Menu

Mode Gelap
Security KAI Gagalkan Pencurian Kabel Grounding LRT Jabodebek Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat 3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops Pascagempa, Kemen PU Pastikan Akses dan Kebutuhan Dasar di Labuan Bajo Segera Ditangani Jelang 17 Agustus, 16.913 Tiket Promo KAI Terjual, Pemesanan Long Weekend Capai 706.908 Tiket

Uncategorized

Catatan Iwan Piliang: Riang Gembira Sebagai Jalan Hidup

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Riang Gembira Sebagai Jalan Hidup Perbesar

Wartatrans.com, BALI — Di tengah kehidupan yang sering kali penuh tekanan, kegelisahan, dan berbagai beban yang datang silih berganti, ada satu pilihan sederhana yang kerap terlupakan: memilih untuk tetap riang gembira.

Pagi ini, ketika melihat pepohonan dan tanaman yang tersiram cahaya matahari, saya membayangkan mereka sedang berbahagia. Daun-daun yang mengembang, ranting-ranting yang menari tertiup angin, seolah mengajarkan bahwa hidup tak harus selalu dijalani dengan wajah muram. Alam memberi teladan tentang bagaimana menerima hari dengan sukacita.

Karena itulah saya berusaha memaksa diri untuk tetap happy. Bukan karena hidup tanpa masalah, melainkan karena saya percaya kebahagiaan adalah energi yang harus terus dihidupkan. Saya mengajak diri sendiri untuk lebih sering tertawa, menghadirkan suasana positif, dan membiarkan aura kebaikan mengalir dalam keseharian.

Pengalaman hidup mengajarkan bahwa sikap riang gembira mampu mengurangi beban kehidupan lebih dari separuhnya. Persoalan mungkin tetap ada, tantangan tetap datang, tetapi cara kita memandangnya menentukan seberapa berat ia menindih bahu dan pikiran. Ketika hati lapang, masalah yang sama terasa lebih ringan. Sebaliknya, ketika hati kusut, persoalan kecil pun bisa terasa seperti gunung yang menjulang.

Batas antara mumet dan lapang sesungguhnya sangat tipis. Demikian pula batas antara sedih dan bahagia. Bahkan, jika direnungkan lebih jauh, batas antara hidup dan mati pun begitu dekat. Karena itu, selama kesempatan hidup masih diberikan, mengapa tidak memilih untuk menjalaninya dengan penuh semangat dan senyum?

Saya berharap sikap ini dapat terus dipelihara hingga akhir hayat. Seperti sebuah role play yang panjang, saya ingin menjalani perjalanan ini dengan sebaik-baiknya dan suatu hari nanti pergi ketika Sang Pencipta memanggil, dengan senyum yang masih tersisa di wajah.

Dua bulan lalu saya mendapatkan pelajaran berharga dari seekor sahabat kecil bernama Otterino. Saya terlambat datang ketika ia mengembuskan napas terakhirnya. Saat saya memeluk jasadnya, tubuhnya telah kaku selama kurang lebih dua jam. Namun beberapa saat kemudian, tubuh itu terasa lentur kembali. Pengalaman tersebut menimbulkan perenungan mendalam dalam diri saya mengenai ruh, kehidupan, dan misteri kematian.

Malam harinya, saya mendapatkan mimpi yang begitu membekas. Dalam mimpi itu, Otterino hadir bukan dengan kesedihan, melainkan dengan ajakan untuk bermain, berlari, melompat, dan bergembira. Seolah ada pesan sederhana namun kuat yang ingin disampaikannya: hidup bukan untuk diratapi, melainkan untuk dirayakan.

Empat puluh hari setelah kepergiannya, saya mendatangi makamnya. Di tempat itu, saya merasakan kehadirannya dalam kenangan yang hangat. Bukan kenangan yang mengundang air mata, melainkan yang menghidupkan kembali semangat untuk terus bermain dengan kehidupan, berlari mengejar harapan, melompat melewati rintangan, dan menjalani hari-hari dengan hati yang ringan.

Mungkin pada akhirnya, itulah pelajaran terbesar yang bisa kita petik. Bahwa hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dalam keluh kesah. Kita tidak bisa memilih semua peristiwa yang datang, tetapi kita selalu bisa memilih sikap dalam menghadapinya.

Mari hidup dengan lebih riang. Mari tertawa lebih sering. Mari merawat kegembiraan sebagai bentuk syukur atas kehidupan yang masih diberikan.

Hari-hari akan terasa lebih indah ketika dijalani dengan hati yang lapang. Dan selama napas masih berembus, mari bermain, berlari, melompat, dan bergembira.

Artikel ini mempertahankan nuansa reflektif dan personal dari tulisan asli, namun disusun lebih mengalir sebagai sebuah catatan kehidupan yang hangat dan kontemplatif.***

Bali 2026.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe

16 Agustus 2026 - 22:20 WIB

Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat

16 Agustus 2026 - 21:55 WIB

Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

16 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Penyair LK Ara dan Salman Yoga Baca Puisi di Hari Didong

16 Agustus 2026 - 16:35 WIB

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata

16 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Laznas ASAR Humanity Bergerak Tanggap Bencana Bersama Relawan KSATRIA di NTT

16 Agustus 2026 - 14:41 WIB

Penanganan Bencana Lambat, Hasil Bumi Dikeruk, Tapi Butir MoU Tidak Pernah Diselesaikan Pemerintah Pusat. Aceh Sudah Muak!

16 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Semarang Terancam Rob Permanen, Tanahnya Amblas 12 Sentimeter Pertahun

16 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Delegasi Rimba Raya Kecam Keras Insiden Pelecehan Budaya Aceh di Panggung Jamnas: “Jangan Lupakan Sejarah Aceh”

16 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Trending di RAGAM