Menu

Mode Gelap
Tarif Commuter Line Rp8 Berlaku 17 Agustus, KAI Commuter Siapkan 1.065 Perjalanan Jabodetabek Catatan Iwan Piliang: Ketika Suara Rimba Raya Hendak Dihidupkan Kembali ASDP Dukung Evakuasi dan Penanganan Penumpang KMP Putri Yasmin yang Terbakar Mulai 14 Agustus, KAI Buka Promo Tiket Kereta Diskon 17 Persen untuk HUT RI API Banyuwangi Siapkan SDM Penerbangan Berkompeten Seniman Gayo dan PFN Bahas Rencana Film Radio Rimba Raya, Menghidupkan Kembali Suara Perjuangan dari Tanah Gayo

RAGAM

Catatan Iwan Piliang: Ketika Suara Rimba Raya Hendak Dihidupkan Kembali

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Ketika Suara Rimba Raya Hendak Dihidupkan Kembali Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Ada sejarah yang tersimpan di buku. Ada yang tinggal dalam arsip. Ada pula yang menetap dalam ingatan masyarakat. Tetapi ada sejarah yang sesungguhnya masih memiliki suara.

Radio Rimba Raya adalah salah satunya.

Hari ini, Rabu (12/08/2026) saya menerima sejumlah seniman dan budayawan Gayo di kantor PFN. Fikar W. Eda, Salman Yoga, Putra Gara, Irmansyah, dan Ikmal Husen datang membawa sebuah gagasan: bagaimana kisah Radio Rimba Raya dapat dihidupkan kembali melalui film.

Saya melihat gagasan ini bukan semata-mata sebagai rencana membuat film sejarah. Lebih jauh dari itu, ini adalah upaya menghidupkan kembali sebuah suara dari pedalaman Gayo yang pada satu masa menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan keberadaan Republik Indonesia.

Ketika pusat pemerintahan Republik diguncang agresi Belanda dan dunia berusaha diyakinkan bahwa Republik Indonesia telah berakhir, dari kawasan Rimba Raya muncul suara yang mengatakan sebaliknya.

Republik Indonesia masih ada.

Pesan itu sederhana, tetapi dalam konteks sejarah ketika itu, maknanya luar biasa besar.

Radio Rimba Raya memperlihatkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya berlangsung di medan perang dengan senjata. Ada perjuangan melalui gelombang radio, informasi, diplomasi, komunikasi dan keberanian menyampaikan kebenaran.

Dan menariknya, suara itu datang dari Tanah Gayo. Bagi saya, di sinilah kekuatan cerita ini. Sebuah kawasan yang secara geografis berada jauh dari pusat kekuasaan justru menjadi salah satu titik penting dalam mempertahankan eksistensi sebuah negara.

Pertemuan juga uga memiliki suasana yang berbeda ketika Fikar W. Eda membacakan puisi tentang Radio Rimba Raya.

Puisi membuat sejarah tidak hanya menjadi angka, tanggal dan arsip. Puisi mengembalikan perasaan manusia di balik sebuah peristiwa.

Saya mendengar suara Fikar dan membayangkan kembali sebuah masa ketika orang-orang di tengah rimba berusaha mengirimkan pesan keluar: bahwa Indonesia ketika itu belum mati.

Radio itu mungkin sebuah benda. Tetapi suara yang keluar darinya adalah keberanian. Dan keberanian itulah yang barangkali perlu kita hadirkan kembali dalam film.

Film tidak boleh hanya menjadi rekonstruksi peristiwa. Film harus mampu membuat generasi hari ini merasakan mengapa Radio Rimba Raya penting.

Jika gagasan ini berkembang menjadi film, tantangannya tentu tidak kecil. Kita membutuhkan riset sejarah yang kuat. Arsip harus ditelusuri. Kesaksian dan dokumen perlu dibandingkan. Tokoh-tokoh yang terlibat harus dipetakan. Lanskap Tanah Gayo pada masa itu harus dihidupkan kembali.

Begitu pula konteks geopolitik setelah Proklamasi Kemerdekaan. Sebab Radio Rimba Raya tidak berdiri dalam ruang kosong. Ia muncul di tengah perang, propaganda dan pertarungan informasi yang menentukan masa depan Republik Indonesia.

Karena itu, film ini kelak tidak cukup hanya berbicara tentang radio. Ia harus berbicara tentang manusia. Tentang orang-orang yang percaya bahwa Republik harus tetap ada.

Tentang masyarakat Gayo dan Aceh yang berada di belakang perjuangan tersebut. Tentang sebuah wilayah yang mungkin jauh dari Jakarta, tetapi pada saat tertentu justru berbicara kepada dunia.

Saya kira inilah hal penting yang harus kita jaga. Radio Rimba Raya memang berakar di Tanah Gayo. Tetapi maknanya adalah Indonesia. Sejarah lokal tidak berarti sejarah yang kecil.

Kadang-kadang justru dari tempat yang jauh dari pusat, kita menemukan cerita besar tentang bangsa ini.

Karena itu, bila kelak film Radio Rimba Raya terwujud, saya berharap ia tidak ditempatkan sekadar sebagai film tentang Aceh atau Gayo. Ia adalah film tentang Indonesia.

Tentang bagaimana sebuah bangsa mempertahankan eksistensinya ketika sedang berada dalam tekanan. Tentang bagaimana informasi dapat menjadi senjata.

Tentang bagaimana sebuah suara dari tengah rimba mampu menembus batas geografis dan politik.

Dan tentang bagaimana sejarah yang hampir terlupakan dapat kembali berbicara kepada generasi baru.

Saya membayangkan sebuah adegan sederhana;

Malam di Tanah Gayo.

Hutan.

Udara dingin.

Sebuah perangkat radio menyala.

Kemudian suara keluar menembus gelap.

Suara itu bergerak melalui gelombang udara, meninggalkan rimba, melewati batas-batas wilayah, menuju dunia.

Suara yang mengatakan: Republik Indonesia masih ada. indonesia masih ada.

Barangkali tugas kita hari ini bukan sekadar membuat film. Tugas kita adalah memastikan suara itu tidak hilang.

Agar generasi yang lahir puluhan tahun setelah peristiwa tersebut dapat mengetahui bahwa pernah ada sebuah tempat bernama Rimba Raya, di Tanah Gayo, yang ikut menjaga suara Republik ketika suara itu sedang dipertaruhkan.

Dan hari ini, dari sebuah pertemuan kecil di kantor PFN, kita mencoba memulai kembali perjalanan suara tersebut; Dari Rimba Raya, menuju layar, menuju Indonesia, menuju dunia.***

Baca Lainnya

Seniman Gayo dan PFN Bahas Rencana Film Radio Rimba Raya, Menghidupkan Kembali Suara Perjuangan dari Tanah Gayo

12 Agustus 2026 - 15:01 WIB

Haji Fikri Soroti Promosi Miras Berkedok Tantangan Hafalan Al-Qur’an

12 Agustus 2026 - 13:36 WIB

Satgas PPA Aceh Tengah Resmi Terima Surat Tanggapan Kesbangpol

12 Agustus 2026 - 08:53 WIB

Sambut HUT Ke-81 RI, Pelindo Beri Layanan Kesehatan Gratis bagi 200 Warga Kecamatan Wajo

12 Agustus 2026 - 08:17 WIB

Dukung Tata Kelola dan Keberlangsungan Operasional, TPK Koja Bersama IPC TPK dan JAI Perpanjang MoU dengan Kejari Jakut

12 Agustus 2026 - 07:04 WIB

Kembali Berprestasi, TPK Koja Raih Dua Penghargaan Gold TJSL & CSR Award 2026

12 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Pertamina Patra Niaga Jalin Kerja Sama dengan Dukcapil, Perkuat Ketepatan Penyaluran Subsidi Energi

12 Agustus 2026 - 06:38 WIB

Kepala Pangkalan PLP Tanjung Priok: Sertifikasi Bukan Akhir, Kepatuhan Harus Diwujudkan dalam Operasional

12 Agustus 2026 - 06:25 WIB

1.286 Telur Penyu Diamankan di Sambas, KKP Lakukan Penanganan dan Identifikasi

12 Agustus 2026 - 01:11 WIB

 Pameran Tunggal “My Artistic Soul” Ireng Halimun; Merawat Nyala Seni di Lintasan Zaman

11 Agustus 2026 - 21:27 WIB

Trending di SENI BUDAYA