Wartatrans.com, JAKARTA — Rencana pembangunan Museum Pattimura mendapat dukungan dari sejumlah insan pers dan organisasi kewartawanan di Jakarta. Dukungan itu mengemuka dalam pertemuan ahli waris Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura, Frans Matulessy, dengan sejumlah awak media di kantor Redaksi Media Online Wartatrans.com, Selasa (21/7/2026).
Dukungan tersebut diberikan menyusul pernyataan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Dr. Fadli Zon saat bertemu dengan Frans Matulessy. Dalam pertemuan itu, Menteri Kebudayaan menyampaikan dukungan terhadap upaya pelestarian sejarah dan warisan perjuangan Kapitan Pattimura, termasuk gagasan pembangunan Museum Pattimura.

Pertemuan Frans Matulessy dengan Menteri Kebudayaan sebelumnya berlangsung di kantor Kementerian Kebudayaan RI pada 9 Juli 2026. Dalam kesempatan tersebut, ahli waris menyampaikan aspirasi keluarga terkait pentingnya menjaga dan melestarikan jejak sejarah Thomas Matulessy atau Kapitan Pattimura.
“Pak Menteri mengusulkan rumah kediaman Thomas Matulessy di Negeri Haria, Kabupaten Maluku Tengah, sebagai museum keluarga. Gagasan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang edukasi sejarah yang mampu memperkenalkan sosok dan perjuangan Kapitan Pattimura kepada generasi muda,” ungkap Frans Matulessy kepada awak media.
Pertemuan di kantor Redaksi Wartatrans.com kemudian menjadi ruang dialog antara Frans Matulessy dan kalangan media untuk menyampaikan perkembangan gagasan tersebut sekaligus membangun dukungan publik.
Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua Asosiasi Jurnalis Video (AJV) Chandra, Wakil Ketua Umum Sekber Wartawan Indonesia (SWI) Putra Gara, Presidium Jurnalis Club Boy Iskandar, GEB Communication Egi Murad, serta sejumlah awak media lainnya.
Para insan pers yang hadir menyambut positif rencana pembangunan Museum Pattimura. Mereka menilai keberadaan museum penting untuk menjaga kesinambungan sejarah perjuangan bangsa sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda.
“Museum Pattimura diharapkan nantinya tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan benda-benda bersejarah. Lebih dari itu, museum dapat dikembangkan sebagai pusat literasi sejarah yang menyajikan dokumentasi, arsip, foto, benda peninggalan, serta narasi sejarah perjuangan Kapitan Pattimura dan rakyat Maluku secara komprehensif,” terang Putra Gara.
Lebih jauh Gara menambahkan, Kapitan Pattimura atau Thomas Matulessy merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku melawan kolonialisme. Sosoknya kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dan hingga kini menjadi simbol keberanian, patriotisme, serta semangat perjuangan masyarakat Maluku.
Frans Matulessy menyampaikan bahwa dukungan Menteri Kebudayaan menjadi energi positif bagi keluarga ahli waris dalam memperjuangkan pelestarian sejarah Kapitan Pattimura.
“Dukungan tersebut juga diharapkan dapat membuka ruang komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat Maluku, akademisi, budayawan, sejarawan, dan insan pers,” kata Frans lagi.
Sementara itu, Boy Iskandar melihat momentum tersebut perlu dikawal bersama agar gagasan pembangunan Museum Pattimura tidak berhenti sebagai wacana.
“Publik perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai sejarah, tujuan, lokasi, konsep, serta tahapan pembangunan museum tersebut,” ungkap Boy.
Egi Murad menambahkan, dukungan media dipandang penting untuk memperluas ruang publik bagi pembahasan mengenai warisan sejarah Kapitan Pattimura.
“Dengan demikian, perjuangan membangun museum tidak hanya menjadi kepentingan keluarga ahli waris, tetapi menjadi bagian dari kepentingan nasional dalam menjaga memori kolektif bangsa,” ungkap Egi.
Pertemuan Frans Matulessy dengan para awak media Jakarta di kantor Redaksi Wartatrans.com menjadi salah satu langkah awal untuk memperkuat dukungan tersebut. Dengan adanya dukungan dari Menteri Kebudayaan dan perhatian dari kalangan pers, harapan untuk mewujudkan Museum Pattimura diharapkan semakin terbuka.
“Museum itu kelak diharapkan menjadi ruang yang mempertemukan sejarah dan generasi masa kini—tempat masyarakat mengenal lebih dekat sosok Kapitan Pattimura, memahami perjuangannya, serta mengambil nilai-nilai keberanian, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air yang diwariskannya,” tutup Frans.***
(Yuli Riban)

























