Menu ✖

Mode Gelap
Perawatan Sistem Avionik, FL Technics Indonesia Gandeng GE Aerospace InJourney Airports dan SDhI Rampungkan Transisi Pengelolaan Bandara Dhoho Garuda dan Yoowifi Hadirkan eSIM, Komunikasi  jadi Makin Terjangkau Saat di Luar Negeri Modernisasi PPN Pengambengan, Nelayan Lokal Harap Ada Lapangan Kerja Saat Paceklik El Nino Sangat Kuat, 669 Hotspot Terdeteksi di Fakfak Lima Tahun Merger, Pelindo Regional 2 Perkuat Transformasi Layanan dan Kinerja Kepelabuhanan

SENI BUDAYA

Kementerian Kebudayaan Resmikan Rumah Sastra Ahmad Tohari di Banyumas

badge-check


 Kementerian Kebudayaan Resmikan Rumah Sastra Ahmad Tohari di Banyumas Perbesar

Wartatrans.com, BANYUMAS – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, meresmikan Gedung Sarana dan Prasarana Kebudayaan berupa Penataan dan Pembenahan Aset Budaya Rumah Sastra dan Perpustakaan Ahmad Tohari di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (27/6/2026).

Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti. Turut mendampingi Menteri Kebudayaan antara lain Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, Plt. Kepala Disporabudpar Kabupaten Banyumas Junaedi, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Agus Anggraito, Camat Jatilawang Bastiar Dwiharyatno, serta jajaran organisasi perangkat daerah terkait.

Dalam sambutannya, Fadli Zon menegaskan bahwa revitalisasi Rumah Sastra Ahmad Tohari merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk menjaga warisan sastra Indonesia sekaligus memperkuat ekosistem literasi dan kebudayaan di tengah masyarakat.

Menurutnya, meskipun Kementerian Kebudayaan masih berusia muda dan menghadapi kebijakan efisiensi anggaran, pemerintah tetap berupaya menghadirkan program yang berdampak nyata bagi pemajuan kebudayaan.

“Di tengah efisiensi anggaran, kami bersyukur masih dapat melakukan revitalisasi sekitar 159 aset budaya, baik situs cagar budaya maupun kantong budaya. Rumah Sastra Ahmad Tohari menjadi salah satu pusat yang menggerakkan generasi muda untuk membaca,” ujar Fadli.

Ia menilai Ahmad Tohari merupakan salah satu sastrawan besar Indonesia yang telah melahirkan sedikitnya delapan novel, dengan Ronggeng Dukuh Paruk sebagai karya monumentalnya. Menurut Fadli, kebudayaan tidak hanya dimaknai sebagai seni pertunjukan, tetapi mencakup tradisi, cagar budaya, museum, pengetahuan lokal hingga perlindungan hak kekayaan intelektual.

Keberadaan Rumah Sastra Ahmad Tohari, lanjutnya, memiliki peran strategis sebagai pusat literasi yang menjaga warisan intelektual sekaligus menjadi ruang belajar bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum yang setiap hari memanfaatkan perpustakaan serta berbagai kegiatan literasi.

Menteri Kebudayaan juga memberikan penghormatan kepada Ahmad Tohari atas dedikasinya dalam memajukan sastra Indonesia. Melalui karya-karyanya, terutama Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari dinilai berhasil mengangkat kehidupan masyarakat Banyumas, nilai-nilai kemanusiaan, tradisi lokal, serta kekayaan bahasa Banyumasan hingga dikenal luas, termasuk melalui adaptasi film Sang Penari.

Untuk memperkuat ekosistem sastra nasional, Kementerian Kebudayaan terus mengembangkan berbagai program strategis, di antaranya Laboratorium Penerjemah dan Promotor Sastra, Penerjemahan Karya Sastra, Penguatan Komunitas dan Festival Sastra, Manajemen Talenta Nasional Bidang Sastra, serta Pengembangan Sastra berbasis Intellectual Property (IP).

Sementara itu, Ahmad Tohari menyambut baik revitalisasi Rumah Sastra yang telah lama dikelolanya. Ia mengungkapkan bahwa perpustakaan tersebut selama ini ramai dikunjungi masyarakat dan menjadi ruang lahirnya berbagai diskusi sastra lintas generasi.

Peresmian juga dihadiri Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Kebudayaan dan Hubungan Internasional Nissa Rengganis, Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda, Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan Feri Arlius, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah Nahar Cahyandaru, serta para penulis, pegiat sastra, dan seniman dari berbagai komunitas di Banyumas.

Sebelum peresmian berlangsung, kegiatan diawali dengan dialog sastra bersama Ahmad Tohari yang dipandu Presiden Geguritan Wanto Tirta, monolog “Dwi Fungsi Ronggeng” oleh Hamidin Krazan dari Komunitas Sastra Pinggiran, serta pertunjukan kesenian calung dan ronggeng dari Tinggarjaya.*** (Ham)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kebun Hantu, Menyusuri Arsip Tubuh dan Pengalaman yang Tak Selesai

1 Oktober 2026 - 10:53 WIB

Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO

1 Oktober 2026 - 03:44 WIB

Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda

1 Oktober 2026 - 03:12 WIB

Rhoma Irama Menangis Saat Menonton Film Lawas, dari Pengabdian ke Perjuangan Dangdut Menuju UNESCO

30 September 2026 - 08:17 WIB

Kolaborasi Addie MS & Twilite Orchestra, Anggun, dan Judika Warnai Perayaan 81 Tahun KAI

30 September 2026 - 07:37 WIB

Mentor Bang Budi dan Lukisan Karya Anak yang Membawa Cerita Aceh Tamiang ke Jakarta

30 September 2026 - 01:37 WIB

Bupati Aceh Tamiang Dorong Terapi Melukis untuk Pulihkan Trauma Anak Korban Bencana

29 September 2026 - 19:34 WIB

Ekraf Peduli Hadirkan Karya Anak Korban Bencana Sumatra, Pemerintah Dorong Pemulihan Lewat Seni

29 September 2026 - 18:39 WIB

Dianna Dee Full Jadwal Show, Sempatkan Cover Lagu di YouTube, 1 Minggu Tembus Setengah Juta Views

29 September 2026 - 17:10 WIB

HUT ke 81, KAI Daop 4 Semarang Menggelar Acara Baca Puisi Antar Negara

29 September 2026 - 09:44 WIB

Trending di RAGAM