Menu

Mode Gelap
Berita Baik Bagi Ojol: Gojek & Grab Potong Komisi 8% mulai Berlaku Juli 2026 Catatan Pilo Poly: PPN XIV Menemukan Rumahnya di Aceh PNM dan Danantara Perluas Dampak Pemberdayaan, Jangkau 23,1 Juta Pelaku Usaha Ultra Mikro IPC TPK Gandeng Generasi Muda Jakarta Utara, Perkenalkan Industri Petikemas dan Perkuat Budaya Bersih KAI Daop 1: Insiden Eskalator Stasiun Bekasi Dipicu Penumpang Kehilangan Keseimbangan Stasiun JIS Layani Penumpang KRL, Angkut 2.000 Penumpang per Hari

SENI BUDAYA

Catatan Pilo Poly: PPN XIV Menemukan Rumahnya di Aceh

badge-check


 Catatan Pilo Poly: PPN XIV Menemukan Rumahnya di Aceh Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Banyak pro dan kontra terhadap penyelenggaraan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV di Aceh yang kabarnya melibatkan peserta dari 14 negara. Sebagian mempertanyakan urgensi sebuah perhelatan sastra internasional di tengah suasana duka pascabanjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah Aceh beberapa waktu lalu. Kritik seperti itu tentu dapat dipahami. Di tengah ribuan warga yang masih berusaha bangkit dari kehilangan, perhatian publik secara wajar tertuju pada persoalan rekonstruksi, bantuan, dan pemulihan kehidupan sehari-hari.

Namun, melihat kebudayaan semata-mata sebagai pesta atau kemewahan adalah cara pandang yang terlalu sempit. Sejarah manusia menunjukkan bahwa seni, sastra, dan kebudayaan justru sering lahir dari reruntuhan dan penderitaan.

Karena itu, penyelenggaraan Pertemuan Penyair Nusantara XIV di Aceh dengan tema besar “Puisi untuk Kemanusiaan: Dari Diksi Menjadi Aksi” sesungguhnya memiliki relevansi yang kuat dengan situasi yang sedang dihadapi masyarakat Aceh. Tema tersebut bukan sekadar slogan. Ia mengingatkan bahwa puisi tidak berhenti pada kata-kata. Diksi dapat berubah menjadi empati, solidaritas, dan tindakan.

Aceh sendiri memiliki hubungan yang panjang dengan luka dan kebangkitan. Negeri ini pernah melalui konflik bersenjata selama puluhan tahun, lalu dihantam tsunami 2004 yang merenggut ratusan ribu jiwa. Namun Aceh tidak hanya dikenang karena kesedihan itu. Aceh juga dikenang karena daya tahannya. Dari tanah yang berkali-kali terluka itu lahir hikayat, syair, didong, rapa’i, hingga karya-karya sastra yang menjadi cara masyarakat memaknai kehilangan.

Karena itu, barangkali tidak berlebihan jika PPN XIV justru menemukan rumahnya di Aceh.

Di tengah suara air bah yang masih tersisa dalam ingatan masyarakat Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Tengah, dan daerah lainnya, para penyair dari berbagai penjuru dunia datang membawa sesuatu yang mungkin tidak tampak dalam bentuk logistik ataupun bantuan material: perhatian.

Memang, puisi tidak dapat memperbaiki jembatan yang putus. Puisi tidak dapat mengeringkan lumpur atau membangun kembali rumah-rumah yang hanyut. Tetapi puisi mampu melakukan sesuatu yang sering kali tidak dapat dilakukan oleh angka dan statistik: menjaga agar penderitaan manusia tidak dilupakan.

Sebab di balik data pengungsi dan laporan kerusakan, ada wajah-wajah yang tetap harus dikenang. Ada ibu yang kehilangan rumah. Ada ayah yang kehilangan ladang. Ada anak-anak yang masih bermain di genangan banjir, seolah dunia belum berubah, padahal sebagian masa kecil mereka telah hanyut bersama arus.

Itulah mengapa saya memandang tema “Dari Diksi Menjadi Aksi” terasa masuk akal. Di saat dunia semakin sibuk menghitung kerugian ekonomi dan berbicara tentang pembangunan fisik, sastra mengingatkan bahwa manusia tidak hidup hanya dengan semen, jalan raya, dan angka-angka pertumbuhan. Manusia juga hidup dari ingatan. Dan ingatan sering kali bertahan lebih lama daripada bangunan.

Pandangan bahwa kebudayaan harus menunggu sampai seluruh persoalan selesai juga tidak sepenuhnya benar. Jika demikian, mungkin manusia tidak akan pernah melahirkan karya apa pun. Chairil Anwar menulis di tengah revolusi. Pablo Neruda menulis ketika dunia diliputi perang. Mahmoud Darwish menulis di tengah tanah air yang terus dirampas. Dan Aceh sendiri telah melahirkan begitu banyak karya sastra dari tengah-tengah luka.

Tentu saja, penyelenggaraan acara kebudayaan tidak boleh membuat pemerintah lepas dari tanggung jawab. Rekonstruksi harus tetap berjalan. Pengawasan terhadap anggaran harus tetap dilakukan. Penataan daerah aliran sungai, rehabilitasi hutan, dan perlindungan masyarakat dari bencana yang berulang tetap harus menjadi prioritas.

Namun kebudayaan dan kemanusiaan bukanlah dua kutub yang saling bertentangan.

Justru keduanya saling melengkapi.

Karena sesungguhnya yang dibangun setelah sebuah bencana bukan hanya rumah-rumah yang roboh, melainkan juga harapan yang ikut runtuh bersama air bah. Dan mungkin, di situlah puisi memiliki tempatnya.

Meski tulisan ini mungkin datang terlambat, izinkan saya mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta Pertemuan Penyair Nusantara XIV dari berbagai daerah dan 14 negara yang telah memilih Aceh sebagai ruang perjumpaan. Selamat datang di negeri yang pernah berkali-kali diuji sejarah.

Selamat datang di tanah yang mengenal duka, tetapi tidak pernah berhenti belajar untuk bangkit.

Selamat datang di Aceh, tempat di mana laut pernah membawa kematian, tetapi juga mengajarkan manusia tentang arti solidaritas.

Selamat datang di tanah yang menyimpan hikayat-hikayat panjang tentang perang, kehilangan, dan harapan.

Dan selamat datang di negeri yang percaya bahwa kata-kata tidak pernah benar-benar sia-sia.

Semoga dari Aceh, puisi kembali menemukan tugasnya yang paling tua: menjaga kemanusiaan.

Dalam semangat itulah, salah satu puisi saya yang terpilih dalam antologi PPN XIV, berjudul

“Ibu yang Berkawan Sungai”, saya persembahkan untuk seluruh korban banjir bandang Sumatra dan Aceh, khususnya masyarakat Pidie Jaya yang beberapa waktu lalu harus menghadapi kehilangan, lumpur, dan kenangan yang tak mudah surut.

 

Ibu yang Berkawan Sungai

Puisi Pilo Poly

 

Didedikasikan untuk seluruh korban banjir bandang Sumatra dan Aceh.

Dari kejauhan,

Suara sungai yang tipis itu

Menyelinap tanpa wajah

Menerjang pagi yang dingin

 

Di sela pintu, sungai

Bawa lumpur dan kabar buruk.

Jalanan merinding dan

Tanah bergerak: hampir

Seperti Saman mengguncang

Dada hingga sesak.

 

Kayu-kayu, bayi-bayi, dibawa jauh

Ke dalam kampung: sungai

Menerobos pemukiman dan

Ingatan masa depan yang putus.

 

Rumah-rumah menjerit, sedangkan

Orang-orang berlarian dalam gelap:

Kunci ditangan tapi pintu hancur,

Ladang tergenang lumpur dan kayu

Dari hutan jauh di gunung.

 

Aku mencari ibu di hulu.

Di tempat sungai pertama

Kali belajar marah.

 

Orang bilang banjir Cuma air

Yang salah jalan.

Tapi aku melihat mata ibu malam itu—

Ada sesuatu yang pecah diam-diam

Dan tidak ikut surut.

 

Minibus melintas pelan

Membelah genangan cokelat.

Lampunya gemetar di permukaan air

Seperti doa yang dibaca orang miskin

Dengan perut kosong.

 

Beberapa lelaki berdiri di atas motor,

Lutut mereka basah,

Mulut mereka penuh cuaca.

Tak ada yang bicara tentang takut,

Karena takut di kampung kami

Biasanya disimpan

Di bawah lidah.

 

Di tenda pengungsian

Bau selimut basah, minyak kayu putih,

Dan susu bayi

Bercampur menjadi satu umur panjang

Yang melelahkan.

 

Baju bantuan ditumpuk begitu saja.

Anak-anak memilih warna

Seperti memilih nasib baru.

Mereka belum tahu

Kehilangan bisa tinggal lama

Di tubuh manusia

Bahkan setelah rumah dibangun kembali.

 

Dua bocah bermain di air keruh.

Tertawanya tajam sekali.

Aku iri pada mereka.

 

Mungkin hanya anak-anak

Yang mampu menganggap bencana

Sebagai genangan biasa

Tempat langit pecah berkeping-keping.

 

Malam berikutnya

Air mulai turun,

Tapi suara derasnya menetap

Di dalam kepala orang-orang

Seperti azan yang tak selesai.

 

Ibu menggenggam kunci rumah

Yang sudah tak punya pintu.

Ayah menatap dinding roboh

Dengan mata seseorang

Yang sedang menghitung umur sendiri.

 

Tak ada yang menangis keras.

Kesedihan di desa kami

Dibiasakan tumbuh diam-diam,

Seperti lumut di batu sungai.

 

Para lelaki mengangkat lumpur

Dengan sekop dan tangan telanjang.

Para perempuan memasak nasi

Untuk orang-orang yang bahkan

Tak sempat menyelamatkan foto keluarga.

 

Tak ada pidato.

Tak ada kepahlawanan.

Hanya tubuh-tubuh letih

Yang saling meminjam tenaga

Agar dunia tidak benar-benar runtuh.

 

Pagi datang terlambat.

 

Burung kembali hinggap di kabel listrik.

Motor tua batuk-batuk di halaman.

Kopi mendidih lagi.

 

Dan manusia—

Anehnya—

Selalu menemukan alasan

Untuk tetap hidup

Meski separuh dirinya

Sudah hanyut ke hilir.

 

Aku masih menunggu ibu

Di hulu sungai itu.

 

Kadang kulihat bayangannya

Di permukaan air yang keruh:

Perempuan kecil

Yang mencoba menyelamatkan rumah

Dengan kedua tangan kosong.

 

Sementara sungai terus mengalir

Seolah tak pernah terjadi apa-apa.

 

Padahal kami tahu,

Sejak malam itu,

Tak ada seorang pun

Yang benar-benar pulang

Dengan utuh:

Hidup tapi terasa mati.

 

Orang-orang kemudian datang

Membawa keceriaan;

Meski keceriaan kami telah

Lama lenyap dan padam.

 

Entah kapan matahari panas ini,

Pergi ke tempat yang lain, yang jauh

Dari jangkauan dan pengetahuan.

 

Pidie Jaya, 2026

 

Pada akhirnya, puisi memang tidak bisa menghentikan banjir. Ia tidak dapat memperbaiki jembatan yang putus, mengeringkan lumpur, atau mengembalikan mereka yang telah tiada.

Tetapi puisi dapat mencegah manusia melupakan mereka yang pernah dihanyutkan oleh banjir.

Dan kadang-kadang, di tengah dunia yang terlalu sibuk menghitung kerugian, mengingat adalah bentuk kemanusiaan yang paling sederhana.

Sebab manusia tidak hanya dibangun oleh beton dan anggaran. Ia juga dibangun oleh ingatan. Dan ingatan sering kali bertahan lebih lama daripada reruntuhan.

Maka kepada seluruh peserta Pertemuan Penyair Nusantara XIV, selamat datang di Aceh.

Datanglah bukan hanya untuk membaca puisi.

Datanglah untuk mendengar suara sungai, menyimak luka yang belum selesai, dan menyaksikan bagaimana sebuah masyarakat terus belajar berdamai dengan kehilangan.

Karena sesungguhnya, seperti yang berulang kali dibuktikan sejarah, kata-kata mungkin tidak mampu menyelamatkan dunia. Tetapi ia dapat menyelamatkan kemanusiaan dari lupa.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pameran Fotografi Menelusuri Identitas dalam Lintas Waktu

23 Juni 2026 - 18:16 WIB

Tari Sining, Warisan Budaya Gayo yang Pernah Punah, Akan Tampil di PPN XIV 14 Negara

23 Juni 2026 - 18:07 WIB

Semarak HUT Ke-499 DKI Jakarta, PT PSM Salurkan Bantuan Tong Drop Point untuk Warga Jakarta Utara

23 Juni 2026 - 16:34 WIB

Novianti Maulida Rahmah, Putri Jeumpa dari Kota Juang di Balik Sukses PPN XIV Aceh-Indonesia

23 Juni 2026 - 10:11 WIB

Salman Yoga Pidato Di PPN XlV dengan Membara: Semua Peradaban Besar Berawal dari Kata-Kata

23 Juni 2026 - 01:53 WIB

Catatan Putra Gara Dari PPN XlV: Ketika Puisi Menyatukan 14 Negara di Istana Wali Nanggroe Aceh

22 Juni 2026 - 21:48 WIB

Pertemuan Penyair Nusantara XIV Resmi Dibuka di Aceh, Hadirkan Penyair dari 14 Negara

22 Juni 2026 - 18:12 WIB

Ruben Onsu dan Quinn Salman Sambut Positif Film Ghost Buzzer

22 Juni 2026 - 14:58 WIB

Catatan Putra Gara: Menuju PPN XIV Aceh Tengah: Menyusuri Jejak Sastra dan Aroma Kopi Gayo

22 Juni 2026 - 08:25 WIB

Di Tangkai Bunga Renggali, Bendera 14 Negara Hiasi Panggung PPN XIV Takengon

21 Juni 2026 - 21:07 WIB

Trending di SENI BUDAYA