Menu

Mode Gelap
Fikar W Eda Baca Puisi di Aara Silaturahmi Kebangsaan Menyongsong 5 Abad Jakarta dan 81 Tahun Kemerdekaan RI SETARA Institute Soroti Independensi Penanganan Perkara Mantan Jampidsus Generasi Muda Harus Jadi Motor Transformasi Energi Nasional Kemenhub Catat hingga Agustus, 74,57% Kendaraan Angkutan Barang Patuhi Aturan KNG Raya Cabang Bogor Hadiri Raker 2026, Perkuat Program untuk Kemajuan Koperasi Transjakarta bakal Kelola Jalur Laut 2027

EKOBIS

PT PAL Bangun 2 Kapal Selam Scorpène Senilai Rp34,6 Triliun

badge-check


 Kapal Selam Perbesar

Kapal Selam

Wartatrans.com, JAKARTA – Indonesia mulai membangun kapal selam Scorpène Evolved di dalam negeri. First Steel Cutting di PT PAL Indonesia, Surabaya, Jumat (7/8/2026), menandai babak baru industri pertahanan sekaligus menguji apakah transfer teknologi dari Prancis dapat berubah menjadi kemampuan industri nasional.

Proyek senilai RpRp34,6 triliun merupakan kerja sama PT PAL dengan Naval Group, perusahaan pertahanan dan galangan kapal milik negara Prancis yang mengembangkan kapal perang dan kapal selam.

Kontrak pembangunan dua Scorpène Evolved Full Lithium-Ion Battery tersebut efektif pada 23 Juli 2025, setelah sebelumnya ditandatangani pada 2024.

Nilai kontrak resmi memang tidak diumumkan Naval Group. Namun, sejumlah laporan memperkirakan nilai program dua kapal tersebut sekitar US$2,1 miliar, atau sekitar Rp34,6 triliun dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS.

Angka itu merupakan estimasi nilai paket program, bukan harga resmi satu kapal.

Skala tersebut membuat proyek Scorpène bukan sekadar pengadaan alutsista. Ada nilai ekonomi yang dipertaruhkan dalam pembangunan fasilitas, penguasaan teknologi, peningkatan kompetensi engineer dan pengembangan rantai pasok industri pertahanan Indonesia.

Gambaran kerja samanya juga bukan sekadar Naval Group memasok desain lalu PT PAL mengerjakan konstruksi. Program mencakup transfer know-how, peningkatan kompetensi engineer, integrasi peralatan hingga pengujian.

Naval Group sebelumnya menyatakan, sekitar 50 tenaga ahlinya disiapkan untuk melatih lebih dari 400 engineer Indonesia.

Dari program tersebut, 29 teknisi PT PAL telah menjalani pelatihan langsung di Naval Group, Prancis.

Angka itu menjadi indikator konkret bahwa transfer teknologi diarahkan untuk membangun kemampuan manusia, bukan hanya memindahkan lokasi produksi.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan progres pembangunan telah mencapai sekitar 20,5 persen. Konstruksi ditargetkan berlangsung 96 bulan atau sekitar delapan tahun.

“Alhamdulillah berjalan lancar dan pembangunan kapal selam ini akan berlangsung selama 96 bulan, kurang lebih delapan tahun,” kata Ali di Surabaya, Jumat (7/8/2026).

Scorpène yang dipilih Indonesia merupakan kapal selam serang konvensional, bukan kapal selam nuklir. Kapal menggunakan sistem baterai lithium-ion dan dirancang untuk misi perang antarkapal permukaan, antikapal selam, operasi khusus serta intelijen.

Ali mengatakan Scorpène yang dibangun merupakan generasi terbaru dengan kemampuan menyelam lebih lama dan lebih dalam.

“Selain torpedo, ia dilengkapi juga dengan peluru kendali. Ini merupakan hal yang baru mungkin bagi kita untuk menembakkan peluru kendali dari bawah air,” ujarnya.

Bagi PT PAL, proyek tersebut memiliki sasaran lebih panjang daripada penambahan dua kapal selam. Direktur Utama PT PAL Kaharuddin Djenod mengatakan First Steel Cutting menunjukkan konsorsium dengan Naval Group berjalan baik.

“First steel cutting ini juga menunjukkan bagaimana konsorsium kerja sama antara Naval Group dan PT PAL Indonesia berlangsung dengan sangat baik,” kata Djenod, pada kesempatan yang sama.

“Tidak hanya terkait pembangunan alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga menjadi sarana transfer teknologi antara Indonesia dan Prancis,” jelas Djenod.

Namun, membangun kapal selam di Indonesia belum otomatis berarti seluruh rantai produksinya mandiri. Tantangan berikutnya adalah memastikan engineer, pemasok domestik, fasilitas, integrasi sistem, pengujian dan kemampuan pemeliharaan benar-benar menjadi kapasitas nasional.

Dengan progres 20,5 persen, ujian baru dimulai. Rp34,6 triliun bukan hanya nilai sebuah program kapal selam, tetapi taruhan apakah Indonesia mampu mengubah pembelian teknologi menjadi kemampuan industri yang bertahan setelah proyek selesai. (Artha Tidar)

Baca Lainnya

Ajinomoto Kuasai Material Chip Dunia

9 Agustus 2026 - 18:54 WIB

Mantap, Pelanggan Ferizy Tembus 4 Juta, Digitalisasi ASDP Perkuat Layanan

9 Agustus 2026 - 18:46 WIB

Pemberdayaan PNM Bikin Ekonomi Warga Mengare Makin Berdaya

9 Agustus 2026 - 14:00 WIB

Perumnas Bangun Rusun Subsidi Kemayoran 609 Unit

9 Agustus 2026 - 07:10 WIB

AI dan Diagnostik Presisi Pacu Industri Teknologi Kesehatan

8 Agustus 2026 - 06:07 WIB

PTP Nonpetikemas Raih Pengakuan ISRA 2026 Kategori Sustainability Report

7 Agustus 2026 - 17:51 WIB

Semester I-2026, MR D.I.Y. Cetak Laba Rp590,7 Miliar

7 Agustus 2026 - 15:57 WIB

Berkembangnya AI Pacu Kebutuhan Data Center

7 Agustus 2026 - 06:10 WIB

Mantap, PTP Nonpetikemas Sabet 2 Penghargaan di PR Awards 2026

6 Agustus 2026 - 20:07 WIB

PTPN I Perkuat Branding Hasil Produk Olahan

6 Agustus 2026 - 16:11 WIB

Trending di EKOBIS