Menu

Mode Gelap
KAI Lanjutkan Pendampingan Korban Insiden Bekasi Timur, 17 Pelanggan Masih Dirawat Perkuat Standar Layanan dan Keselamatan Secara Berkelanjutan, DAMRI Tingkatkan Kompetensi Pengemudi di Berbagai Layanan Kemenhub Teken 2 Perjanjian Konsesi Strategis dengan PT Pelindo Dukung Kelancaran Logistik Wilayah, PTP Nonpetikemas Cabang Jambi Perkuat Peran ASDP Ramaikan Forum Inabuyer 2026, Dorong UMKM Naik Kelas Pojok Baca Edukasi Polsek Kalibaru: Menumbuhkan Minat Baca dan Kepedulian Gizi Anak Sejak Dini

Uncategorized

Syekh Atharid, Ulama Bogor yang Disegani di Makkah

badge-check


 Syekh Atharid, Ulama Bogor yang Disegani di Makkah Perbesar

Wartatrans.com, BOGOR — Di lorong-lorong sejarah Islam Nusantara, ada nama-nama yang nyaris tak bersuara di tanah kelahirannya, tetapi bergema jauh di pusat peradaban dunia. Salah satunya adalah Syekh Haji Raden Muhammad Mukhtar bin ‘Atharid al-Bughuri al-Batawi al-Jawi al-Makki—atau lebih dikenal di Tanah Suci sebagai Syekh Atharid.

Nama itu jarang dijumpai dalam buku-buku sejarah Indonesia. Tak banyak pula monumen ingatan yang menandainya. Namun di Makkah, pada masanya, Syekh Atharid adalah sosok yang dihormati: seorang alim, bangsawan, sekaligus umara’ yang disegani. Ia menjadi bukti bahwa ulama Nusantara pernah berdiri sejajar dalam jaringan keilmuan Islam internasional.

Syekh Atharid lahir di tanah Sunda dengan nama Raden Muhammad Mukhtar bin Raden Natanagara, berasal dari garis bangsawan Bogor. Status kebangsawanan itu, bagaimanapun, tidak menjadikannya hidup dalam kemewahan atau jarak sosial. Seperti banyak ulama besar lainnya, ia justru memilih jalan asketis—menjauh dari kenyamanan, mendekat pada ilmu.

Perjalanannya membawanya jauh dari Bogor menuju Makkah, pusat keilmuan Islam pada abad ke-19. Di sana, ia bukan sekadar pendatang dari Jawa, bukan pula peziarah yang singgah sementara. Syekh Atharid menjelma menjadi bagian dari denyut intelektual Haramain. Namanya tercatat dalam literatur Arab sebagai ulama yang tekun belajar, giat mengajar, rajin membaca, dan kuat beramal—empat laku yang dalam tradisi Islam klasik menjadi fondasi kewibawaan seorang alim.

Jejak keilmuannya menunjukkan kesungguhan yang nyaris tak kompromistis. Ia berguru kepada setidaknya 35 ulama, sebuah angka yang bukan sekadar statistik, melainkan penanda keluasan sanad dan kedalaman disiplin. Dalam tradisi ulama Nusantara di Haramain, banyaknya guru mencerminkan keterbukaan pandangan dan kehati-hatian dalam menimba ilmu. Sanad bukan hanya jalur transmisi pengetahuan, melainkan juga jembatan etika dan adab keilmuan.

Ironi justru terasa ketika menoleh ke tanah kelahirannya. Di Bogor—bahkan di Indonesia—nama Tuan Mukhtar Bogor nyaris lenyap dari ingatan kolektif. Tidak ada biografi lengkap dalam literatur nasional. Kisah hidupnya lebih terawat dalam manuskrip dan catatan berbahasa Arab di negeri jauh. Sebuah paradoks yang kerap menimpa ulama Nusantara perantauan: dihormati di pusat dunia Islam, dilupakan di kampung halaman.

Padahal, keberadaan Syekh Atharid memperlihatkan satu hal penting: ulama Nusantara bukan sekadar penonton dalam dinamika keilmuan global. Mereka adalah aktor—pengajar, penulis, dan pemimpin moral—yang ikut membentuk percakapan besar Islam lintas geografis. Dari Bogor ke Makkah, dari bangsawan lokal menjadi ulama internasional, Syekh Atharid menegaskan bahwa ilmu tidak mengenal batas wilayah, dan pengaruh sejati tidak selalu dicatat oleh sejarah nasional.

Kini, nama itu perlahan kembali dipanggil. Bukan sekadar sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai pengingat bahwa Indonesia pernah—dan terus—melahirkan ulama besar yang berdiri sejajar di pusat peradaban Islam dunia. Mengingat Syekh Atharid berarti juga menata ulang ingatan sejarah kita sendiri: bahwa banyak warisan intelektual bangsa ini masih menunggu untuk dikenali, dirawat, dan diceritakan kembali.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

JMSI Sulawesi Tengah Kecam Pernyataan Mantan Direktur RSUD Undata Yang Hina Jurnalis

6 Mei 2026 - 02:35 WIB

Kartunis Dorong Pameran “JAKARTUN” untuk HUT Jakarta ke-499

5 Mei 2026 - 13:46 WIB

Neno Warisman Diharapkan Perkuat Dukungan Negara dalam Pencanangan Bulan Ismail Marzuki

4 Mei 2026 - 11:19 WIB

Pentas Teater “Serat-Serat Cinta” Angkat Keteladanan Maria Walanda Maramis di Manado

2 Mei 2026 - 11:34 WIB

Seniman Bonsai di Era Karya dan Kecerdasan Buatan

1 Mei 2026 - 20:48 WIB

Sosok Kreatif di Balik Sukses Event FORWAN

1 Mei 2026 - 20:27 WIB

KAI Perkuat Pendampingan Korban Insiden Bekasi Timur, Sediakan Layanan Medis, Klaim, dan Trauma Healing

30 April 2026 - 19:26 WIB

Kartini Bukan Kartono Band Tampil Memukau di Diskusi NGOBRAS 2026

29 April 2026 - 21:15 WIB

Pemerintah Pastikan Penanganan dan Dukungan Bagi Korban Insiden KA Bekasi Timur

29 April 2026 - 20:58 WIB

Prabowo ke Banyumas, Helikopter Kepresidenan Memporak Porandakan Lapak Pedagang

29 April 2026 - 04:34 WIB

Trending di RAGAM