Wartatrans.com, JAKARTA — Menjelang peringatan lima abad Jakarta pada 2027, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mempersiapkan berbagai langkah untuk memperkuat daya tarik ibu kota sebagai kota global. Salah satunya melalui rencana pengembangan sejumlah kawasan dengan karakter budaya internasional.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, dalam keterangannya di Balai Kota Jakarta, Senin (12/10/2026), menyampaikan rencana penataan kawasan Pasar Baru dengan nuansa Korea dan Blok M dengan sentuhan budaya Jepang.
Sementara itu, kawasan Kota Tua tetap mempertahankan karakter arsitektur dan sejarah Eropa, sedangkan Glodok dikembangkan dengan kekhasan budaya Pecinan yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Jakarta.
Rencana pengembangan kawasan tersebut ditargetkan berlangsung secara bertahap hingga 2030.
Gagasan ini membuka ruang diskusi mengenai masa depan Jakarta sebagai kota metropolitan yang memiliki keberagaman budaya sekaligus identitas sejarah yang kuat.
Sastrawan dan budayawan Betawi, Chairil Gibran Ramadhan (CGR), menyambut momentum tersebut dengan mengajak pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap penguatan sejarah dan kebudayaan Betawi sebagai bagian penting dari identitas Jakarta.
Ditemui di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Selasa (13/10/2026), Chairil menilai peringatan lima abad Jakarta merupakan kesempatan berharga untuk memperkenalkan kembali kekayaan sejarah dan budaya lokal kepada masyarakat luas.
Menurutnya, pengembangan kawasan bercorak internasional dapat berjalan beriringan dengan upaya pelestarian warisan budaya yang telah membentuk karakter Jakarta selama berabad-abad.
“Menyambut lima abad Jakarta, penguatan nuansa sejarah dan budaya Betawi, Batavia, dan Jakarta semestinya menjadi bagian penting dalam pembangunan wajah kota,” ujar Chairil.
Alumnus Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta tersebut menilai kawasan Kota Tua dan Glodok merupakan contoh bagaimana keberagaman budaya telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Jakarta.
Kawasan Kota Tua menyimpan jejak perkembangan Batavia pada masa kolonial, sementara Glodok mencerminkan perjalanan panjang masyarakat Tionghoa yang turut membentuk kehidupan sosial, ekonomi, dan kebudayaan Jakarta.
Menurut Chairil, karakter historis kedua kawasan tersebut layak terus diperkuat sebagai bagian dari kekayaan wisata sejarah dan budaya ibu kota.
Budaya Betawi sebagai Identitas Kota Global
Chairil berpandangan bahwa transformasi Jakarta menuju kota global akan semakin bermakna apabila disertai penguatan identitas budaya masyarakat aslinya.
Budaya Betawi, menurutnya, memiliki kekayaan yang dapat dikembangkan melalui berbagai pendekatan, mulai dari arsitektur, kesenian, sastra, kuliner, bahasa, hingga penataan kawasan berbasis sejarah.
Pengembangan tersebut juga berpotensi menghadirkan ruang ekonomi kreatif baru bagi seniman, pelaku budaya, dan masyarakat lokal.
Sebagai penulis dan peneliti yang banyak mengangkat sejarah serta kebudayaan Betawi, Batavia, dan Jakarta, Chairil melihat masih banyak kawasan bersejarah yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya dan edukasi.
Pendiri Penerbit Padasan, Betawi Institute, dan Poestaka Betawi ini juga menekankan pentingnya keterlibatan budayawan, sejarawan, akademisi, serta masyarakat dalam merumuskan konsep pengembangan kawasan.
Chairil, yang juga menjabat Pemimpin Redaksi Stamboel: Journal of Betawi Socio-Cultural Studies, telah menghasilkan sejumlah karya yang menjadi bagian dari koleksi perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.
Pengalaman panjangnya dalam penelitian kebudayaan menjadi dasar pandangannya bahwa sejarah lokal memiliki nilai strategis dalam membangun karakter sebuah kota.
Lima Abad Jakarta, Momentum Mempertemukan Budaya Lokal dan Global
Peringatan 500 tahun Jakarta pada 2027 menjadi momentum penting untuk menegaskan posisi Jakarta sebagai kota yang terbuka terhadap perkembangan dunia tanpa meninggalkan akar sejarahnya.
Keberadaan kawasan bercorak internasional dapat menjadi daya tarik wisata, sementara penguatan budaya Betawi memberikan identitas khas yang membedakan Jakarta dari kota-kota besar lainnya.
Dalam konteks tersebut, gagasan pengembangan kawasan budaya diharapkan tidak hanya berorientasi pada perubahan tampilan fisik, tetapi juga mampu menghadirkan ruang edukasi sejarah, pelestarian tradisi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Chairil berharap momentum lima abad Jakarta dapat melahirkan berbagai program kebudayaan yang berkelanjutan, termasuk pengembangan kawasan bersejarah dan penguatan ruang ekspresi bagi masyarakat Betawi.
Dengan memadukan kekayaan sejarah, keberagaman budaya, dan perkembangan modern, Jakarta memiliki peluang memperkuat posisinya sebagai kota global yang tetap memiliki karakter lokal.
Sebab, menjadi kota dunia bukan berarti meninggalkan akar budaya, melainkan menjadikan identitas sejarah dan tradisi sebagai kekuatan untuk menyambut masa depan.*** (Daus)






















