Menu ✖

Mode Gelap
H. Fikri Hudi Oktiarwan Dorong Pengelolaan Sampah Jawa Barat Tuntas dari Hulu Hingga Hilir WASPADA ! Udara di Kaimana, Teluk Bintuni, dan Teluk Wondama Masuk Kategori BERBAHAYA pada 9 Oktober 2026 Di Tengah Kekeringan Hampir Empat Bulan, PUPR2KP  Alirkan Air Bersih ke Kampung Lusiferi PERADI: Kantor Hukum Tidak Boleh Menjadi Sarana Menampung atau Menyamarkan Dana Hasil Kejahatan Dedit Cahyo Ponadi Terpilih sebagai Spark KAI Services September 2026 Trenggono Tekankan Komunikasi Publik untuk Kawal Enam Program Prioritas KKP

RAGAM

Percikan Mutia: Menjadi Perekat, Bukan Pemecah

badge-check


 Percikan Mutia: Menjadi Perekat, Bukan Pemecah Perbesar

Wartatrans.com, ACEH — Dalam kehidupan ini, saya hanyalah seorang relawan biasa. Bukan seorang cuak, bukan penghasut, bukan penjilat, dan bukan pula tukang adu domba. Saya tidak berdiri di pihak kanan ataupun kiri. Saya berusaha berdiri sama rata, memandang setiap orang sebagai manusia yang memiliki nilai dan kesempatan yang sama untuk berbuat baik.

Bagi saya, siapa pun yang dapat membantu dalam upaya menolong masyarakat yang membutuhkan, akan saya terima tanpa memandang latar belakangnya. Tidak peduli suku, agama, kelompok, maupun status sosialnya. Apalagi jika sesama Muslim, tentu semangat persaudaraan menjadi hal yang harus dikedepankan.

Latar belakang kehidupan saya turut membentuk cara pandang tersebut. Pada masa konflik Aceh, rumah orang tua saya di kawasan Kampus ASMI Mon Geudong sering menjadi tempat berlindung bagi masyarakat yang mencari rasa aman. Kami memang bukan bagian dari kelompok tertentu dan tidak berada dalam ranah perjuangan bersenjata, tetapi bukan berarti keluarga kami tidak memiliki pengorbanan untuk Aceh.

Saya pernah bergabung dalam aksi menuntut referendum saat masih berstatus mahasiswa politeknik. Saya masih mengingat bagaimana tangan saya terluka akibat terinjak sepatu PDL. Saya juga pernah merasakan ketakutan saat moncong senjata laras panjang ditempelkan ke kening saya. Bahkan ayah saya pernah dibawa aparat tanpa surat perintah, tanpa sempat berganti pakaian, hanya mengenakan kain sarung.

Namun semua pengalaman itu tidak membuat saya memilih jalan kebencian.

Saya tidak ingin hidup memelihara dendam kepada siapa pun. Saya juga tidak pernah menganggap diri saya sebagai orang baik. Saya memiliki banyak kekurangan sebagaimana manusia lainnya. Yang saya inginkan hanyalah hidup dengan tenang, berusaha menjadi perekat bagi mereka yang renggang, menjadi jembatan bagi mereka yang terpisah.

Jika ada yang tidak ingin berdamai, itu adalah pilihan mereka. Tetapi jangan sampai saya yang disudutkan hanya karena memilih jalan persaudaraan dan kemanusiaan.

Saya tidak memiliki kepentingan apa pun. Tidak mencari jabatan, tidak mencari keuntungan, dan tidak mengejar popularitas. Satu-satunya kepentingan yang saya pegang adalah membantu masyarakat yang datang meminta pertolongan semampu yang saya bisa.

Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa keras kita membenci, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan kepada sesama.***

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

H. Fikri Hudi Oktiarwan Dorong Pengelolaan Sampah Jawa Barat Tuntas dari Hulu Hingga Hilir

8 Oktober 2026 - 10:59 WIB

WASPADA ! Udara di Kaimana, Teluk Bintuni, dan Teluk Wondama Masuk Kategori BERBAHAYA pada 9 Oktober 2026

8 Oktober 2026 - 10:46 WIB

Di Tengah Kekeringan Hampir Empat Bulan, PUPR2KP  Alirkan Air Bersih ke Kampung Lusiferi

8 Oktober 2026 - 10:41 WIB

PERADI: Kantor Hukum Tidak Boleh Menjadi Sarana Menampung atau Menyamarkan Dana Hasil Kejahatan

8 Oktober 2026 - 10:36 WIB

Ekspor Perikanan Maluku Tembus Rp700 Miliar, Serap 1.102 Tenaga Kerja

8 Oktober 2026 - 00:22 WIB

Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo

7 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 19:42 WIB

Alhamdulillah, Biaya yang Ditanggung Jemaah Haji 2027 Turun Rp3,4 Juta

7 Oktober 2026 - 18:49 WIB

Pelindo Mengajar, Ajak Siswa SMKN 1 Mempawah Mengenal Dunia Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 18:32 WIB

Perempuan Aceh Bicara di Jakarta, Rumuskan Peta Jalan Kepemimpinan Perempuan Aceh 2045

7 Oktober 2026 - 18:20 WIB

Trending di RAGAM