Menu

Mode Gelap
Security KAI Gagalkan Pencurian Kabel Grounding LRT Jabodebek Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat 3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops Pascagempa, Kemen PU Pastikan Akses dan Kebutuhan Dasar di Labuan Bajo Segera Ditangani Jelang 17 Agustus, 16.913 Tiket Promo KAI Terjual, Pemesanan Long Weekend Capai 706.908 Tiket

KABIN

Risiko Kenaikan Harga Avtur, Tekan Kinerja Maskapai

badge-check


 Pesawat udara di Bandara (dok) Perbesar

Pesawat udara di Bandara (dok)

Wartatrans.com, JAKARTA – Potensi kenaikan harga avtur pasca-periode Lebaran diperkirakan akan kembali menekan kinerja industri penerbangan nasional?

Ketidakpastian harga energi global, terutama dampak dinamika geopolitik di Timur Tengah, menjadi faktor utama mendorong volatilitas biaya operasional maskapai.

Pengamat penerbangan Gatot Rahardjo menilai, maskapai perlu meningkatkan kewaspadaan melalui penguatan efisiensi operasional yang adaptif dan berkelanjutan.

“Upaya efisiensi semata tidak akan cukup tanpa dukungan kebijakan yang responsif dari regulator,” tutur Gatot, Rabu (25/3/2026).

Menurutnya, industri saat ini tengah berada dalam fase rentan, di mana sebagian maskapai masih mencatatkan kinerja keuangan yang tertekan sepanjang tahun 2025.

Kondisi tersebut berpotensi memicu efek domino bila tekanan biaya khususnya dari avtur tidak diantisipasi secara komprehensif.

“Efisiensi operasional memang menjadi keharusan, namun dukungan regulator juga sangat krusial agar industri tetap memiliki ruang untuk bertahan dan tumbuh. Tanpa itu, risiko tekanan lanjutan terhadap kinerja maskapai akan semakin besar,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan, agar maskapai tidak terlena dengan adanya penyesuaian harga avtur domestik selama periode Lebaran.

Mulai 1 April 2026, harga bahan bakar avtur ini diproyeksikan kembali meningkat mengikuti tren global.

Gatot menilai, diperlukan sinergi antara pelaku industri dan regulator, termasuk dalam menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis maskapai dan keterjangkauan tarif bagi masyarakat.

“Tanpa langkah antisipatif yang terkoordinasi, kenaikan harga avtur dikhawatirkan akan berdampak lebih luas terhadap stabilitas industri penerbangan nasional,” tutupnya. (omy)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Dukung Penanganan Gempa NTT, AirNav Pastikan Layanan Navigasi Lancar

16 Agustus 2026 - 14:08 WIB

5 Bandara Terdampak Gempa di Kepulauan Flores NTT

15 Agustus 2026 - 22:25 WIB

Penerbangan Perdana Garuda Indonesia Rute Bali-Bandung-Bali Banjir Penumpang

14 Agustus 2026 - 16:49 WIB

Bandara Husein Sastranegara Bersiap Penuh Layani Pesawat Boeing 737-800

13 Agustus 2026 - 21:45 WIB

HUT ke-81 RI, Pelita Air Tawarkan Diskon Harga Tiket hingga 45%

13 Agustus 2026 - 15:09 WIB

API Banyuwangi Siapkan SDM Penerbangan Berkompeten

12 Agustus 2026 - 16:41 WIB

Garuda Indonesia Sediakan 170.845 Kursi Penerbangan Domestik Gratis bagi Wisman, InJourney Respon Positif

11 Agustus 2026 - 22:08 WIB

Garuda Indonesia Kembali Terbangi Rute Bandung–Bali

7 Agustus 2026 - 13:59 WIB

Mulai 14 Agustus 2026, Bandara Husein Siap Layani Penerbangan Jet

7 Agustus 2026 - 13:42 WIB

Top! Bandara Soekarno-Hatta Tersibuk Kedua di Asia Tenggara

7 Agustus 2026 - 12:23 WIB

Trending di BANDARA