Menu

Mode Gelap
Wisatawan Asing Makin Gemar Naik Kereta, KAI Layani 308 Ribu Penumpang Mancanegara pada Semester I 2026 Walikota Langsa Rombak Kabinet Secara Besar besaran  Diskusi Seni Ruang Publik Soroti Minimnya Regulasi dan Pentingnya Budaya sebagai Identitas Kota 38 Persen Transaksi QRIS Nasional Terpusat di Jakarta, Jadi Motor Ekonomi Sekaligus Sinyal Ketimpangan Digital 35 Negara dan Indonesia Adopsi Registrasi Biometrik, Pengamat: Tak Kebal Penipuan Bayi Ditemukan di Toilet KA Sancaka, KAI Daop 6 dan KAI Services Bergerak Cepat Lakukan Penanganan

PERON

Stasiun Plabuan: Eksotisme Rel Kereta di Tepi Laut Jawa

badge-check


 Stasiun Plabuan: Eksotisme Rel Kereta di Tepi Laut Jawa Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Jika biasanya stasiun identik dengan pemandangan pegunungan atau hiruk pikuk kota, Stasiun Plabuan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah justru menawarkan suasana berbeda.

Berada hanya 4 meter di atas permukaan laut (mdpl), stasiun ini menyandang status unik sebagai satu-satunya stasiun aktif yang berlokasi tepat di tepi pantai.

Vice President Public Relations KAI Anne Purba menyebut eksotisme Stasiun Plabuan sebagai bagian dari cerita menarik yang selalu dimiliki oleh perjalanan kereta api.

“Stasiun Plabuan cukup istimewa. Posisinya berada di bawah bukit dan langsung berbatasan dengan Laut Jawa yang menawarkan panorama yang luar biasa bagi setiap penumpang yang melintas,” ujar Anne, Sabtu (8/11/2025).

Sejarah Stasiun Plabuan bermula jauh sebelum pemandangan lautnya yang menawan menjadi daya tarik utama. Stasiun ini pertama kali dibuka pada tahun 1898 dengan fungsi yang sederhana, yakni sebagai tempat pengisian air untuk lokomotif uap.

Pada masa itu, bangunan awalnya hanya hanyalah struktur sederhana yang terbuat dari kayu jati, tipe stasiunnya merupakan tipe ‘stopplaats’, istilah bahasa Belanda untuk perhentian kecil atau halte kereta api sederhana, yang kelasnya berada di bawah ‘halte’.

Baru antara tahun 1911 hinga 1912, stasiun ini direnovasi besar-besaran. Bangunan diubah menjadi struktur permanen berupa tembok batu dan ditambahkan jalur untuk keperluan persilangan kereta api.

Keunikan Plabuan ada pada pemandangan yang indah serta adanya cerita lokal yang menarik. Di dekat Stasiun Plabuan terdapat sumur air tawar yang lokasinya sangat dekat dengan bibir pantai. Sumber air atau sumur di dekat pantai ini airnya tidak asin, dan dipercaya membawa berkah dan biasanya menjadi konsumsi pengunjung. Ini menambah daya tarik tersendiri bagi Stasiun Plabuan.

Hal menarik lainnya yaitu, kawasan sekitar kini juga mulai berkembang dengan adanya kawasan kuliner seafood yang memanfaatkan keindahan pemandangan laut.

Meskipun saat ini Stasiun Plabuan tidak melayani angkutan penumpang maupun angkutan barang, penumpang tetap bisa menikmati pemandangan indah laut Jawa secara langsung dari balik jendela kereta saat melintas. Ada 96 KA yang melintas setiap harinya, dan ketika kereta api melintas Stasiun Plabuan, kondektur akan mengumumkan kepada penumpang sehingga para penumpang tak perlu khawatir terlewatkan momen menyaksikan pemandangan indah ini.

Selain itu, Stasiun Plabuan juga masih dimanfaatkan untuk program penyusulan, sehingga ada KA yang berhenti menunggu untuk disusul KA lainnya.

Stasiun Plabuan dahulu juga pernah menjadi saksi bisu angkutan logistik, di mana pada zaman dahulu stasiun ini digunakan sebagai jalur angkutan hasil PT Perkebunan Nusantara (PTPN) yang dikirim menuju Cirebon. Pada 2014 ada satu kereta api yang dijadwalkan berhenti di Stasiun Plabuan, yaitu KA Pekalongan Ekspres (Semarang Tawang – Pekalongan PP). KA Pekalongan Ekspres dirilis untuk membawa penumpang KA Kaligung (Semarang – Tegal PP) yang kehabisan tiket dengan memanfaatkan rangkaian KA Kamandaka (Semarang-Purwokerto PP) yang menganggur pada saat itu.

Namun, sejak jadwal KA Kamandaka ditambah, layanan perjalanan KA Pekalongan Ekspres dihentikan, sehingga menjadikan Stasiun Plabuan tak melayani perjalanan KA penumpang manapun.

Kini, dengan adanya pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang atau Kawasan Industri Terpadu Batang/KITB di dekat lokasi stasiun, akses menuju Plabuan semakin mudah. Keberadaan kawasan industri ini membuka potensi baru. Kedekatan lokasi dengan stasiun Ini menjadi modal penting dalam integrasi jaringan kereta api nasional dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi utama.

“Selalu ada cerita menarik saat kita naik kereta api. Melewati Stasiun Plabuan adalah salah satu momen yang paling berkesan, di mana eksotisme alam dan sejarah perkeretaapian bersatu di tepi Laut Jawa,” tutup Anne.(****)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Wisatawan Asing Makin Gemar Naik Kereta, KAI Layani 308 Ribu Penumpang Mancanegara pada Semester I 2026

5 Juli 2026 - 09:09 WIB

Bayi Ditemukan di Toilet KA Sancaka, KAI Daop 6 dan KAI Services Bergerak Cepat Lakukan Penanganan

4 Juli 2026 - 19:26 WIB

Konektivitas Kereta dan Pelabuhan Makin Diminati, Tiga Stasiun KAI Layani 3,88 Juta Pelanggan Semester I 2026

4 Juli 2026 - 17:51 WIB

Divre III Palembang Hadirkan Rangkaian Kereta Ekonomi Premium pada KA Rajabasa, Perjalanan Kini Semakin Nyaman

4 Juli 2026 - 16:12 WIB

Semester I 2026, KAI Group Layani Hampir 259 Juta Pelanggan, Naik 7,55 Persen

4 Juli 2026 - 15:18 WIB

Stasiun Bogor Tertinggi Layani Penumpang KRL Semester I 2026, KAI Kebut Pengembangan Peron untuk 12 Kereta

4 Juli 2026 - 09:41 WIB

Ramainya WNA Naik Whoosh Sepanjang 2026, Malaysia Jadi Penumpang Terbanyak

3 Juli 2026 - 19:58 WIB

HUT ke-23, KAI Services Tegaskan Komitmen Perkuat Layanan dan Keamanan Pangan Lewat Sertifikasi ISO 22000

3 Juli 2026 - 19:34 WIB

KAI Sulap Stasiun Gambir Jadi Modern Station & Lifestyle Hub, Siap Jadi Ruang Publik dan Pusat Aktivitas Baru di Jakarta

3 Juli 2026 - 16:56 WIB

KAI Wisata Siapkan Revitalisasi Wisata Heritage, Stasiun Jakarta Kota Jadi Langkah Awal

3 Juli 2026 - 07:33 WIB

Trending di PERON