Wartatrans.com, BANYUMAS – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, meresmikan Gedung Sarana dan Prasarana Kebudayaan berupa Penataan dan Pembenahan Aset Budaya Rumah Sastra dan Perpustakaan Ahmad Tohari di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (27/6/2026).
Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti. Turut mendampingi Menteri Kebudayaan antara lain Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, Plt. Kepala Disporabudpar Kabupaten Banyumas Junaedi, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Agus Anggraito, Camat Jatilawang Bastiar Dwiharyatno, serta jajaran organisasi perangkat daerah terkait.

Dalam sambutannya, Fadli Zon menegaskan bahwa revitalisasi Rumah Sastra Ahmad Tohari merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk menjaga warisan sastra Indonesia sekaligus memperkuat ekosistem literasi dan kebudayaan di tengah masyarakat.
Menurutnya, meskipun Kementerian Kebudayaan masih berusia muda dan menghadapi kebijakan efisiensi anggaran, pemerintah tetap berupaya menghadirkan program yang berdampak nyata bagi pemajuan kebudayaan.
“Di tengah efisiensi anggaran, kami bersyukur masih dapat melakukan revitalisasi sekitar 159 aset budaya, baik situs cagar budaya maupun kantong budaya. Rumah Sastra Ahmad Tohari menjadi salah satu pusat yang menggerakkan generasi muda untuk membaca,” ujar Fadli.
Ia menilai Ahmad Tohari merupakan salah satu sastrawan besar Indonesia yang telah melahirkan sedikitnya delapan novel, dengan Ronggeng Dukuh Paruk sebagai karya monumentalnya. Menurut Fadli, kebudayaan tidak hanya dimaknai sebagai seni pertunjukan, tetapi mencakup tradisi, cagar budaya, museum, pengetahuan lokal hingga perlindungan hak kekayaan intelektual.
Keberadaan Rumah Sastra Ahmad Tohari, lanjutnya, memiliki peran strategis sebagai pusat literasi yang menjaga warisan intelektual sekaligus menjadi ruang belajar bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum yang setiap hari memanfaatkan perpustakaan serta berbagai kegiatan literasi.
Menteri Kebudayaan juga memberikan penghormatan kepada Ahmad Tohari atas dedikasinya dalam memajukan sastra Indonesia. Melalui karya-karyanya, terutama Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari dinilai berhasil mengangkat kehidupan masyarakat Banyumas, nilai-nilai kemanusiaan, tradisi lokal, serta kekayaan bahasa Banyumasan hingga dikenal luas, termasuk melalui adaptasi film Sang Penari.
Untuk memperkuat ekosistem sastra nasional, Kementerian Kebudayaan terus mengembangkan berbagai program strategis, di antaranya Laboratorium Penerjemah dan Promotor Sastra, Penerjemahan Karya Sastra, Penguatan Komunitas dan Festival Sastra, Manajemen Talenta Nasional Bidang Sastra, serta Pengembangan Sastra berbasis Intellectual Property (IP).
Sementara itu, Ahmad Tohari menyambut baik revitalisasi Rumah Sastra yang telah lama dikelolanya. Ia mengungkapkan bahwa perpustakaan tersebut selama ini ramai dikunjungi masyarakat dan menjadi ruang lahirnya berbagai diskusi sastra lintas generasi.
Peresmian juga dihadiri Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Kebudayaan dan Hubungan Internasional Nissa Rengganis, Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda, Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan Feri Arlius, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah Nahar Cahyandaru, serta para penulis, pegiat sastra, dan seniman dari berbagai komunitas di Banyumas.
Sebelum peresmian berlangsung, kegiatan diawali dengan dialog sastra bersama Ahmad Tohari yang dipandu Presiden Geguritan Wanto Tirta, monolog “Dwi Fungsi Ronggeng” oleh Hamidin Krazan dari Komunitas Sastra Pinggiran, serta pertunjukan kesenian calung dan ronggeng dari Tinggarjaya.*** (Ham)






























