Wartatrans.com, JAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan sistem monitoring dan konservasi penyu berbasis semi-digital di Desa Eilogo, Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur.
Program ini menjadi bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Bottom Up ITB Tahun 2026 untuk memperkuat peran masyarakat pesisir dalam menjaga penyu dan habitatnya.

Program yang dipimpin Prof. Dr. Mutiara Rachmat Putri dari Kelompok Keahlian Oseanografi Lingkungan dan Terapan, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB tersebut melibatkan KKP dalam kegiatan sosialisasi literasi laut dan konservasi penyu kepada masyarakat.
Kepala Pusat Kebijakan Strategis KKP, Syamdidi, mengatakan kolaborasi ini dirancang agar masyarakat dapat melakukan pemantauan penyu secara mandiri dengan memanfaatkan teknologi yang sederhana dan mudah digunakan.
“Pendekatan yang sederhana, partisipatif, dan sesuai dengan kondisi setempat penting agar sistem monitoring dapat digunakan secara berkelanjutan oleh masyarakat,” ujar Syamdidi dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Menurut Syamdidi, Desa Eilogo sebagai wilayah tertinggal dan terluar masih menghadapi keterbatasan akses telekomunikasi, infrastruktur, serta tingkat literasi digital yang beragam. Karena itu, program memanfaatkan aplikasi KoboCollect yang dapat digunakan untuk menginput data meski tanpa jaringan internet.
Aplikasi tersebut diadaptasi dari instrumen pendataan milik Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dengan penambahan parameter suhu dan pH tanah guna memperkaya data hasil observasi. Melalui aplikasi ini, masyarakat dapat mengisi formulir dan mendokumentasikan kondisi lapangan menggunakan telepon genggam, kemudian menyinkronkan data saat perangkat kembali terhubung ke internet.
Penggunaan sistem semi-digital tersebut dinilai mampu membuat pelaporan lebih praktis, terstruktur, dan fleksibel tanpa bergantung sepenuhnya pada jaringan internet. Pendekatan ini juga memanfaatkan perangkat yang telah dimiliki masyarakat sehingga lebih mudah diterapkan sesuai kapasitas komunitas setempat.
Pada 2026, program mencakup tahapan persiapan, sosialisasi, pelatihan, pendampingan, hingga monitoring berkelanjutan. Sasaran utama adalah Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Pantai Hidup Rukun yang beranggotakan 13 orang untuk melakukan observasi serta pelestarian kawasan pendaratan penyu.
Kegiatan sosialisasi juga melibatkan Pokmaswas Desa Deme, Waduwalla, Dainao, dan Bodae. Program ini ditargetkan meningkatkan pemahaman sedikitnya 40 peserta mengenai pentingnya konservasi penyu, dengan manfaat tidak langsung bagi sekitar 200 anggota keluarga.
Selain itu, kegiatan literasi laut juga menyasar siswa-siswi SMA sebagai upaya menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap ekosistem laut dengan potensi menjangkau lebih dari 100 peserta.
Program tersebut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 14 tentang Ekosistem Lautan, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, dan SDG 17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, organisasi konservasi, dan masyarakat.
Selain KKP dan ITB, pelaksanaan program turut melibatkan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Pokmaswas Pantai Hidup Rukun Desa Eilogo, mahasiswa Program Studi Oseanografi dan Sains Kebumian ITB, periset PRIMA-BRIN, serta dosen Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Nusa Cendana.(fahmi)































