Wartatrans.com, JAKARTA – Penutupan GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 pada Sabtu (8/8/2026) menjadi penanda menguatnya arah industri otomotif Indonesia menuju elektrifikasi dan teknologi digital.
Di balik tren itu, kebutuhan semikonduktor meningkat, sementara kemampuan industri nasional menangkap nilai tambah dari rantai pasok chip masih terbatas.

GIIAS 2026 menampilkan kendaraan dengan sistem elektronik yang semakin kompleks. Mobil listrik dan hybrid membutuhkan lebih banyak semikonduktor untuk baterai, inverter, motor listrik, sensor, sistem keselamatan hingga infotainment.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat membuka GIIAS 2026 mengingatkan pentingnya pendalaman industri.
“Transisi yang tidak disertai pendalaman, industri hanya memindahkan ketergantungan dari satu bentuk impor kepada bentuk impor yang lain. Itu bukan transformasi, itu hanya pergantian pemasok,” kata Agus.
Pernyataan tersebut relevan dengan industri semikonduktor. Kementerian Perindustrian mencatat produksi kendaraan bermotor Indonesia mencapai 803.867 unit pada 2025.
Kendaraan listrik dan hybrid membutuhkan semikonduktor hingga tiga kali lebih banyak dibanding kendaraan konvensional. Produksi ponsel nasional juga berada pada kisaran 30–60 juta unit per tahun.
Besarnya kebutuhan belum diikuti kemampuan memasok dari dalam negeri. Data BPS yang dikutip Kemenperin menunjukkan impor semikonduktor naik dari US$2,33 miliar pada 2020 menjadi US$4,87 miliar pada Januari-November 2025, meningkat sekitar 109 persen.
Pemerintah kini membangun ekosistem semikonduktor melalui empat bidang, yakni material, desain chip, fabrikasi atau front end, serta assembly, testing and packaging atau back end. Indonesia telah memiliki fasilitas perakitan dan pengujian yang masuk rantai nilai global serta basis industri elektronik dan otomotif.
Peluang pada material dapat dilihat dari Ajinomoto. Perusahaan Jepang yang dikenal masyarakat Indonesia sebagai produsen penyedap rasa tersebut, kini memiliki bisnis material semikonduktor melalui Ajinomoto Fine-Techno.
Ajinomoto membangun bisnisnya dari penemuan rasa umami, yang kemudian dikomersialkan dalam bentuk monosodium glutamate (MSG).
Perusahaan itu lalu mengembangkan Ajinomoto Build-up Film (ABF), material isolasi untuk substrat kemasan chip, yang digunakan pada semikonduktor berperforma tinggi.
Material ini adalah lapisan penting yang menghubungkan chip, dengan perangkat elektronik melalui ribuan sinyal.
Tanpa ABF, banyak chip paling canggih di dunia tidak bisa diproduksi. Permintaan ABF pun ikut terdorong pertumbuhan server dan komputasi AI.
Indonesia belum memproduksi ABF. Namun, ketika kebutuhan chip pada kendaraan, ponsel dan perangkat digital meningkat, pengalaman Ajinomoto menunjukkan bahwa nilai tambah tidak hanya berada pada prosesor.
Material dan teknologi pengemasan juga dapat menjadi pintu masuk industri.
Bagi Indonesia, tantangannya kini bukan sekadar memenuhi kebutuhan chip, melainkan mengubah pasar domestik yang besar menjadi basis industri yang mampu menangkap sebagian nilai tambah rantai pasok semikonduktor global. (Artha Tidar)
































