Menu ✖

Mode Gelap
Suyudi Ario Seto Disetujui DPR Jadi Kapolri, Gantikan Listyo Sigit Kebun Hantu, Menyusuri Arsip Tubuh dan Pengalaman yang Tak Selesai AI Mengubah Wajah Demokrasi, Akademisi: Verifikasi Jadi Senjata Publik Tanam 10 Pala Tomandin di SMA Don Bosco Fakfak, Siswa Belajar Ketangguhan di Tengah El Nino KAI Services Perkuat Layanan Premium di Balik Perjalanan Nusantara Explorer KKP Percepat Sertifikasi Awak Kapal Perikanan melalui Modernisasi Pelatihan

SENI BUDAYA

Putra Gara, Salman Yoga dan Neno Warisman Bahas Masa Depan Sastra Lisan Gayo di FIB UI Bersama Prof. Lily

badge-check


 Putra Gara, Salman Yoga dan Neno Warisman Bahas Masa Depan Sastra Lisan Gayo di FIB UI Bersama Prof. Lily Perbesar

Wartatrans.com, DEPOK — Upaya menjadikan kearifan lokal sebagai bagian dari agenda pemajuan kebudayaan menjadi salah satu pokok pembahasan dalam diskusi yang berlangsung di ruang Prof. Lily Tjahjandari, S.S., M.Hum., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia, Senin (10/08/2026).

Diskusi tersebut mempertemukan seniman Gayo Putra Gara, budayawan dan akademisi Salman Yoga S., serta Neno Warisman, Team Ahli Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.

Pertemuan itu menjadi ruang dialog antara dunia akademik, pelaku seni dan budaya, serta pemerintah untuk membicarakan bagaimana kekayaan budaya lokal dapat terus dihidupkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Salah satu isu yang mengemuka adalah penguatan sastra lisan, khususnya tradisi Didong sebagai bagian penting dari kekayaan budaya Gayo.

Didong Bukan Sekadar Seni Pertunjukan

Didong selama ini dikenal sebagai seni pertunjukan masyarakat Gayo. Namun, di balik syair, lagu, dan tuturannya, tersimpan kekayaan pengetahuan serta ingatan kolektif masyarakat.

“Didong dapat menjadi medium untuk merekam dan menceritakan kembali sejarah tentang ulama, pejuang, tokoh adat, seniman, pendidik, maupun tokoh masyarakat yang memiliki jasa bagi daerahnya,” ungkap Prof. Lily.

Dengan kekuatan sastra lisan, menurut Prof. Lily – kisah para tokoh tersebut tidak berhenti sebagai catatan masa lalu. Cerita dapat terus dituturkan, dinyanyikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sementara Putra Gara, persoalan pemajuan kebudayaan tidak berhenti pada upaya mempertahankan bentuk tradisi, tetapi bagaimana tradisi tersebut tetap memiliki ruang hidup di tengah perubahan zaman.

“Kita tidak cukup hanya menjaga tradisi. Kita harus memastikan tradisi itu punya penerus, punya ruang untuk berkembang, dan mampu berbicara kepada generasi zamannya,” ungkap Putra Gara yang dikenal sebagai penulis novel-novel sejarah.

Akademisi, Seniman dan Pemerintah Perlu Berkolaborasi

Kehadiran Neno Warisman sebagai Staf Ahli Menteri Kebudayaan RI memberikan perspektif pemerintah dalam diskusi mengenai penguatan tradisi lisan.

Kementerian Kebudayaan sendiri tengah mendorong penguatan tradisi lisan dan budaya bercerita. Dalam program kebudayaan yang dikembangkan pemerintah, tradisi lisan dipandang sebagai bagian dari kekayaan budaya yang perlu terus dihidupkan dan diwariskan.

“Karena itu, kolaborasi antara akademisi, seniman, komunitas budaya, dan pemerintah dinilai menjadi salah satu kunci agar pemajuan kebudayaan tidak berhenti pada dokumentasi,” katanya penuh arti.

Lebih jauh Neno Warisman menambahkan, kampus dapat menjadi ruang kajian dan pengembangan pengetahuan, seniman menjadi penggerak kreativitas, komunitas menjadi penjaga tradisi, sementara pemerintah menghadirkan kebijakan dan ekosistem yang memungkinkan kebudayaan berkembang.

Mencari “Young Maestro” dari Generasi Z

Hal lain yang menjadi perhatian dalam diskusi adalah bagaimana membumikan sastra lisan kepada generasi muda.

Gagasan “mencari Young Maestro dari Generasi Z” menjadi tantangan sekaligus peluang.

Generasi Z tidak cukup hanya diperkenalkan pada kebudayaan sebagai warisan masa lalu. Mereka perlu diberi kesempatan untuk menjadi pelaku, pencipta, dan pengembang kebudayaan.

Menurut Salman Yoga, dalam konteks Didong, generasi muda Gayo diharapkan mampu mengenal akar tradisinya, memahami nilai yang terkandung di dalamnya, kemudian membawa tradisi tersebut ke ruang-ruang baru tanpa kehilangan jati dirinya.

“Teknologi digital, media sosial, pendidikan, komunitas kreatif, hingga ruang akademik dapat menjadi jembatan antara tradisi lama dan cara berekspresi generasi baru,” tegas Salman Yoga.

Dari ruang Prof. Lily di FIB UI, pertemuan Putra Gara, Salman Yoga, dan Neno Warisman memperlihatkan bahwa masa depan kebudayaan membutuhkan perjumpaan berbagai pihak.

Tradisi tidak akan hidup hanya karena dilestarikan. Tradisi akan hidup ketika ada generasi yang mengenalinya, mencintainya, menguasainya, dan berani membawanya ke masa depan.

“Dan dari sanalah pencarian “Young Maestro” dari Generasi Z menemukan relevansinya: menemukan anak-anak muda yang bukan hanya mampu mewarisi kebudayaan, tetapi juga mampu membuat kebudayaan itu kembali hidup di zamannya,” pungkas Neno Warisman.*** (Jasa)

Baca Lainnya

Kebun Hantu, Menyusuri Arsip Tubuh dan Pengalaman yang Tak Selesai

1 Oktober 2026 - 10:53 WIB

Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO

1 Oktober 2026 - 03:44 WIB

Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda

1 Oktober 2026 - 03:12 WIB

Rhoma Irama Menangis Saat Menonton Film Lawas, dari Pengabdian ke Perjuangan Dangdut Menuju UNESCO

30 September 2026 - 08:17 WIB

Kolaborasi Addie MS & Twilite Orchestra, Anggun, dan Judika Warnai Perayaan 81 Tahun KAI

30 September 2026 - 07:37 WIB

Mentor Bang Budi dan Lukisan Karya Anak yang Membawa Cerita Aceh Tamiang ke Jakarta

30 September 2026 - 01:37 WIB

Bupati Aceh Tamiang Dorong Terapi Melukis untuk Pulihkan Trauma Anak Korban Bencana

29 September 2026 - 19:34 WIB

Ekraf Peduli Hadirkan Karya Anak Korban Bencana Sumatra, Pemerintah Dorong Pemulihan Lewat Seni

29 September 2026 - 18:39 WIB

Dianna Dee Full Jadwal Show, Sempatkan Cover Lagu di YouTube, 1 Minggu Tembus Setengah Juta Views

29 September 2026 - 17:10 WIB

HUT ke 81, KAI Daop 4 Semarang Menggelar Acara Baca Puisi Antar Negara

29 September 2026 - 09:44 WIB

Trending di RAGAM