Wartatrans.com, JAKARTA — Banyak pro dan kontra terhadap penyelenggaraan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV di Aceh yang kabarnya melibatkan peserta dari 14 negara. Sebagian mempertanyakan urgensi sebuah perhelatan sastra internasional di tengah suasana duka pascabanjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah Aceh beberapa waktu lalu. Kritik seperti itu tentu dapat dipahami. Di tengah ribuan warga yang masih berusaha bangkit dari kehilangan, perhatian publik secara wajar tertuju pada persoalan rekonstruksi, bantuan, dan pemulihan kehidupan sehari-hari.
Namun, melihat kebudayaan semata-mata sebagai pesta atau kemewahan adalah cara pandang yang terlalu sempit. Sejarah manusia menunjukkan bahwa seni, sastra, dan kebudayaan justru sering lahir dari reruntuhan dan penderitaan.

Karena itu, penyelenggaraan Pertemuan Penyair Nusantara XIV di Aceh dengan tema besar “Puisi untuk Kemanusiaan: Dari Diksi Menjadi Aksi” sesungguhnya memiliki relevansi yang kuat dengan situasi yang sedang dihadapi masyarakat Aceh. Tema tersebut bukan sekadar slogan. Ia mengingatkan bahwa puisi tidak berhenti pada kata-kata. Diksi dapat berubah menjadi empati, solidaritas, dan tindakan.
Aceh sendiri memiliki hubungan yang panjang dengan luka dan kebangkitan. Negeri ini pernah melalui konflik bersenjata selama puluhan tahun, lalu dihantam tsunami 2004 yang merenggut ratusan ribu jiwa. Namun Aceh tidak hanya dikenang karena kesedihan itu. Aceh juga dikenang karena daya tahannya. Dari tanah yang berkali-kali terluka itu lahir hikayat, syair, didong, rapa’i, hingga karya-karya sastra yang menjadi cara masyarakat memaknai kehilangan.
Karena itu, barangkali tidak berlebihan jika PPN XIV justru menemukan rumahnya di Aceh.
Di tengah suara air bah yang masih tersisa dalam ingatan masyarakat Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Tengah, dan daerah lainnya, para penyair dari berbagai penjuru dunia datang membawa sesuatu yang mungkin tidak tampak dalam bentuk logistik ataupun bantuan material: perhatian.
Memang, puisi tidak dapat memperbaiki jembatan yang putus. Puisi tidak dapat mengeringkan lumpur atau membangun kembali rumah-rumah yang hanyut. Tetapi puisi mampu melakukan sesuatu yang sering kali tidak dapat dilakukan oleh angka dan statistik: menjaga agar penderitaan manusia tidak dilupakan.
Sebab di balik data pengungsi dan laporan kerusakan, ada wajah-wajah yang tetap harus dikenang. Ada ibu yang kehilangan rumah. Ada ayah yang kehilangan ladang. Ada anak-anak yang masih bermain di genangan banjir, seolah dunia belum berubah, padahal sebagian masa kecil mereka telah hanyut bersama arus.
Itulah mengapa saya memandang tema “Dari Diksi Menjadi Aksi” terasa masuk akal. Di saat dunia semakin sibuk menghitung kerugian ekonomi dan berbicara tentang pembangunan fisik, sastra mengingatkan bahwa manusia tidak hidup hanya dengan semen, jalan raya, dan angka-angka pertumbuhan. Manusia juga hidup dari ingatan. Dan ingatan sering kali bertahan lebih lama daripada bangunan.
Pandangan bahwa kebudayaan harus menunggu sampai seluruh persoalan selesai juga tidak sepenuhnya benar. Jika demikian, mungkin manusia tidak akan pernah melahirkan karya apa pun. Chairil Anwar menulis di tengah revolusi. Pablo Neruda menulis ketika dunia diliputi perang. Mahmoud Darwish menulis di tengah tanah air yang terus dirampas. Dan Aceh sendiri telah melahirkan begitu banyak karya sastra dari tengah-tengah luka.
Tentu saja, penyelenggaraan acara kebudayaan tidak boleh membuat pemerintah lepas dari tanggung jawab. Rekonstruksi harus tetap berjalan. Pengawasan terhadap anggaran harus tetap dilakukan. Penataan daerah aliran sungai, rehabilitasi hutan, dan perlindungan masyarakat dari bencana yang berulang tetap harus menjadi prioritas.
Namun kebudayaan dan kemanusiaan bukanlah dua kutub yang saling bertentangan.
Justru keduanya saling melengkapi.
Karena sesungguhnya yang dibangun setelah sebuah bencana bukan hanya rumah-rumah yang roboh, melainkan juga harapan yang ikut runtuh bersama air bah. Dan mungkin, di situlah puisi memiliki tempatnya.
Meski tulisan ini mungkin datang terlambat, izinkan saya mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta Pertemuan Penyair Nusantara XIV dari berbagai daerah dan 14 negara yang telah memilih Aceh sebagai ruang perjumpaan. Selamat datang di negeri yang pernah berkali-kali diuji sejarah.
Selamat datang di tanah yang mengenal duka, tetapi tidak pernah berhenti belajar untuk bangkit.
Selamat datang di Aceh, tempat di mana laut pernah membawa kematian, tetapi juga mengajarkan manusia tentang arti solidaritas.
Selamat datang di tanah yang menyimpan hikayat-hikayat panjang tentang perang, kehilangan, dan harapan.
Dan selamat datang di negeri yang percaya bahwa kata-kata tidak pernah benar-benar sia-sia.
Semoga dari Aceh, puisi kembali menemukan tugasnya yang paling tua: menjaga kemanusiaan.
Dalam semangat itulah, salah satu puisi saya yang terpilih dalam antologi PPN XIV, berjudul
“Ibu yang Berkawan Sungai”, saya persembahkan untuk seluruh korban banjir bandang Sumatra dan Aceh, khususnya masyarakat Pidie Jaya yang beberapa waktu lalu harus menghadapi kehilangan, lumpur, dan kenangan yang tak mudah surut.
Ibu yang Berkawan Sungai
Puisi Pilo Poly
Didedikasikan untuk seluruh korban banjir bandang Sumatra dan Aceh.
Dari kejauhan,
Suara sungai yang tipis itu
Menyelinap tanpa wajah
Menerjang pagi yang dingin
Di sela pintu, sungai
Bawa lumpur dan kabar buruk.
Jalanan merinding dan
Tanah bergerak: hampir
Seperti Saman mengguncang
Dada hingga sesak.
Kayu-kayu, bayi-bayi, dibawa jauh
Ke dalam kampung: sungai
Menerobos pemukiman dan
Ingatan masa depan yang putus.
Rumah-rumah menjerit, sedangkan
Orang-orang berlarian dalam gelap:
Kunci ditangan tapi pintu hancur,
Ladang tergenang lumpur dan kayu
Dari hutan jauh di gunung.
Aku mencari ibu di hulu.
Di tempat sungai pertama
Kali belajar marah.
Orang bilang banjir Cuma air
Yang salah jalan.
Tapi aku melihat mata ibu malam itu—
Ada sesuatu yang pecah diam-diam
Dan tidak ikut surut.
Minibus melintas pelan
Membelah genangan cokelat.
Lampunya gemetar di permukaan air
Seperti doa yang dibaca orang miskin
Dengan perut kosong.
Beberapa lelaki berdiri di atas motor,
Lutut mereka basah,
Mulut mereka penuh cuaca.
Tak ada yang bicara tentang takut,
Karena takut di kampung kami
Biasanya disimpan
Di bawah lidah.
Di tenda pengungsian
Bau selimut basah, minyak kayu putih,
Dan susu bayi
Bercampur menjadi satu umur panjang
Yang melelahkan.
Baju bantuan ditumpuk begitu saja.
Anak-anak memilih warna
Seperti memilih nasib baru.
Mereka belum tahu
Kehilangan bisa tinggal lama
Di tubuh manusia
Bahkan setelah rumah dibangun kembali.
Dua bocah bermain di air keruh.
Tertawanya tajam sekali.
Aku iri pada mereka.
Mungkin hanya anak-anak
Yang mampu menganggap bencana
Sebagai genangan biasa
Tempat langit pecah berkeping-keping.
Malam berikutnya
Air mulai turun,
Tapi suara derasnya menetap
Di dalam kepala orang-orang
Seperti azan yang tak selesai.
Ibu menggenggam kunci rumah
Yang sudah tak punya pintu.
Ayah menatap dinding roboh
Dengan mata seseorang
Yang sedang menghitung umur sendiri.
Tak ada yang menangis keras.
Kesedihan di desa kami
Dibiasakan tumbuh diam-diam,
Seperti lumut di batu sungai.
Para lelaki mengangkat lumpur
Dengan sekop dan tangan telanjang.
Para perempuan memasak nasi
Untuk orang-orang yang bahkan
Tak sempat menyelamatkan foto keluarga.
Tak ada pidato.
Tak ada kepahlawanan.
Hanya tubuh-tubuh letih
Yang saling meminjam tenaga
Agar dunia tidak benar-benar runtuh.
Pagi datang terlambat.
Burung kembali hinggap di kabel listrik.
Motor tua batuk-batuk di halaman.
Kopi mendidih lagi.
Dan manusia—
Anehnya—
Selalu menemukan alasan
Untuk tetap hidup
Meski separuh dirinya
Sudah hanyut ke hilir.
Aku masih menunggu ibu
Di hulu sungai itu.
Kadang kulihat bayangannya
Di permukaan air yang keruh:
Perempuan kecil
Yang mencoba menyelamatkan rumah
Dengan kedua tangan kosong.
Sementara sungai terus mengalir
Seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Padahal kami tahu,
Sejak malam itu,
Tak ada seorang pun
Yang benar-benar pulang
Dengan utuh:
Hidup tapi terasa mati.
Orang-orang kemudian datang
Membawa keceriaan;
Meski keceriaan kami telah
Lama lenyap dan padam.
Entah kapan matahari panas ini,
Pergi ke tempat yang lain, yang jauh
Dari jangkauan dan pengetahuan.
Pidie Jaya, 2026
Pada akhirnya, puisi memang tidak bisa menghentikan banjir. Ia tidak dapat memperbaiki jembatan yang putus, mengeringkan lumpur, atau mengembalikan mereka yang telah tiada.
Tetapi puisi dapat mencegah manusia melupakan mereka yang pernah dihanyutkan oleh banjir.
Dan kadang-kadang, di tengah dunia yang terlalu sibuk menghitung kerugian, mengingat adalah bentuk kemanusiaan yang paling sederhana.
Sebab manusia tidak hanya dibangun oleh beton dan anggaran. Ia juga dibangun oleh ingatan. Dan ingatan sering kali bertahan lebih lama daripada reruntuhan.
Maka kepada seluruh peserta Pertemuan Penyair Nusantara XIV, selamat datang di Aceh.
Datanglah bukan hanya untuk membaca puisi.
Datanglah untuk mendengar suara sungai, menyimak luka yang belum selesai, dan menyaksikan bagaimana sebuah masyarakat terus belajar berdamai dengan kehilangan.
Karena sesungguhnya, seperti yang berulang kali dibuktikan sejarah, kata-kata mungkin tidak mampu menyelamatkan dunia. Tetapi ia dapat menyelamatkan kemanusiaan dari lupa.***






























