Wartatrans.com, JAKARTA – Upaya menyelamatkan generasi muda dari ancaman penyalahgunaan narkoba membutuhkan pendekatan yang tidak hanya mengedepankan penegakan hukum, tetapi juga pemulihan dan pemberdayaan. Pandangan tersebut disampaikan Khaidir Abdulrahman, S.IP., M.A.P., yang menilai korban penyalahgunaan narkoba harus mendapatkan kesempatan untuk pulih dan kembali menjalani kehidupan secara produktif.
Khaidir mengatakan, persoalan narkoba merupakan tantangan serius bagi masa depan generasi muda, termasuk di Aceh. Karena itu, penanganannya harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan keluarga, masyarakat, pemerintah, dan berbagai elemen lainnya.

“Anak-anak muda yang terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba harus kita selamatkan. Mereka harus diberi kesempatan untuk pulih, mendapatkan pendampingan, kembali kepada keluarga, dan membangun masa depan mereka,” ujar Khaidir.
Menurutnya, pendekatan rehabilitasi medis dan sosial menjadi bagian penting dalam menangani korban penyalahgunaan narkoba. Mereka tidak semestinya hanya dipandang sebagai pelaku, tetapi juga sebagai korban yang membutuhkan pertolongan dan pemulihan.
Khaidir menegaskan, proses rehabilitasi harus menjadi bagian dari upaya memutus mata rantai penyalahgunaan narkoba. Dengan pemulihan yang tepat, para korban diharapkan mampu kembali ke tengah keluarga dan masyarakat serta memiliki kesempatan untuk berkontribusi secara positif.
“Jangan sampai generasi muda kita kehilangan masa depan hanya karena pernah terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba. Mereka harus dibantu agar bisa bangkit dan kembali menjadi manusia yang produktif,” katanya.
Selain persoalan narkoba, Khaidir juga menaruh perhatian terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia generasi muda Aceh. Menurutnya, anak muda merupakan aset penting sekaligus generasi emas yang akan menentukan arah pembangunan Aceh di masa depan.
Karena itu, ia mendorong agar generasi muda diberikan akses yang lebih luas terhadap pendidikan, pelatihan, keterampilan, dan pengalaman kerja, sehingga mampu menghadapi tantangan global.
“Generasi muda Aceh harus memiliki kompetensi dan daya saing. Kita tidak boleh hanya meminta mereka menjadi penonton pembangunan. Mereka harus dipersiapkan menjadi pelaku utama pembangunan di daerahnya,” ujarnya.
Komitmen tersebut, menurut Khaidir, juga diwujudkan melalui berbagai upaya membuka akses pelatihan dan peningkatan keterampilan bagi pemuda Aceh. Saat mengemban amanah sebagai salah satu Direksi PT ASABRI (Persero), ia turut memfasilitasi sejumlah pemuda Aceh untuk mengikuti berbagai program pelatihan di Medan dan Jakarta.
Khaidir juga menyebut adanya upaya membuka peluang bagi pemuda Aceh untuk mendapatkan pengalaman internasional melalui kerja sama dengan OISCA International Japan. Melalui program tersebut, pemuda Aceh berkesempatan mengikuti program magang di Jepang selama dua hingga tiga tahun.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat membentuk generasi muda yang memiliki kedisiplinan, etos kerja, keterampilan, dan wawasan global. Setelah kembali ke Indonesia, mereka diharapkan mampu menjadi pelopor yang ikut menggerakkan pembangunan di daerah asalnya.
“Kita ingin pemuda Aceh memiliki pengalaman dan kemampuan yang cukup untuk bersaing, bukan hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional. Ketika mereka kembali, pengalaman itu harus bisa ditularkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Khaidir.
Khaidir menegaskan, pembangunan generasi muda harus dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, pencegahan narkoba, rehabilitasi korban, pendidikan, pelatihan, dan pemberdayaan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
“Kalau kita ingin membangun Aceh yang lebih baik, maka kita harus menyelamatkan dan menyiapkan generasi mudanya. Mereka adalah masa depan Aceh. Tugas kita hari ini adalah memastikan mereka memiliki ruang untuk tumbuh, berkembang, dan berkontribusi,” tuturnya.*** (LE Putra)


























