Menu

Mode Gelap
Gelar RUPST, Garuda Indonesia Perkuat Fokus Transformasi Jumlah Penumpang Garuda Indonesia Group Tumbuh 6,76% di Kuartal I-2026 BKKP dan UPP Indramayu Dorong Penerapan K3 dan MCU Berkala bagi Stakeholder Pelabuhan KAI Commuter Tambah 4 Perjalanan Yogyakarta–Palur Selama Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus KAI Layani 196 Ribu Penumpang pada Hari Pertama Long Weekend Kenaikan Yesus Kristus MAA Jakarta Surati Menag soal Penggunaan Atribut Adat Aceh dalam Ucapan Keagamaan

KABIN

Risiko Kenaikan Harga Avtur, Tekan Kinerja Maskapai

badge-check


 Pesawat udara di Bandara (dok) Perbesar

Pesawat udara di Bandara (dok)

Wartatrans.com, JAKARTA – Potensi kenaikan harga avtur pasca-periode Lebaran diperkirakan akan kembali menekan kinerja industri penerbangan nasional?

Ketidakpastian harga energi global, terutama dampak dinamika geopolitik di Timur Tengah, menjadi faktor utama mendorong volatilitas biaya operasional maskapai.

Pengamat penerbangan Gatot Rahardjo menilai, maskapai perlu meningkatkan kewaspadaan melalui penguatan efisiensi operasional yang adaptif dan berkelanjutan.

“Upaya efisiensi semata tidak akan cukup tanpa dukungan kebijakan yang responsif dari regulator,” tutur Gatot, Rabu (25/3/2026).

Menurutnya, industri saat ini tengah berada dalam fase rentan, di mana sebagian maskapai masih mencatatkan kinerja keuangan yang tertekan sepanjang tahun 2025.

Kondisi tersebut berpotensi memicu efek domino bila tekanan biaya khususnya dari avtur tidak diantisipasi secara komprehensif.

“Efisiensi operasional memang menjadi keharusan, namun dukungan regulator juga sangat krusial agar industri tetap memiliki ruang untuk bertahan dan tumbuh. Tanpa itu, risiko tekanan lanjutan terhadap kinerja maskapai akan semakin besar,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan, agar maskapai tidak terlena dengan adanya penyesuaian harga avtur domestik selama periode Lebaran.

Mulai 1 April 2026, harga bahan bakar avtur ini diproyeksikan kembali meningkat mengikuti tren global.

Gatot menilai, diperlukan sinergi antara pelaku industri dan regulator, termasuk dalam menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis maskapai dan keterjangkauan tarif bagi masyarakat.

“Tanpa langkah antisipatif yang terkoordinasi, kenaikan harga avtur dikhawatirkan akan berdampak lebih luas terhadap stabilitas industri penerbangan nasional,” tutupnya. (omy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Gelar RUPST, Garuda Indonesia Perkuat Fokus Transformasi

14 Mei 2026 - 12:43 WIB

Jumlah Penumpang Garuda Indonesia Group Tumbuh 6,76% di Kuartal I-2026

14 Mei 2026 - 12:36 WIB

Pengamat: Usia Pesawat Bukan Penentu Keandalan dan Keselamatan

14 Mei 2026 - 11:01 WIB

AirNav–CAAS Bahas Penguatan Kolaborasi Pengelolaan Lalu Lintas Udara Asia Pasifik

8 Mei 2026 - 17:29 WIB

PPI Curug Ajak Stakeholder Tingkatkan Keselamatan Operasi Helikopter

7 Mei 2026 - 13:37 WIB

Scoot Luncurkan Kampanye “Sambal si Petualang”, Angkat Budaya Kuliner Indonesia Lewat Aksesori Perjalanan

7 Mei 2026 - 12:57 WIB

Pelita Air Hadirkan Produk UMKM di Atas Pesawat

5 Mei 2026 - 18:08 WIB

INACA Minta Revisi Fuel Surcharge dan TBA Disesuaikan Kenaikan Avtur juga Kurs USD

5 Mei 2026 - 11:28 WIB

AirNav Indonesia Pimpin Task Force ICAO di Asia Pasifik

4 Mei 2026 - 12:15 WIB

Kemenhub Perkuat Keamanan Pesawat Udara

2 Mei 2026 - 15:39 WIB

Trending di BANDARA