Wartatrans.com, JAKARTA – Penyempurnaan akses dan fasilitas menjadi bagian penting dalam pengembangan LRT Jakarta Fase 1B, terutama untuk memastikan layanan dapat digunakan dengan aman dan nyaman oleh seluruh kelompok penumpang.
Selain memperluas konektivitas hingga Manggarai, kesiapan fasilitas menentukan kemudahan penyandang disabilitas, lansia, dan pengguna dengan kebutuhan mobilitas khusus dalam memanfaatkan transportasi publik.
Direktur Teknik dan Pengembangan Jakpro Robert Sarjaka mengatakan, penyempurnaan akses dan fasilitas pada jalur Velodrome–Manggarai dilakukan untuk mendukung transportasi publik yang nyaman dan aman bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Inklusivitas pada transportasi publik di Jakarta merupakan salah satu tujuan dari Pemprov DKI Jakarta agar seluruh lapisan masyarakat dapat menggunakan transportasi publik yang nyaman dan aman, hal ini yang sedang kami sempurnakan pada jalur LRT Jakarta Velodrome – Manggarai,” kata Robert, Selasa (13/10/2026).
Pembenahan fasilitas mencakup lift, eskalator, jalur landai, area prioritas, toilet ramah disabilitas, jalur pemandu, serta petunjuk arah.
Jakpro juga menargetkan penyempurnaan akses di Stasiun Manggarai selesai pada Oktober 2026.
Kebutuhan penyempurnaan tersebut menjadi perhatian setelah tiga stasiun, yakni Pramuka, Matraman, dan Proklamasi, belum melayani penumpang pada awal Oktober karena akses masuknya belum selesai.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Budi Awaluddin saat itu menjelaskan bahwa ketiga stasiun masih membutuhkan penyelesaian akses sebelum dapat digunakan masyarakat.
Persoalan aksesibilitas tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas, tetapi juga ketepatan pemasangan dan kemudahan penggunaannya.
Jalur pemandu yang tidak sesuai penempatan serta celah antara peron dan kereta dapat menyulitkan penyandang disabilitas, khususnya pengguna tongkat dan kursi roda.
Catur Sigit Nugroho, pengguna disabilitas yang tergabung dalam tim inklusi disabilitas Kementerian Perhubungan, menyampaikan catatan mengenai fasilitas LRT Jakarta saat peresmian Fase 1B pada 16 September 2026.
Ia menilai pemasangan jalur pemandu di sejumlah titik masih perlu diperbaiki.
“Kalau untuk fasilitas stasiun itu kemarin ada beberapa yang pemasangan guiding block gitu kan, yang untuk ini ada beberapa yang memang perlu dikoreksi,” kata Catur, Rabu (16/9/2026).
Catur juga menyoroti celah antara peron dan kereta yang dapat menyulitkan pengguna kursi roda listrik. Meski demikian, ia mengapresiasi penyediaan ramp portabel untuk membantu pengguna kursi roda naik dan turun kereta.
Pengembangan LRT Jakarta juga menjadi bagian dari pengelolaan aset dan sumber pendapatan Jakpro. Dalam laporan tahunan 2024, Jakpro mencatat pendapatan segmen infrastruktur yang berasal dari LRT Jakarta sebesar Rp458,568 miliar.
Sementara itu, PT LRT Jakarta mengembangkan pendapatan di luar penjualan tiket melalui kegiatan komersial, termasuk penyewaan ruang ritel, iklan, jasa teknis, pelatihan, dan pengelolaan parkir.
Pemanfaatan aset tersebut dapat mendukung pengembangan bisnis sekaligus memperluas fungsi stasiun sebagai bagian dari ekosistem transportasi publik.
Perluasan jalur hingga Manggarai membuka peluang konektivitas dengan KRL Commuter Line dan moda transportasi lainnya.
Manfaat konektivitas tersebut akan semakin optimal apabila perpindahan antarmoda mudah dilakukan dan fasilitas stasiun dapat digunakan secara aman oleh seluruh kelompok penumpang.
Penyempurnaan aksesibilitas karena itu menjadi bagian penting dari pengembangan LRT Jakarta. Kualitas layanan tidak hanya ditentukan oleh panjang jalur dan jumlah stasiun, tetapi juga oleh kemampuan fasilitas mendukung perjalanan penumpang secara aman, nyaman, dan inklusif. (Artha Tidar)




























