Menu

Mode Gelap
Menteri Trenggono Pimpin Upacara HUT Ke-81 RI di Kampung Nelayan Merah Putih Sorue Jaya Konawe GGRM Suntik Rp200 Miliar, Bandara Dhoho Hadapi Balik Modal 26 Tahun Indonesia Alami 3 Gempa Besar dalam Sehari Hari Kemerdekaan! Ongkos Cuma Rp8 Naik MRT, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, KRL dan Busway Security KAI Gagalkan Pencurian Kabel Grounding LRT Jabodebek Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe

RAGAM

Percikan Mutia: Menjadi Perekat, Bukan Pemecah

badge-check


 Percikan Mutia: Menjadi Perekat, Bukan Pemecah Perbesar

Wartatrans.com, ACEH — Dalam kehidupan ini, saya hanyalah seorang relawan biasa. Bukan seorang cuak, bukan penghasut, bukan penjilat, dan bukan pula tukang adu domba. Saya tidak berdiri di pihak kanan ataupun kiri. Saya berusaha berdiri sama rata, memandang setiap orang sebagai manusia yang memiliki nilai dan kesempatan yang sama untuk berbuat baik.

Bagi saya, siapa pun yang dapat membantu dalam upaya menolong masyarakat yang membutuhkan, akan saya terima tanpa memandang latar belakangnya. Tidak peduli suku, agama, kelompok, maupun status sosialnya. Apalagi jika sesama Muslim, tentu semangat persaudaraan menjadi hal yang harus dikedepankan.

Latar belakang kehidupan saya turut membentuk cara pandang tersebut. Pada masa konflik Aceh, rumah orang tua saya di kawasan Kampus ASMI Mon Geudong sering menjadi tempat berlindung bagi masyarakat yang mencari rasa aman. Kami memang bukan bagian dari kelompok tertentu dan tidak berada dalam ranah perjuangan bersenjata, tetapi bukan berarti keluarga kami tidak memiliki pengorbanan untuk Aceh.

Saya pernah bergabung dalam aksi menuntut referendum saat masih berstatus mahasiswa politeknik. Saya masih mengingat bagaimana tangan saya terluka akibat terinjak sepatu PDL. Saya juga pernah merasakan ketakutan saat moncong senjata laras panjang ditempelkan ke kening saya. Bahkan ayah saya pernah dibawa aparat tanpa surat perintah, tanpa sempat berganti pakaian, hanya mengenakan kain sarung.

Namun semua pengalaman itu tidak membuat saya memilih jalan kebencian.

Saya tidak ingin hidup memelihara dendam kepada siapa pun. Saya juga tidak pernah menganggap diri saya sebagai orang baik. Saya memiliki banyak kekurangan sebagaimana manusia lainnya. Yang saya inginkan hanyalah hidup dengan tenang, berusaha menjadi perekat bagi mereka yang renggang, menjadi jembatan bagi mereka yang terpisah.

Jika ada yang tidak ingin berdamai, itu adalah pilihan mereka. Tetapi jangan sampai saya yang disudutkan hanya karena memilih jalan persaudaraan dan kemanusiaan.

Saya tidak memiliki kepentingan apa pun. Tidak mencari jabatan, tidak mencari keuntungan, dan tidak mengejar popularitas. Satu-satunya kepentingan yang saya pegang adalah membantu masyarakat yang datang meminta pertolongan semampu yang saya bisa.

Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa keras kita membenci, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan kepada sesama.***

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe

16 Agustus 2026 - 22:20 WIB

Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat

16 Agustus 2026 - 21:55 WIB

Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

16 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata

16 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Laznas ASAR Humanity Bergerak Tanggap Bencana Bersama Relawan KSATRIA di NTT

16 Agustus 2026 - 14:41 WIB

Penanganan Bencana Lambat, Hasil Bumi Dikeruk, Tapi Butir MoU Tidak Pernah Diselesaikan Pemerintah Pusat. Aceh Sudah Muak!

16 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Semarang Terancam Rob Permanen, Tanahnya Amblas 12 Sentimeter Pertahun

16 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Delegasi Rimba Raya Kecam Keras Insiden Pelecehan Budaya Aceh di Panggung Jamnas: “Jangan Lupakan Sejarah Aceh”

16 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Budaya Aceh Dilecehkan di Jamnas Pramuka 2026: Lampu Panggung Dimatikan Saat Penampilan

16 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Trending di RAGAM