Wartatrans.com, JAKARTA – Pergerakan logistik terus menjadi bagian penting dalam menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan.
Sepanjang Triwulan I 2026, PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat angkutan peti kemas mencapai 1.371.036 ton, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 1.196.600 ton. Kenaikan ini menunjukkan pergeseran distribusi barang yang semakin mengandalkan moda transportasi berbasis rel.

Pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan upaya KAI dalam memperluas layanan logistik. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menghadirkan KA Brumbung Cargo, yang melayani pengangkutan barang dari Stasiun Brumbung, Kabupaten Demak, menuju Stasiun Pasoso, Jakarta. Layanan ini dirancang untuk memberikan pilihan distribusi yang lebih efisien dan terjadwal bagi pelaku usaha.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa peningkatan volume angkutan peti kemas menjadi sinyal positif terhadap kepercayaan pelanggan pada layanan logistik berbasis kereta api.
“Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa kereta api semakin dipilih sebagai bagian dari rantai distribusi. Perjalanan barang dapat direncanakan dengan lebih pasti, dengan waktu tempuh yang terjaga,” ujar Anne pada Senin (20/4/2026).
Sejalan dengan itu, kehadiran KA Brumbung Cargo menjadi bagian dari penguatan jaringan logistik di Pulau Jawa. Dengan rangkaian 20 gerbong datar atau setara 40 TEUs, kereta api ini memiliki kapasitas angkut hingga sekitar 800 ton dalam satu perjalanan dan melayani pengiriman multikomoditas dengan frekuensi satu kali setiap dua hari. Skema operasional ini memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk menyesuaikan kebutuhan distribusinya secara lebih terukur.
Pemilihan Stasiun Brumbung sebagai titik keberangkatan dilakukan melalui kajian yang mempertimbangkan posisi strategis serta potensi permintaan di wilayah Jawa Tengah. Jalur ini juga menghubungkan kawasan produksi dengan pusat distribusi di Jakarta, sehingga memperkuat konektivitas logistik antardaerah.
Peran wilayah operasional juga terlihat dari kinerja angkutan barang di Daop 4 Semarang. Selama Triwulan I tahun 2026, angkutan peti kemas tercatat 58.770 ton, meningkat 16% dibandingkan tahun 2025 sebesar 50.459 ton. Angkutan seperti BHP juga mencapai 693 ton atau meningkat 31%, serta angkutan lainnya sebesar 11.020 ton atau tumbuh 122%. Sementara itu, angkutan parcel tercatat 1.137 ton, menyesuaikan dengan dinamika kebutuhan distribusi.
Kinerja operasional di wilayah ini juga terjaga dengan baik. Ketepatan waktu keberangkatan angkutan barang di Daop 4 Semarang mencapai 99,26%, sementara kedatangan 97,85%, mendukung distribusi yang berjalan sesuai rencana.
Secara nasional, kinerja operasional angkutan barang KAI juga terus menunjukkan perbaikan. Pada Triwulan I 2026, ketepatan waktu keberangkatan tercatat 95,97% dan kedatangan 91,77%, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dengan keberangkatan 95,89% dan kedatangan 87,04%. Capaian ini menjaga distribusi barang tetap berjalan secara konsisten.
Anne menambahkan bahwa pengembangan angkutan barang berbasis rel juga berdampak pada efisiensi sistem transportasi secara keseluruhan. Perpindahan distribusi ke kereta api membantu mengurangi kepadatan di jalan raya serta menjaga kondisi infrastruktur tetap optimal.
“Perjalanan logistik yang beralih ke kereta api memberikan manfaat yang lebih luas, mulai dari efisiensi biaya hingga kelancaran distribusi di berbagai wilayah,” lanjutnya.
Melalui penguatan layanan seperti KA Brumbung Cargo dan peningkatan kinerja operasional di berbagai wilayah, KAI terus menyesuaikan layanannya dengan kebutuhan distribusi saat ini.
“Kami terus melakukan evaluasi dengan mendengarkan kebutuhan pelanggan serta mengikuti perkembangan distribusi logistik. Harapannya, kereta api dapat menjadi pilihan yang semakin relevan dalam mendukung pergerakan barang di Indonesia,” tutup Anne.(fahmi)





























