Wartatrans.com, Banda Aceh — Malam itu, langit Banda Aceh tampak tenang. Saya melangkah memasuki kawasan Istana Wali Nanggroe bersama para penyair, sastrawan, budayawan, dan tamu dari berbagai negara yang hadir dalam Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh-Indonesia. Ada perasaan haru yang sulit dijelaskan. Sebuah perhelatan sastra dalam kemegahan dan kehangatan Aceh.
Begitu tiba di halaman Istana Wali Nanggroe, peserta disambut dengan Seumapa dan Tari Ranub Lampuan. Senyum para penari dan lantunan syair penyambutan terasa lebih dari sekadar seremoni. Saya melihat bagaimana Aceh memperlakukan tamunya dengan penuh penghormatan. Tradisi tidak hanya dipertontonkan, tetapi benar-benar dihidupkan sebagai cara menyambut sahabat yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Di malam pembukaan itu, saya menyadari bahwa PPN bukan hanya pertemuan para penyair. Ia adalah ruang perjumpaan peradaban. Di tempat yang sama hadir penyair dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, dan berbagai negara lainnya.
Saya sendiri duduk berdampingan dengan rekan dari Berunai Darrussalam. Para peserta mungkin datang dengan bahasa dan pengalaman yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh satu hal yang sama: keyakinan bahwa puisi masih memiliki tempat dalam kehidupan manusia.
Ketika ayat suci Al-Qur’an dibacakan dan doa dipanjatkan, suasana menjadi begitu khidmat. Kemudian Lagu Indonesia Raya dan Hymne Aceh menggema di lingkungan istana.
Saat menyanyikan Hymne Aceh, saya merasakan sebuah kebanggaan melihat sastra ditempatkan dalam ruang yang terhormat, berdampingan dengan nilai-nilai budaya, adat, dan kebangsaan.
Salah satu momen yang paling membekas bagi saya adalah ketika pertunjukan “Harmoni Syair Nusantara dari Aceh untuk Dunia” dipersembahkan. Pertunjukan itu seakan ingin mengatakan kepada dunia bahwa sastra tidak hidup sendirian. Ia tumbuh bersama musik, tari, tradisi, dan sejarah masyarakatnya. Dalam setiap irama dan syair yang dipentaskan, saya melihat wajah Aceh yang ramah sekaligus berwibawa.
Malam terus berjalan. Nama-nama besar dunia sastra Nusantara bergantian tampil. Puisi dibacakan, penghormatan diberikan kepada tokoh-tokoh sastra yang telah berjasa, dan berbagai gagasan tentang masa depan kebudayaan dipertukarkan. Saya merasa berada di tengah sebuah keluarga besar yang dipersatukan oleh kecintaan terhadap kata-kata.
Yang membuat saya semakin terkesan adalah pemilihan Istana Wali Nanggroe sebagai lokasi pembukaan. Tempat ini bukan sekadar gedung megah. Ia merupakan simbol kehormatan dan identitas Aceh. Ketika para penyair dari 14 negara berkumpul di sana, yang terjadi bukan hanya pembukaan sebuah acara sastra, melainkan pertemuan berbagai kebudayaan dalam satu ruang yang penuh makna.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., secara resmi membuka Pertemuan Penyair Nusantara XIV Aceh-Indonesia.
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Saya melihat wajah-wajah bahagia dari para peserta. Di hadapan kami, sastra tidak lagi sekadar karya yang dibaca dalam kesunyian. Ia hadir sebagai kekuatan yang mampu mempertemukan bangsa-bangsa.
Malam di Istana Wali Nanggroe itu mengingatkan saya bahwa puisi masih memiliki tugas penting di dunia yang semakin gaduh ini. Ia menjadi jembatan ketika politik menciptakan sekat, menjadi ruang dialog ketika perbedaan terasa semakin lebar, dan menjadi pengingat bahwa kemanusiaan selalu dapat ditemukan melalui kata-kata.
Dari Aceh, saya menyaksikan sendiri bagaimana puisi menyatukan 14 negara. Dan malam itu, di Istana Wali Nanggroe, saya merasa menjadi bagian dari sebuah peristiwa budaya yang kelak akan dikenang sebagai salah satu catatan penting perjalanan sastra Nusantara.***






























