kenang Syuhada Beutong Ateuh Digelar 23 Juli di Nagan Raya

21 Juli 2026 - 20:03 WIB

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Mengintip Transformasi PELNI di Bawah Kepemimpinan Tri Andayani

19 Juni 2026 - 12:49 WIB

Trending di ANJUNGAN