Wartatrans.com, DEPOK — Prediksi suram tentang masa depan Indonesia pada 2030, seperti tergambar dalam novel Ghost Fleet karya P.W. Singer dan August Cole, tidak sepenuhnya diyakini pelaku usaha. Ketua Indonesia Islamic Business Forum (IIBF) Kota Depok, Galih Pandekar, justru melihat tahun tersebut sebagai momentum peluang bagi pengusaha yang mampu beradaptasi.
“Yang adaptif akan menang. Kecepatan dan inovasi adalah kunci. Tingkatkan pengetahuan,” ujar Galih dalam acara Halal Bihalal IIBF Kota Depok di kediaman H. Acep Al Azhari, Rabu, 15 April 2026.

Menurut dia, berbagai sektor memiliki prospek cerah di masa depan, mulai dari digitalisasi bisnis, ekonomi kreatif, hingga sektor kesehatan, pendidikan, ekonomi syariah, dan bisnis berbasis lingkungan (green business). Namun, peluang tersebut tidak lepas dari tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha.
Galih menyoroti fluktuasi daya beli masyarakat dan inflasi sebagai faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Selain itu, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku, nilai tukar yang volatil, serta kesenjangan digital antarwilayah turut menjadi hambatan.
Di sisi lain, ia menilai dunia usaha akan menghadapi gelombang disrupsi yang semakin kuat. Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan otomasi berpotensi menggantikan pekerjaan rutin, sementara perilaku konsumen berubah menjadi serba cepat dan digital. Pengawasan publik melalui media sosial, pertumbuhan e-commerce dan social commerce, serta isu lingkungan juga menjadi faktor penentu arah bisnis ke depan.
“Dampaknya, margin tertekan, konsumen makin sensitif terhadap harga, layanan harus cepat, persaingan semakin global, dan siklus bisnis makin pendek,” kata Galih.
Untuk bertahan, ia menyarankan pengusaha memperkuat arus kas, fokus pada produk yang cepat menghasilkan (quick win), serta meningkatkan efisiensi operasional. Diversifikasi pasar dan penerapan otomasi dalam proses bisnis juga dinilai penting. Selain itu, organisasi yang ramping dan kewaspadaan terhadap perubahan menjadi kunci agar tidak tertinggal.
“Harus preventif, jangan reaktif,” ujarnya.
Adapun untuk mendorong pertumbuhan, Galih menekankan pentingnya ekspansi melalui kanal digital, membangun merek dan komunitas, serta menjalin kolaborasi strategis. Pengambilan keputusan berbasis data dan investasi yang tepat juga menjadi faktor penting dalam memperkuat daya saing.
“Bangun mastery dalam bisnis,” kata Galih.*** (Septiadi)





























