Wartatrans.com, JAKARTA — Sejumlah seniman dan budayawan Gayo bertemu dengan Direktur Pengembangan Produksi Film Negara (PFN), Iwan Piliang bersama jajarannta; Suranta Brahmana, Head of IFCA PFN, Indonesia film content academi, Arijul, staf Suranta di iFCA, lalu ada anak magang Nisa – di kantor PFN, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Pertemuan tersebut membahas gagasan dan rencana pengembangan film yang mengangkat sejarah perjuangan Radio Rimba Raya, salah satu episode penting dalam sejarah mempertahankan eksistensi Republik Indonesia.

Para seniman Gayo yang hadir adalah Fikar W. Eda, Salman Yoga, Putra Gara, Irmansyah, dan Ikmal Husen. Mereka membawa gagasan agar kisah Radio Rimba Raya tidak berhenti sebagai catatan sejarah, monumen, atau cerita di kalangan masyarakat Aceh dan Gayo, tetapi dapat diangkat menjadi karya film yang mampu menjangkau penonton nasional bahkan internasional.
“Radio Rimba Raya merupakan radio perjuangan yang beroperasi dari kawasan pedalaman Tanah Gayo, Aceh, pada masa agresi militer Belanda. Ketika Belanda menguasai Yogyakarta sebagai ibu kota Republik Indonesia dan berusaha membangun opini kepada dunia bahwa Republik Indonesia telah berakhir, Radio Rimba Raya justru hadir dari pedalaman Aceh membawa pesan sebaliknya: Indonesia masih ada,” ungkap Putra Gara memberi pengantar.

Rapat di PFN.
Lebih jauh Ikmal yang sudah 20 tahun melakukan riset dan mendokumentasikan sejarah Radio Rimba Raya, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mencatat bahwa Radio Rimba Raya memiliki peran penting terhadap kelangsungan pemerintahan Republik Indonesia pascakemerdekaan.
“Dari Dataran Tinggi Tanah Gayo, siaran radio tersebut membantah informasi Belanda yang menyatakan Indonesia sudah tidak ada. ANRI bahkan menyebut arsip Radio Rimba Raya telah diusulkan menjadi bagian dari Memori Kolektif Bangsa,” ungkap Ikmal.
Sejumlah sumber sejarah menyebut siaran Radio Rimba Raya menjangkau wilayah yang luas. Pemerintah Kabupaten Bener Meriah mencatat radio tersebut menggunakan pemancar berkekuatan sekitar satu kilowatt dengan frekuensi 19,25 dan 61 meter, serta menyiarkan pesan perjuangan dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Urdu. Siarannya disebut dapat ditangkap hingga Semenanjung Melayu, Singapura, Saigon, Manila, Australia, bahkan Eropa.
“Kisah inilah yang dinilai memiliki kekuatan dramatik sekaligus nilai kebangsaan yang sangat besar untuk diangkat ke layar lebar,” ungkap Ikmal lagi.
Suasana pertemuan semakin terasa kuat ketika Fikar W. Eda membacakan puisi yang ditulis dan didedikasikan untuk mengenang Radio Rimba Raya.
Pembacaan puisi tersebut menjadi semacam jembatan antara sejarah dan ingatan. Jika radio dahulu menggunakan gelombang udara untuk membawa suara perjuangan dari pedalaman Gayo ke berbagai penjuru dunia, maka puisi Fikar W. Eda membawa kembali suara itu melalui bahasa sastra.
“Radio Rimba Raya bukan sekadar perangkat pemancar atau artefak sejarah. Ia adalah simbol tentang bagaimana sebuah suara dari daerah yang jauh dari pusat kekuasaan mampu menjadi bagian penting dalam mempertahankan keberadaan Republik Indonesia,” jelas Fikar.
Puisi tersebut juga mempertegas bahwa kisah Radio Rimba Raya bukan hanya milik masa lalu. Ia masih relevan untuk dibicarakan hari ini, terutama dalam konteks bagaimana sebuah bangsa mempertahankan kebenaran, identitas dan eksistensinya di tengah perang informasi.
Pembacaan puisi itu sekaligus memberikan warna tersendiri dalam pertemuan para seniman Gayo dengan PFN. Sejarah tidak hanya dibicarakan sebagai data dan arsip, tetapi dihidupkan melalui ekspresi seni.
Sementara Iwan Piliang setelah mendengar paparan para Seniman Gayo ini menyimpulkan, Radio Rimba Raya menjadi menarik bukan semata-mata karena teknologi radionya, melainkan karena pesan yang dibawanya pada saat Republik berada dalam situasi yang sangat kritis.
“Hal ini jadi catatan penting, terutama PFN, ketika pusat pemerintahan Republik diguncang agresi Belanda, suara dari pedalaman Gayo justru menjadi salah satu suara yang memberi tahu dunia bahwa Republik belum berakhir,” ungkap Iwan Piliang.
Sementara Irmansyah menambahkan, pesan yang kemudian melekat dalam ingatan sejarah itu pada intinya menegaskan bahwa Republik Indonesia masih ada karena pemimpin republik masih ada, tentara republik masih ada, pemerintah republik masih ada, wilayah republik masih ada, dan suara itu datang dari Aceh.
“Bagi kami kisah tersebut memiliki relevansi kuat untuk generasi sekarang. Perjuangan Radio Rimba Raya bukan hanya cerita tentang sebuah pemancar radio di tengah belantara, tetapi tentang keberanian, komunikasi, diplomasi, ketahanan informasi, dan upaya mempertahankan identitas sebuah negara ketika eksistensinya sedang dipertaruhkan,” ungkap Irmansyah.

Salah satu sudut PFN
Dalam pertemuan dengan Iwan Piliang beserta jajaran, pembahasan tidak hanya menyangkut produksi film, tetapi juga bagaimana sejarah Radio Rimba Raya dapat diterjemahkan secara sinematik dengan tetap menjaga akurasi sejarah, konteks perjuangan, serta akar budaya Gayo dan Aceh.
Gagasan ini diharapkan dapat mempertemukan kekuatan sejarah dengan pendekatan sinema modern. Unsur lokal Gayo, lanskap Dataran Tinggi Gayo, suasana perang dan gerilya, perjuangan para pejuang radio, serta dinamika politik internasional pada masa itu dapat menjadi bagian dari konstruksi cerita.
Kehadiran PFN dalam pembahasan ini menjadi penting karena produksi film sejarah membutuhkan riset, penulisan skenario, pengembangan karakter, rekonstruksi zaman, hingga strategi produksi dan distribusi yang serius.
Bagi para seniman Gayo, film Radio Rimba Raya bukan sekadar proyek perfilman. Ia diharapkan menjadi ikhtiar kebudayaan untuk membawa kembali sebuah kisah besar dari pedalaman Aceh ke ruang ingatan publik Indonesia.
Pertemuan antara seniman Gayo dan PFN diharapkan menjadi awal dari perjalanan panjang: mengubah suara yang dahulu keluar dari belantara Gayo menjadi cerita visual yang dapat didengar kembali oleh generasi Indonesia hari ini.*** (Jasa)






























