Wartatrans.com, ACEH — Dalam kehidupan ini, saya hanyalah seorang relawan biasa. Bukan seorang cuak, bukan penghasut, bukan penjilat, dan bukan pula tukang adu domba. Saya tidak berdiri di pihak kanan ataupun kiri. Saya berusaha berdiri sama rata, memandang setiap orang sebagai manusia yang memiliki nilai dan kesempatan yang sama untuk berbuat baik.
Bagi saya, siapa pun yang dapat membantu dalam upaya menolong masyarakat yang membutuhkan, akan saya terima tanpa memandang latar belakangnya. Tidak peduli suku, agama, kelompok, maupun status sosialnya. Apalagi jika sesama Muslim, tentu semangat persaudaraan menjadi hal yang harus dikedepankan.

Latar belakang kehidupan saya turut membentuk cara pandang tersebut. Pada masa konflik Aceh, rumah orang tua saya di kawasan Kampus ASMI Mon Geudong sering menjadi tempat berlindung bagi masyarakat yang mencari rasa aman. Kami memang bukan bagian dari kelompok tertentu dan tidak berada dalam ranah perjuangan bersenjata, tetapi bukan berarti keluarga kami tidak memiliki pengorbanan untuk Aceh.
Saya pernah bergabung dalam aksi menuntut referendum saat masih berstatus mahasiswa politeknik. Saya masih mengingat bagaimana tangan saya terluka akibat terinjak sepatu PDL. Saya juga pernah merasakan ketakutan saat moncong senjata laras panjang ditempelkan ke kening saya. Bahkan ayah saya pernah dibawa aparat tanpa surat perintah, tanpa sempat berganti pakaian, hanya mengenakan kain sarung.
Namun semua pengalaman itu tidak membuat saya memilih jalan kebencian.
Saya tidak ingin hidup memelihara dendam kepada siapa pun. Saya juga tidak pernah menganggap diri saya sebagai orang baik. Saya memiliki banyak kekurangan sebagaimana manusia lainnya. Yang saya inginkan hanyalah hidup dengan tenang, berusaha menjadi perekat bagi mereka yang renggang, menjadi jembatan bagi mereka yang terpisah.
Jika ada yang tidak ingin berdamai, itu adalah pilihan mereka. Tetapi jangan sampai saya yang disudutkan hanya karena memilih jalan persaudaraan dan kemanusiaan.
Saya tidak memiliki kepentingan apa pun. Tidak mencari jabatan, tidak mencari keuntungan, dan tidak mengejar popularitas. Satu-satunya kepentingan yang saya pegang adalah membantu masyarakat yang datang meminta pertolongan semampu yang saya bisa.
Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa keras kita membenci, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan kepada sesama.***




























