Menu ✖

Mode Gelap
KKP Catat Kinerja Positif, Produksi Perikanan Capai 26,25 Juta Ton Kereta Api Terhubung dengan LRT, BRT hingga Bandara, Ini Data Pelanggan KAI Group Little Harbour, Dermaga Aman bagi Anak dan Ruang Tenang bagi Orang Tua di Pelindo Regional 2 Suasana Panas Terjadi Saat Pembacaan Vonis Bupati Pati Non Aktif Sudewo Setelah Vakum Sejak 2010, Dewan Kesenian Aceh Tengah Diupayakan Aktif Kembali Wujudkan Pelabuhan Bersih dan Bebas Pungli, IPC TPK Bersama Mitra Operasional Deklarasikan Komitmen Bersama

EKOBIS

IIBF Kota Depok: Tahun 2030 Bukan Ancaman, tapi Peluang

badge-check


 IIBF Kota Depok: Tahun 2030 Bukan Ancaman, tapi Peluang Perbesar

Wartatrans.com, DEPOK — Prediksi suram tentang masa depan Indonesia pada 2030, seperti tergambar dalam novel Ghost Fleet karya P.W. Singer dan August Cole, tidak sepenuhnya diyakini pelaku usaha. Ketua Indonesia Islamic Business Forum (IIBF) Kota Depok, Galih Pandekar, justru melihat tahun tersebut sebagai momentum peluang bagi pengusaha yang mampu beradaptasi.

“Yang adaptif akan menang. Kecepatan dan inovasi adalah kunci. Tingkatkan pengetahuan,” ujar Galih dalam acara Halal Bihalal IIBF Kota Depok di kediaman H. Acep Al Azhari, Rabu, 15 April 2026.

Menurut dia, berbagai sektor memiliki prospek cerah di masa depan, mulai dari digitalisasi bisnis, ekonomi kreatif, hingga sektor kesehatan, pendidikan, ekonomi syariah, dan bisnis berbasis lingkungan (green business). Namun, peluang tersebut tidak lepas dari tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha.

Galih menyoroti fluktuasi daya beli masyarakat dan inflasi sebagai faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Selain itu, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku, nilai tukar yang volatil, serta kesenjangan digital antarwilayah turut menjadi hambatan.

Di sisi lain, ia menilai dunia usaha akan menghadapi gelombang disrupsi yang semakin kuat. Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan otomasi berpotensi menggantikan pekerjaan rutin, sementara perilaku konsumen berubah menjadi serba cepat dan digital. Pengawasan publik melalui media sosial, pertumbuhan e-commerce dan social commerce, serta isu lingkungan juga menjadi faktor penentu arah bisnis ke depan.

“Dampaknya, margin tertekan, konsumen makin sensitif terhadap harga, layanan harus cepat, persaingan semakin global, dan siklus bisnis makin pendek,” kata Galih.

Untuk bertahan, ia menyarankan pengusaha memperkuat arus kas, fokus pada produk yang cepat menghasilkan (quick win), serta meningkatkan efisiensi operasional. Diversifikasi pasar dan penerapan otomasi dalam proses bisnis juga dinilai penting. Selain itu, organisasi yang ramping dan kewaspadaan terhadap perubahan menjadi kunci agar tidak tertinggal.

“Harus preventif, jangan reaktif,” ujarnya.

Adapun untuk mendorong pertumbuhan, Galih menekankan pentingnya ekspansi melalui kanal digital, membangun merek dan komunitas, serta menjalin kolaborasi strategis. Pengambilan keputusan berbasis data dan investasi yang tepat juga menjadi faktor penting dalam memperkuat daya saing.

“Bangun mastery dalam bisnis,” kata Galih.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

KKP Catat Kinerja Positif, Produksi Perikanan Capai 26,25 Juta Ton

22 Oktober 2026 - 00:13 WIB

Wujudkan Pelabuhan Bersih dan Bebas Pungli, IPC TPK Bersama Mitra Operasional Deklarasikan Komitmen Bersama

21 Oktober 2026 - 18:30 WIB

HUT ke-6 Meruorah Komodo Labuan Bajo, Ada Semangat Kebersamaan dan Kolaborasi

21 Oktober 2026 - 16:40 WIB

Jasa Raharja Terbitkan Jaminan Biaya Perawatan 11 Penumpang Korban Kebakaran KMP Batumandi

21 Oktober 2026 - 14:57 WIB

Pelindo Dukung Pemulihan Ekosistem Mangrove di Wilayah Pantura Demak

21 Oktober 2026 - 14:48 WIB

Sebaran Angkutan Barang KAI di Jawa dan Sumatra Tembus 9,15 Juta Ton

21 Oktober 2026 - 11:19 WIB

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, KNMP Terbukti Jadi Penggerak Ekonomi Pesisir

21 Oktober 2026 - 11:08 WIB

Prabowo Terima Rekomendasi DEN, Bahas Strategi Penguatan Ekonomi Nasional

21 Oktober 2026 - 05:31 WIB

Trafik Kargo IPCC Melonjak 19,57% hingga Kuartal III 2026

20 Oktober 2026 - 17:36 WIB

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Investasi Capai Rp3.923 Triliun dan Serap 5,48 Juta Tenaga Kerja

20 Oktober 2026 - 17:08 WIB

Trending di EKOBIS