Menu

Mode Gelap
BNN Gelar Anjangsana ke Mantan Kepala BNN Heru Winarko Jelang HANI 2026 Menbud Klaim Market Share Film Domestik Tembus 67%, Tapi Penonton Bioskop Masih Susut B50 Mulai 1 Juli: 14 Juta Kiloliter Impor Ditebas, Risiko Mesin Mengintai Pameran Tunggal Andri Wintarso Angkat Art Therapy dan Kisah Kemanusiaan Penyandang Disabilitas Mengintip Transformasi PELNI di Bawah Kepemimpinan Tri Andayani Perhatian! Ada Perawatan Ruas Tol Jagorawi hingga 22 Juni

PERON

KAI Perkuat Peran Rel Sumatera Selatan, Layani 2,31 Juta Penumpang dan 11,66 Juta Ton Barang

badge-check


 KAI Perkuat Peran Rel Sumatera Selatan, Layani 2,31 Juta Penumpang dan 11,66 Juta Ton Barang Perbesar

Wartatrans.com, PALEMBANG – PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus memperkuat peran transportasi berbasis rel di Sumatera Selatan sebagai bagian dari upaya mendukung konektivitas nasional.

Sepanjang Januari–Mei 2026, layanan penumpang berbasis rel KAI Group di wilayah tersebut melayani 2.315.580 pelanggan, sementara angkutan barang Divre III Palembang mencapai 11,66 juta ton komoditas.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan perkeretaapian di Sumatera Selatan memiliki peran strategis yang telah berkembang selama lebih dari satu abad dalam menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, kawasan produksi, pelabuhan, hingga permukiman masyarakat.

“Rel di Sumatera Selatan memiliki sejarah panjang sebagai penghubung masyarakat dan ekonomi daerah. Dengan kapasitas besar dan jaringan yang terhubung ke simpul produksi, kereta api membantu logistik lebih efisien, menjaga pasokan, serta mendukung harga yang lebih terkendali,” ujar Anne dalam keterangan tertulis, Senin (15/6/2026).

Sejarah perkeretaapian di Sumatera Selatan bermula pada 1914 ketika pemerintah kolonial Belanda melalui Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS) membangun jaringan rel yang menghubungkan Pelabuhan Panjang di Lampung dengan wilayah pedalaman Sumatera Selatan. Jalur tersebut dirancang untuk mendukung distribusi hasil bumi, hasil hutan, dan komoditas tambang, termasuk batu bara.

Tonggak penting berikutnya terjadi pada 1 November 1915 saat jalur Kertapati–Prabumulih sepanjang 78 kilometer mulai beroperasi. Jalur ini kemudian berkembang hingga menjangkau Muara Enim, Tanjung Enim, Lahat, Tebing Tinggi, hingga Lubuklinggau pada 1933.

Setelah kemerdekaan, jaringan rel tersebut dikelola oleh Djawatan Kereta Api dan terus berperan sebagai sarana transportasi penting bagi masyarakat serta distribusi komoditas di wilayah Sumatera bagian selatan.

Pada layanan penumpang, KAI saat ini mengoperasikan KA Sindang Marga relasi Kertapati–Lubuklinggau, KA Bukit Serelo relasi Kertapati–Lubuklinggau, serta KA Rajabasa relasi Kertapati–Tanjungkarang. Selama Januari–Mei 2026, layanan kereta api penumpang Divre III Palembang melayani 500.563 pelanggan.

Sementara itu, LRT Sumsel yang menjadi bagian dari layanan KAI Group mencatat 1.815.017 pelanggan pada periode yang sama. Layanan tersebut menghubungkan berbagai pusat aktivitas di Kota Palembang, termasuk akses menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.
Dengan demikian, total pelanggan layanan penumpang berbasis rel KAI Group di Sumatera Selatan selama lima bulan pertama 2026 mencapai 2.315.580 orang.

Di sektor logistik, Divre III Palembang mencatat volume angkutan barang sebesar 11,66 juta ton. Komoditas yang diangkut meliputi batu bara, bahan bakar minyak (BBM), pulp, serta berbagai komoditas lain yang mendukung aktivitas industri dan perekonomian daerah.

Menurut Anne, besarnya volume angkutan barang tersebut menunjukkan pentingnya kereta api dalam ekosistem logistik Sumatera bagian selatan. Dengan kapasitas angkut yang besar, jadwal yang terencana, serta konektivitas ke sentra produksi dan pelabuhan, kereta api dinilai mampu meningkatkan efisiensi distribusi barang.

“KAI Group akan terus memperkuat peran perkeretaapian Sumatera Selatan sejalan dengan arah pembangunan konektivitas nasional. Dengan sejarah yang kuat dan kebutuhan mobilitas yang terus tumbuh, rel di Sumatera Selatan menjadi bagian penting dalam menghubungkan masyarakat, kawasan ekonomi, pusat layanan, dan simpul transportasi utama,” tutup Anne.(fahmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KAI Perkuat Layanan PSO, KA Cikuray dan Kereta Petani-Pedagang Jadi Penopang Mobilitas Ekonomi Rakyat

18 Juni 2026 - 19:00 WIB

Lebih Seabad Rel Lampung, KAI Catat 498 Ribu Penumpang dan 11,44 Juta Ton Angkutan Barang

18 Juni 2026 - 17:11 WIB

Hari Pertama Beroperasi, KA Pandalungan 2 Angkut 390 Penumpang dari Daop 1 Jakarta

18 Juni 2026 - 15:05 WIB

331 Ribu Tiket Diskon KA 30 Persen Ludes Terjual, KAI Masih Sediakan 843 Ribu Kursi untuk Libur Sekolah

18 Juni 2026 - 11:18 WIB

Kuliner Kereta Tebar Promo Sambut Operasional Perdana KA Pandalungan 2

18 Juni 2026 - 11:11 WIB

KAI Tingkatkan Kenyamanan KA Rajabasa, Gunakan Kereta Ekonomi Premium Modifikasi Mulai 4 Juli

18 Juni 2026 - 00:53 WIB

KAI Commuter dan Coca-Cola Hadirkan Instalasi Tematik FIFA World Cup 2026 di KRL

17 Juni 2026 - 15:07 WIB

KAI Layani 24,37 Juta Pelanggan Kereta Api sampai Mei 2026, Hubungkan Pusat Ekonomi, Pendidikan, Wisata, hingga Keluarga di Jawa serta Sumatra

17 Juni 2026 - 14:16 WIB

Libur Tahun Baru Islam, Penjualan Tiket Whoosh Tembus 10.736, Arus Balik Bandung-Jakarta Mulai Terlihat

17 Juni 2026 - 09:00 WIB

KAI Angkut 26,49 Juta Ton Barang, Perkuat Efisiensi Logistik Nasional

17 Juni 2026 - 04:35 WIB

Trending di PERON