Menu

Mode Gelap
BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan Audi Luncurkan The New Q5 Sportback di Indonesia, Bidik Segmen SUV Premium Rp1,9 Miliar Kejar Cuan Rp100 Triliun, Kemenpora Pangkas 1.440 Pasal untuk Genjot Industri Olahraga InJourney Airports Kebut Persiapan Optimalisasi Bandara Husein Sastranegara Layanan Perdana Umrah di Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta Berjalan Lancar

KABIN

Risiko Kenaikan Harga Avtur, Tekan Kinerja Maskapai

badge-check


 Pesawat udara di Bandara (dok) Perbesar

Pesawat udara di Bandara (dok)

Wartatrans.com, JAKARTA – Potensi kenaikan harga avtur pasca-periode Lebaran diperkirakan akan kembali menekan kinerja industri penerbangan nasional?

Ketidakpastian harga energi global, terutama dampak dinamika geopolitik di Timur Tengah, menjadi faktor utama mendorong volatilitas biaya operasional maskapai.

Pengamat penerbangan Gatot Rahardjo menilai, maskapai perlu meningkatkan kewaspadaan melalui penguatan efisiensi operasional yang adaptif dan berkelanjutan.

“Upaya efisiensi semata tidak akan cukup tanpa dukungan kebijakan yang responsif dari regulator,” tutur Gatot, Rabu (25/3/2026).

Menurutnya, industri saat ini tengah berada dalam fase rentan, di mana sebagian maskapai masih mencatatkan kinerja keuangan yang tertekan sepanjang tahun 2025.

Kondisi tersebut berpotensi memicu efek domino bila tekanan biaya khususnya dari avtur tidak diantisipasi secara komprehensif.

“Efisiensi operasional memang menjadi keharusan, namun dukungan regulator juga sangat krusial agar industri tetap memiliki ruang untuk bertahan dan tumbuh. Tanpa itu, risiko tekanan lanjutan terhadap kinerja maskapai akan semakin besar,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan, agar maskapai tidak terlena dengan adanya penyesuaian harga avtur domestik selama periode Lebaran.

Mulai 1 April 2026, harga bahan bakar avtur ini diproyeksikan kembali meningkat mengikuti tren global.

Gatot menilai, diperlukan sinergi antara pelaku industri dan regulator, termasuk dalam menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis maskapai dan keterjangkauan tarif bagi masyarakat.

“Tanpa langkah antisipatif yang terkoordinasi, kenaikan harga avtur dikhawatirkan akan berdampak lebih luas terhadap stabilitas industri penerbangan nasional,” tutupnya. (omy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

InJourney Airports Kebut Persiapan Optimalisasi Bandara Husein Sastranegara

2 Juli 2026 - 21:04 WIB

Insiden Pesawat Perintis PK-RCY di Balinggama, Papua Pegunungan, Pilot Meninggal Dunia

2 Juli 2026 - 16:21 WIB

Citilink Buka 5 Rute Baru Hubungkan Kalimantan, Yogya, dan Batam

1 Juli 2026 - 14:43 WIB

Kemenhub Dorong Percepatan Persiapan Reaktivasi Bandara Husein Bandung

1 Juli 2026 - 09:06 WIB

Buka Munas IABI, Dirjen Hubud Tekankan Pentingnya Penguatan SDM Ahli Bandar Udara

28 Juni 2026 - 15:32 WIB

Kemenhub Siapkan Formula Baru Tarif Tiket Pesawat, Berlaku Saat Harga Avtur Stabil

27 Juni 2026 - 08:56 WIB

3 Maskapai Siap Terbangkan Jemaah Umrah dari Terminal 2F Bandara Soetta, 1 Juli

27 Juni 2026 - 05:11 WIB

Citilink dan Amar Bank Kolaborasi Strategis

23 Juni 2026 - 16:44 WIB

Selain Ada Stimulus Transportasi Libur Sekolah, Pemerintah juga Siapkan untuk Nataru

23 Juni 2026 - 12:33 WIB

Permintaan Terbang Meningkat, AirAsia Siapkan Pemulihan Penuh

23 Juni 2026 - 07:05 WIB

Trending di EKOBIS