Menu ✖

Mode Gelap
Maulid Nabi di YPL Al-Hidayah, Siswa Diajak Meneladani Empat Sifat Rasulullah Menara Astra Terapkan AI, Konsumsi Energi HVAC Ditargetkan Turun 10%-20% Peluncuran Buku Dampak MotoGP Mandalika, InJourney: Tegaskan Peran Sport Tourism sebagai Penggerak Ekonomi Pangkas Rugi 23,2%, Garuda Lulus Uji di Tengah Beban Avtur Global KAI Services Apresiasi Petugas Keamanan yang Bantu Penumpang Melahirkan di KRL Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO

SOSOK

Mama Falak Pagentongan, Ulama yang Menjaga Waktu

badge-check


 Mama Falak Pagentongan, Ulama yang Menjaga Waktu Perbesar

Wartatrans.com, BOGOR — Pagentongan pagi itu tenang. Kabut tipis turun perlahan, menyapu nisan-nisan tua yang berbaris rapi. Di salah satu sudut pemakaman, peziarah datang silih berganti. Ada yang membaca doa lirih, ada yang hanya duduk diam, seolah ingin menyerap keteduhan yang tak kasatmata. Di sinilah KH Tubagus Muhammad Falak dimakamkan—ulama yang lebih dikenal umat dengan panggilan penuh takzim: Mama Falak Pagentongan.

Ia hidup lebih dari satu abad. Tapi panjang umurnya bukan sekadar soal bilangan tahun. Ia adalah kisah tentang kesabaran yang dirawat lama, tentang ilmu yang dijaga dengan rendah hati, dan tentang doa yang bekerja pelan namun pasti.

Anak Banten yang Memilih Jalan Sunyi

Tubagus Muhammad Falak lahir pada 1842, di Banten, dari keluarga ulama. Sejak kecil, hidupnya akrab dengan tikar, kitab, dan suara mengaji. Ia bukan anak yang banyak bicara. Para tetua kampung mengenangnya sebagai bocah pendiam dengan tatapan tajam dan ingatan kuat.

Hari-harinya diisi oleh rutinitas yang nyaris tak berubah: mengaji, membantu orang tua, dan berkhidmat kepada guru. Di masa ketika banyak orang mengejar posisi dan pengaruh, Falak muda justru memilih jalan sunyi: jalan ilmu.

Seperti banyak ulama Nusantara abad ke-19, Falak hijrah ke Mekkah. Ia tinggal di sana bukan sebentar—melainkan puluhan tahun. Ia belajar tafsir, hadis, fikih, ushul fikih, dan tasawuf. Tapi satu bidang membuat namanya melekat kuat: ilmu falak, ilmu perbintangan yang menentukan waktu-waktu ibadah.

Di Mekkah, waktu bukan sekadar jarum jam. Waktu adalah ibadah. Falak memahami itu dengan sungguh-sungguh. Keahliannya membuat para guru memberinya julukan “Falak”—sebuah pengakuan yang tak semua murid dapatkan.

Ia mengajar di Madrasah Shaulatiyah, lembaga pendidikan ternama di Tanah Suci. Muridnya datang dari berbagai negeri. Tapi Falak tak pernah berlagak sebagai ulama besar. Ia tetap hidup sederhana, nyaris tak meninggalkan jejak selain pada ingatan murid-muridnya.

Ketika pulang ke tanah air, Falak tidak memilih pusat kekuasaan atau kota besar. Ia menetap di Pagentongan, Bogor—kampung sunyi di kaki perbukitan. Dari tempat inilah ia mendirikan Pesantren Al-Falak.

Pesantren itu tumbuh pelan. Tak megah. Tak hiruk. Tapi namanya menyebar dari mulut ke mulut. Santri datang dari berbagai daerah. Mereka belajar kitab, tapi juga belajar hidup: tentang sabar, tentang ikhlas, tentang tidak tergesa-gesa mengejar dunia.

Mama Falak dikenal keras pada diri sendiri, lembut pada orang lain. Ia jarang memuji, tak suka menegur dengan suara tinggi. Nasehatnya pendek-pendek, tapi tinggal lama di kepala.

Mama Falak adalah mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Tapi ia tidak menjual kesan mistik. Tasawuf baginya bukan pertunjukan karomah, melainkan latihan harian: menahan diri, membersihkan niat, dan terus beribadah meski usia menua.

Orang-orang sering bercerita tentang doanya yang mustajab. Tapi ia sendiri tak pernah membicarakannya. Jika ditanya, ia hanya tersenyum. Barangkali baginya, karomah terbesar adalah istiqamah—bangun sebelum subuh, mengajar hingga senja, dan berdoa hingga suara melemah dimakan usia.

Di masa penjajahan dan pergolakan bangsa, Mama Falak tak mengangkat senjata. Ia mengangkat doa. Para pejuang dan tokoh masyarakat datang meminta nasihat. Ia tak memberi strategi perang, tapi menguatkan keyakinan.

Dalam diamnya, ia menjadi poros moral—tempat orang menimbang langkah ketika keadaan terasa genting. Mama Falak wafat pada 19 Juli 1972. Usianya lebih dari seratus tahun. Ia meninggalkan pesantren, murid-murid, dan jejak keteladanan yang sulit ditiru di zaman serba cepat.

Hari ini, makamnya diziarahi ribuan orang. Mereka datang bukan untuk meminta kekayaan atau jabatan. Mereka datang untuk mengingat—bahwa hidup yang dijalani dengan lurus, meski sunyi, akan bergema lama.

Dari Mama Falak Pagentongan, kita belajar bahwa: ilmu tidak perlu berisik, doa tidak perlu dipamerkan, dan pengabdian tidak selalu harus terlihat.

Ia menjaga waktu—dengan ibadah. Menjaga ilmu—dengan keikhlasan. Menjaga umat—dengan doa. Dan barangkali, di zaman yang serba tergesa ini, itulah warisan paling berharga.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

SBY Terkesan dengan Giat Guruh Sukarno Putra Semasa Hidup

27 September 2026 - 05:19 WIB

Guruh Sukarnoputra Berpulang, Keluarga Besar Soekarno Mohon Doa

26 September 2026 - 07:22 WIB

Menhub Dudy Lantik Ahmad jadi Ketua KNKT Masa Jabatan 2026-2030

25 September 2026 - 13:31 WIB

Dua Insan KAI Services Raih Penghargaan di KAI Service Champion 2026

25 September 2026 - 08:39 WIB

Dr. Sulaiman Juned Sampaikan Duka Mendalam atas Wafatnya Tokoh Pers dan Budayawan Aceh H. Sjamsul Kahar

24 September 2026 - 09:01 WIB

Dirut KAI Services Bekali Mahasiswa UNY soal Kepemimpinan dan Kesiapan Masuk Dunia Kerja

16 September 2026 - 16:00 WIB

Suahasil Dilantik Presiden Gantikan Purbaya sebagai Menteri Keuangan

14 September 2026 - 16:32 WIB

SM Sekper PTP Nonpetikemas Sabet Penghargaan Rising Women Communications Leaders PRIWOLA 2026

11 September 2026 - 19:40 WIB

Kisah Perempuan Gaza: Dari Persiapan Perkawinan ke Medan Pertempuran 

7 September 2026 - 15:21 WIB

Prabowo Dorong Kesempatan Warga Dayak Pedalaman Mengabdi di TNI

1 September 2026 - 11:26 WIB

Trending di NASIONAL