Menu ✖

Mode Gelap
BGN Keluarkan Aturan Baru Tentang Insentif SPPG, Berlaku Mulai 5 Oktober 2026 Pencuri Kabel Whoosh Berhasil Ditangkap, KCIC: Aksinya Bisa Membahayakan Keselamatan Perjalanan Perawatan Sistem Avionik, FL Technics Indonesia Gandeng GE Aerospace InJourney Airports dan SDhI Rampungkan Transisi Pengelolaan Bandara Dhoho Garuda dan Yoowifi Hadirkan eSIM, Komunikasi  jadi Makin Terjangkau Saat di Luar Negeri Modernisasi PPN Pengambengan, Nelayan Lokal Harap Ada Lapangan Kerja Saat Paceklik

SENI BUDAYA

Catatan Putra Gara: Menuju PPN XIV Aceh Tengah: Menyusuri Jejak Sastra dan Aroma Kopi Gayo

badge-check


 Catatan Putra Gara: Menuju PPN XIV Aceh Tengah: Menyusuri Jejak Sastra dan Aroma Kopi Gayo Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Pagi masih menyisakan kesejukan ketika sejumlah peserta Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV bersiap menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Senin, 22 Juni 2026. E-tiket perjalanan telah diunduh dan dipastikan tersimpan rapi. Dalam rombongan keberangkatan tersebut tercatat nama Putri Miranda, Chavchay Syaifullah, Rissa Churria,  Noor El Niel, dan saya sendiri – Putra Gara, yang akan terbang menuju Banda Aceh dengan jadwal lepas landas pukul 08.35 WIB.

Di tengah kesibukan persiapan keberangkatan, suasana hangat justru terasa sederhana. Sambil menunggu panggilan masuk pesawat, para peserta menikmati secangkir kopi di kedai bandara. Sarapan pagi yang dibawa  para ibu-ibu menambah akrab suasana, menghadirkan nuansa kekeluargaan yang sering kali menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan budaya dan sastra.

“Inilah enaknya kalau jalan sama emak-emak. Untuk makanan pasti aman… ” gumam saya.

Perjalanan menuju Aceh kali ini memiliki makna yang lebih dalam. Selain menghadiri Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV yang berlangsung di Aceh Tengah, bagi saya perjalanan ini juga menjadi kesempatan untuk pulang kampung. Ada kerinduan yang hendak ditunaikan, ada tanah kelahiran yang ingin disapa kembali, dan ada cerita-cerita lama yang ingin dirajut bersama pertemuan baru.

PPN XIV bukan sekadar agenda sastra tahunan yang mempertemukan penyair dari berbagai daerah dan negara. Lebih dari itu, perhelatan ini menjadi ruang perjumpaan budaya, tempat kata-kata menjelma jembatan yang menghubungkan beragam tradisi, bahasa, dan pengalaman hidup. Di Tanoh Gayo, para penyair tidak hanya akan berbagi puisi, tetapi juga menyelami kekayaan budaya yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Membicarakan Aceh Tengah hampir mustahil tanpa menyebut Kopi Gayo. Kopi yang telah dikenal hingga mancanegara ini menjadi salah satu identitas penting masyarakat dataran tinggi Gayo. Aroma dan cita rasanya yang khas telah menempatkan Kopi Gayo sebagai salah satu kopi terbaik dunia. Di warung-warung kopi, percakapan tentang kehidupan, kebudayaan, dan sastra mengalir begitu alami, sebagaimana air yang menghidupi perkebunan kopi di lereng-lereng pegunungan.

Tidak mengherankan jika pertemuan sastra di Tanoh Gayo akan diwarnai diskusi tentang kopi. Keduanya memiliki kedekatan yang istimewa. Secangkir kopi sering menjadi teman setia lahirnya puisi, esai, dan berbagai karya sastra. Di balik kepulan aroma kopi, para penyair menemukan ruang untuk merenung, menyusun kata, dan merawat ingatan tentang kampung halaman.

Keberangkatan menuju PPN XIV menjadi perjalanan yang memadukan banyak hal sekaligus: silaturahmi, kebudayaan, sastra, dan kerinduan pada tanah asal. Dari ruang tunggu bandara hingga dataran tinggi Gayo, perjalanan ini membawa harapan agar sastra terus menjadi medium yang mempertemukan manusia dengan akar budayanya, sekaligus memperkenalkan kekayaan Nusantara kepada dunia.

Di Aceh Tengah nanti, para penyair tidak hanya akan membaca puisi. Mereka akan menyaksikan bagaimana tradisi, keramahan masyarakat, dan keharuman Kopi Gayo berpadu menjadi sebuah pengalaman budaya yang utuh. Sebuah perjumpaan yang membuktikan bahwa sastra tidak lahir di ruang hampa, melainkan tumbuh dari kehidupan, dari tanah yang subur, dan dari secangkir kopi yang menghangatkan percakapan.***

Jakarta – 2026.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kebun Hantu, Menyusuri Arsip Tubuh dan Pengalaman yang Tak Selesai

1 Oktober 2026 - 10:53 WIB

Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO

1 Oktober 2026 - 03:44 WIB

Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda

1 Oktober 2026 - 03:12 WIB

Rhoma Irama Menangis Saat Menonton Film Lawas, dari Pengabdian ke Perjuangan Dangdut Menuju UNESCO

30 September 2026 - 08:17 WIB

Kolaborasi Addie MS & Twilite Orchestra, Anggun, dan Judika Warnai Perayaan 81 Tahun KAI

30 September 2026 - 07:37 WIB

Mentor Bang Budi dan Lukisan Karya Anak yang Membawa Cerita Aceh Tamiang ke Jakarta

30 September 2026 - 01:37 WIB

Bupati Aceh Tamiang Dorong Terapi Melukis untuk Pulihkan Trauma Anak Korban Bencana

29 September 2026 - 19:34 WIB

Ekraf Peduli Hadirkan Karya Anak Korban Bencana Sumatra, Pemerintah Dorong Pemulihan Lewat Seni

29 September 2026 - 18:39 WIB

Dianna Dee Full Jadwal Show, Sempatkan Cover Lagu di YouTube, 1 Minggu Tembus Setengah Juta Views

29 September 2026 - 17:10 WIB

HUT ke 81, KAI Daop 4 Semarang Menggelar Acara Baca Puisi Antar Negara

29 September 2026 - 09:44 WIB

Trending di RAGAM