Wartatrans.com, BANDA ACEH – Komunitas seni independen Kanot Bu turut memberi warna dalam rangkaian Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026 melalui kolaborasi pembacaan puisi dan pertunjukan seni lukis secara langsung (live painting). Penampilan tersebut menjadi salah satu atraksi yang memperlihatkan perjumpaan sastra dengan seni rupa dalam satu panggung pada Sabtu malam (27/06/2026) di panggung Museum Tsunami, Banda Aceh.
Sejumlah anggota Kanot Bu membacakan puisi yang mengangkat tema kemanusiaan, perdamaian, dan kebudayaan, sejalan dengan semangat PPN XIV yang mempertemukan penyair dari berbagai daerah di Indonesia dan 14 negara. Di saat yang sama, perupa Kanot Bu menghadirkan karya lukis secara langsung di hadapan penonton, menerjemahkan kata-kata puisi menjadi ekspresi visual.

Kolaborasi itu mendapat apresiasi dari peserta dan penonton karena menghadirkan pengalaman sastra yang tidak hanya didengar, tetapi juga disaksikan melalui proses kreatif seni rupa.
Kanot Bu dikenal sebagai komunitas seni independen yang berbasis di Banda Aceh. Berdiri sejak 2008, komunitas ini menjadi ruang berkumpul para seniman lintas disiplin, mulai dari penyair, perupa, fotografer, musisi, hingga pegiat literasi. Selama ini Kanot Bu aktif menggelar pameran, diskusi, penerbitan buku, kelas kreatif, dan berbagai kolaborasi kebudayaan di Aceh.
PPN XIV Aceh sendiri berlangsung pada 22–28 Juni 2026 dan diikuti ratusan penyair serta budayawan dari Indonesia dan mancanegara. Ajang ini digagas sebagai ruang silaturahmi, pertukaran gagasan, serta penguatan jejaring sastra dan budaya. Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia menerima lebih dari seribu naskah puisi dari ratusan penulis, dengan sekitar 300 karya yang lolos kurasi untuk diterbitkan dalam antologi internasional.
Kehadiran Kanot Bu menunjukkan bahwa PPN XIV tidak hanya menjadi panggung pembacaan puisi, tetapi juga ruang kolaborasi berbagai cabang seni. Perpaduan sastra dan seni lukis tersebut mempertegas pesan bahwa puisi dapat hidup dalam beragam medium, sehingga mampu menjangkau publik yang lebih luas sekaligus memperkaya ekosistem kebudayaan Aceh.*** (Jasa)






























