Menu

Mode Gelap
Bersama Rumah Aksara, Guru SMA Asah Kompetensi Menulis di Perpustakaan Bogor Helikopter Jatuh di Sekadau, Seluruh Penumpang Dilaporkan Tewas Gangguan Pasokan Bahan Baku Non Energi Mulai Tekan Industri, Ini Rekomendasi SCI Ditjen Hubdat Gelar Bimtek Kompetensi Pengemudi Angkutan Barang Ribuan Pelamar Padati Booth KAI di Campus Job Fair Semarang, KAI Daop 4 Semarang Ingatkan Waspada Penipuan Berkedok Rekrutmen Tumbuhkan Kecintaan Sejak Dini, 431 Peserta Ikuti Program Eduspoor KAI Daop 7 Madiun

EKOBIS

Gangguan Pasokan Bahan Baku Non Energi Mulai Tekan Industri, Ini Rekomendasi SCI

badge-check


 Founder SCI Perbesar

Founder SCI

Wartatrans.com, BANDUNG – Founder & Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menilai gangguan rantai pasok global telah mulai berdampak langsung pada ketersediaan bahan baku industri (non-energi) di Indonesia.

Indikasi paling nyata menurut Setijadi, terlihat dari lonjakan harga plastik domestik yang meningkat 50 hingga 100 persen, mencerminkan gangguan pasokan bahan baku impor yang menjadi input utama berbagai sektor manufaktur.

“Kondisi ini bukan sekadar kenaikan harga, tetapi merupakan sinyal awal dari krisis stok bahan baku. Gangguan tidak hanya terjadi pada plastik, tetapi juga pada bahan kimia industri seperti sulfur dan acid, material logam seperti aluminium, serta material kritikal seperti helium yang digunakan dalam industri elektronik dan teknologi tinggi,” urainya, Jumat (17/4/2026).

Dikatakannya, banyak dari material tersebut sulit disubstitusi dalam jangka pendek, sehingga berdampak langsung pada proses produksi.

Kerentanan Indonesia semakin besar karena struktur industrinya masih bergantung pada impor. Lebih dari 70 persen kebutuhan bahan baku industri nasional dipenuhi dari luar negeri, terutama untuk sektor kimia, petrokimia, dan manufaktur berbasis material.

Ketika pasokan global terganggu, industri domestik menghadapi risiko keterlambatan bahan baku, penurunan kapasitas produksi, serta peningkatan biaya input.

SCI melihat bahwa gangguan saat ini bersifat multi-material shortage, yaitu berbagai jenis bahan baku terdampak secara bersamaan. Dampaknya tidak hanya pada harga, tetapi juga pada ketersediaan fisik material, yang berpotensi menekan utilisasi pabrik dan mengganggu kontinuitas produksi.

“Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat memicu efek berantai berupa peningkatan lead time, kenaikan biaya produksi, serta tekanan terhadap harga produk di pasar,” ungkap dia.

Tanpa langkah mitigasi yang cepat dan terkoordinasi, gangguan pasokan bahan baku ini berpotensi menjadi hambatan struktural bagi pertumbuhan industri Indonesia.

Sebaliknya, kondisi ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan rantai pasok nasional dan meningkatkan daya saing industri di tengah dinamika global.

5 Rekomendasi

Setijadi menyatakan, SCI menyampaikan lima rekomendasi bagi para pihak.

Pertama, diversifikasi pasokan harus dilakukan secara agresif dan terukur; tidak lagi bergantung pada satu atau dua negara pemasok utama.

Diversifikasi dengan memetakan sumber alternatif di berbagai kawasan seperti Asia Selatan, Afrika, dan Amerika Latin, sekaligus mengevaluasi risiko geopolitik, stabilitas pasokan, dan kesiapan logistik agar tidak menciptakan kerentanan baru dalam rantai pasok.

Kedua, strategi persediaan diperkuat melalui selective buffering berbasis risiko.

Perusahaan harus mengidentifikasi bahan baku kritis yang sulit disubstitusi, lalu menerapkan kebijakan persediaan yang adaptif.

“Pendekatan ini bukan sekadar menambah stok, tetapi memastikan ketersediaan material strategis untuk menjaga kontinuitas produksi tanpa membebani biaya inventory secara berlebihan,” katanya.

Ketiga, visibilitas dan kontrol end-to-end rantai pasok harus ditingkatkan. Dalam kondisi ketidakpastian tinggi, perusahaan perlu memiliki transparansi penuh dari pemasok hulu hingga distribusi hilir.

Pemanfaatan teknologi seperti digital supply chain, tracking system, dan predictive analytics menjadi kunci untuk mendeteksi potensi gangguan lebih dini dan memungkinkan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.

Keempat, fleksibilitas material dan desain produk perlu dikembangkan.

Perusahaan harus mulai mengkaji alternatif bahan baku untuk mengurangi ketergantungan pada material tertentu.

Hal ini memerlukan kolaborasi antara fungsi procurement, R&D, dan produksi agar substitusi material tetap memenuhi standar kualitas dan tidak mengganggu performa produk.

Kelima, penguatan industri hulu dalam negeri harus dipercepat. Pemerintah perlu mendorong pengembangan sektor bahan baku domestik, khususnya petrokimia, kimia dasar, dan material industri.

“Selain mengurangi ketergantungan impor, langkah ini juga perlu didukung dengan integrasi hulu–hilir agar rantai pasok nasional menjadi lebih kuat, efisien, dan adaptif terhadap gangguan global,” pungkasnya. (omy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pameran Industri Tekstil dan Garmen, Primatek Group Tampilkan Teknologi Inovasi Terpadu

16 April 2026 - 16:48 WIB

Wow, Garuda Indonesia Dinobatkan jadi Maskapai Paling Tepat Waktu di Dunia periode Maret 2026

16 April 2026 - 12:05 WIB

PTP Nonpetikemas Teluk Bayur Layani Muatan 18.000 Ton Produk Turunan Kelapa Sawit Tujuan Pakistan

16 April 2026 - 09:56 WIB

IIBF Kota Depok: Tahun 2030 Bukan Ancaman, tapi Peluang

16 April 2026 - 05:32 WIB

Hasanuddin Atjo: Legalisasi Tambang Emas Rakyat Akan Untungkan Daerah

15 April 2026 - 16:53 WIB

Sambut Angkutan Haji, Garuda Indonesia Fokus Layanan Inklusif dan Ramah Jemaah Lansia

15 April 2026 - 14:04 WIB

Akhirnya TikTok Tutup 780 Ribu Akun Anak, Pemerintah Desak Platform Lain Mengikuti

15 April 2026 - 10:48 WIB

Korsel Berlakukan Travel Warning ke Bali, Peran Kemenpar Disoroti

15 April 2026 - 08:41 WIB

Syahmudrian Lubis jadi Dirut Baru Ancol

15 April 2026 - 08:14 WIB

Genjot Pendapatan, Pelabuhan Sunda Kelapa Optimalkan Pemanfaatan Aset Idle

14 April 2026 - 22:06 WIB

Trending di ANJUNGAN