Wartatrans.com, TAKENGON — Pasca enam hari terjadinya bencana banjir bandang hidrometeorologi yang melanda wilayah Nosar, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, akses jalan menuju kampung tersebut masih terputus total. Dari puluhan kendaraan yang mencoba masuk, hanya satu kendaraan yang berhasil menerobos medan ekstrem pascabencana, yakni Toyota Kijang yang dikenal dengan nama “Mata Dewa 91”, dikemudikan oleh Junaidi Ariska.
Dalam perjalanan penuh risiko tersebut, Junaidi Ariska membawa hasil pertanian warga berupa bawang merah seberat 1 ton 200 kilogram dari Kampung Mude Nosar menuju Kota Takengon. Upaya ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian untuk membantu ketahanan pangan masyarakat pascabencana, sekaligus agar hasil panen warga dapat dijual ke kota guna memenuhi kebutuhan pokok seperti beras dan logistik lainnya.

Sejak banjir bandang melanda, Kampung Nosar dan Mude Nosar terisolasi dari pusat kota. Tercatat terdapat sekitar 21 titik longsor di sepanjang jalur Takengon–Nosar. Titik-titik longsor tersebut tersebar mulai dari kawasan Hotel Renggali, One-One, Toweren, Kekil, Rawe, Kalang, hingga mencapai Kampung Mude Nosar. Kondisi jalan dipenuhi lumpur tebal, tanjakan terjal, dan badan jalan yang nyaris putus.

Si “Mata Dewa 91” siap menerobos jalan terjal.
Meski kendaraan yang digunakan bukan berpenggerak ganda (double gardan), Kijang Mata Dewa 91 berpenggerak 4×2 mampu menembus medan sulit tersebut. Tak hanya membawa hasil tani, kendaraan ini juga mengangkut bantuan berupa tenda dan logistik untuk warga terdampak banjir bandang.
Aksi kemanusiaan ini mendapat apresiasi dari masyarakat setempat, yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk solidaritas nyata di tengah keterbatasan akses dan minimnya bantuan yang masuk ke wilayah terisolasi.
Di balik bencana ini, masyarakat meyakini tersimpan hikmah besar. Kampung Mude Nosar dikenal sebagai wilayah bersejarah, tempat bermukimnya tokoh agama besar yang disebut Syekh Utama, pendiri masjid awal di Takengon. Di kawasan ini juga terdapat makam Pangsebahi, dengan nama asli Khan, yang menjadi bagian penting dari sejarah awal kepemimpinan Takengon.
Warga berharap nilai sejarah dan status cagar budaya di wilayah Nosar dapat menjadi perhatian pemerintah dan pihak terkait, tidak hanya untuk pelestarian sejarah, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangkitkan kembali marwah Nosar dan membantu masyarakat bangkit pascabencana.*** (Jasa)
























