Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Sejumlah organisasi relawan dan civil society organization (CSO) di Aceh Tengah membentuk Aliansi Relawan Aceh Tengah (ARA) sebagai wadah koordinasi bersama dalam mengawal penanganan pascabencana, khususnya pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Pembentukan aliansi ini disepakati dalam pertemuan diskusi relawan yang digelar pada Minggu, 18 Januari 2026, di Posko Relawan Peduli Negeri.
Pertemuan tersebut dihadiri tujuh simpul relawan yang selama ini aktif dalam penanganan kebencanaan di wilayah Aceh Tengah, antara lain Relawan Peduli Negeri (RPN), Posko Kolaborasi, Posko Rakyat, Relawan Pemuda Gayo, Posko GMNI, Posko Galasantara, dan Posko Save Gayo.

Diskusi menyoroti sejumlah persoalan krusial, mulai dari distribusi logistik yang dinilai tumpang tindih, lemahnya pengawasan dan mekanisme pengendalian bantuan, hingga persoalan akses kebutuhan dasar masyarakat di wilayah terisolir, termasuk kelangkaan minyak. Para relawan juga mencatat banyak posko di daerah pelosok yang kini tidak lagi terarah dan berjalan tanpa koordinasi yang jelas.
Selain itu, relawan mendorong pemerintah agar lebih serius mengondisikan pemulihan kesehatan korban di tingkat komunitas. Mereka juga menekankan pentingnya pelibatan relawan lokal dalam pembentukan satuan tugas (satgas) rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk dalam program reboisasi, pelatihan keterampilan, dan penguatan ekonomi masyarakat terdampak.
Dalam forum tersebut, disepakati pula perlunya pembentukan Media Center oleh pemerintah guna memastikan keterbukaan informasi dan pelaporan kebencanaan yang terkoordinasi. Relawan juga mencatat struktur satgas nasional, yakni Satgas Galapana yang dipimpin Dasco sebagai unit monitoring dan pelaporan, serta Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi yang diketuai Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.
Sebagai tindak lanjut, ARA berencana menyurati dan meminta audiensi dengan Ketua Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi guna menyampaikan langsung hasil pantauan dan rekomendasi relawan di lapangan.
Koordinator ARA, Yunadi HR, mengatakan aliansi ini bersifat terbuka dan mengajak seluruh relawan di Aceh Tengah untuk bergabung dalam satu wadah bersama. “Aliansi ini dibentuk untuk menyatukan langkah relawan serta menjadi ruang bersama dalam menyuarakan langkah-langkah taktis dan strategis, baik yang telah dilaksanakan maupun yang direncanakan ke depan,” ujar Yunadi.
Menurut Yunadi, keberadaan ARA diharapkan dapat memperkuat koordinasi lintas relawan sekaligus menjadi mitra kritis pemerintah agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan tepat sasaran, berkelanjutan, dan berpihak pada kebutuhan korban.*** (Jasa)
























