Menu

Mode Gelap
Pascagempa, Kemen PU Pastikan Akses dan Kebutuhan Dasar di Labuan Bajo Segera Ditangani Jelang 17 Agustus, 16.913 Tiket Promo KAI Terjual, Pemesanan Long Weekend Capai 706.908 Tiket Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores Besok, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Berkumandang Serentak di 37 Bandara InJourney Airports Bergerak Bersama, KMP Ile Labalekan ASDP Turut Antarkan Bantuan untuk Pulihkan NTT Penyair LK Ara dan Salman Yoga Baca Puisi di Hari Didong

SOSOK

Mama Falak Pagentongan, Ulama yang Menjaga Waktu

badge-check


 Mama Falak Pagentongan, Ulama yang Menjaga Waktu Perbesar

Wartatrans.com, BOGOR — Pagentongan pagi itu tenang. Kabut tipis turun perlahan, menyapu nisan-nisan tua yang berbaris rapi. Di salah satu sudut pemakaman, peziarah datang silih berganti. Ada yang membaca doa lirih, ada yang hanya duduk diam, seolah ingin menyerap keteduhan yang tak kasatmata. Di sinilah KH Tubagus Muhammad Falak dimakamkan—ulama yang lebih dikenal umat dengan panggilan penuh takzim: Mama Falak Pagentongan.

Ia hidup lebih dari satu abad. Tapi panjang umurnya bukan sekadar soal bilangan tahun. Ia adalah kisah tentang kesabaran yang dirawat lama, tentang ilmu yang dijaga dengan rendah hati, dan tentang doa yang bekerja pelan namun pasti.

Anak Banten yang Memilih Jalan Sunyi

Tubagus Muhammad Falak lahir pada 1842, di Banten, dari keluarga ulama. Sejak kecil, hidupnya akrab dengan tikar, kitab, dan suara mengaji. Ia bukan anak yang banyak bicara. Para tetua kampung mengenangnya sebagai bocah pendiam dengan tatapan tajam dan ingatan kuat.

Hari-harinya diisi oleh rutinitas yang nyaris tak berubah: mengaji, membantu orang tua, dan berkhidmat kepada guru. Di masa ketika banyak orang mengejar posisi dan pengaruh, Falak muda justru memilih jalan sunyi: jalan ilmu.

Seperti banyak ulama Nusantara abad ke-19, Falak hijrah ke Mekkah. Ia tinggal di sana bukan sebentar—melainkan puluhan tahun. Ia belajar tafsir, hadis, fikih, ushul fikih, dan tasawuf. Tapi satu bidang membuat namanya melekat kuat: ilmu falak, ilmu perbintangan yang menentukan waktu-waktu ibadah.

Di Mekkah, waktu bukan sekadar jarum jam. Waktu adalah ibadah. Falak memahami itu dengan sungguh-sungguh. Keahliannya membuat para guru memberinya julukan “Falak”—sebuah pengakuan yang tak semua murid dapatkan.

Ia mengajar di Madrasah Shaulatiyah, lembaga pendidikan ternama di Tanah Suci. Muridnya datang dari berbagai negeri. Tapi Falak tak pernah berlagak sebagai ulama besar. Ia tetap hidup sederhana, nyaris tak meninggalkan jejak selain pada ingatan murid-muridnya.

Ketika pulang ke tanah air, Falak tidak memilih pusat kekuasaan atau kota besar. Ia menetap di Pagentongan, Bogor—kampung sunyi di kaki perbukitan. Dari tempat inilah ia mendirikan Pesantren Al-Falak.

Pesantren itu tumbuh pelan. Tak megah. Tak hiruk. Tapi namanya menyebar dari mulut ke mulut. Santri datang dari berbagai daerah. Mereka belajar kitab, tapi juga belajar hidup: tentang sabar, tentang ikhlas, tentang tidak tergesa-gesa mengejar dunia.

Mama Falak dikenal keras pada diri sendiri, lembut pada orang lain. Ia jarang memuji, tak suka menegur dengan suara tinggi. Nasehatnya pendek-pendek, tapi tinggal lama di kepala.

Mama Falak adalah mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Tapi ia tidak menjual kesan mistik. Tasawuf baginya bukan pertunjukan karomah, melainkan latihan harian: menahan diri, membersihkan niat, dan terus beribadah meski usia menua.

Orang-orang sering bercerita tentang doanya yang mustajab. Tapi ia sendiri tak pernah membicarakannya. Jika ditanya, ia hanya tersenyum. Barangkali baginya, karomah terbesar adalah istiqamah—bangun sebelum subuh, mengajar hingga senja, dan berdoa hingga suara melemah dimakan usia.

Di masa penjajahan dan pergolakan bangsa, Mama Falak tak mengangkat senjata. Ia mengangkat doa. Para pejuang dan tokoh masyarakat datang meminta nasihat. Ia tak memberi strategi perang, tapi menguatkan keyakinan.

Dalam diamnya, ia menjadi poros moral—tempat orang menimbang langkah ketika keadaan terasa genting. Mama Falak wafat pada 19 Juli 1972. Usianya lebih dari seratus tahun. Ia meninggalkan pesantren, murid-murid, dan jejak keteladanan yang sulit ditiru di zaman serba cepat.

Hari ini, makamnya diziarahi ribuan orang. Mereka datang bukan untuk meminta kekayaan atau jabatan. Mereka datang untuk mengingat—bahwa hidup yang dijalani dengan lurus, meski sunyi, akan bergema lama.

Dari Mama Falak Pagentongan, kita belajar bahwa: ilmu tidak perlu berisik, doa tidak perlu dipamerkan, dan pengabdian tidak selalu harus terlihat.

Ia menjaga waktu—dengan ibadah. Menjaga ilmu—dengan keikhlasan. Menjaga umat—dengan doa. Dan barangkali, di zaman yang serba tergesa ini, itulah warisan paling berharga.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

ATL Beri Mandat Salman Yoga Bentuk Kepengurusan ATL Gayo 2026–2030

14 Agustus 2026 - 16:13 WIB

Ireng Halimun dan Perjalanan Panjang Seni Lukis

1 Agustus 2026 - 13:24 WIB

Khaidir Abdulrahman: Korban Penyalahgunaan Narkoba Harus Diselamatkan, Bukan Dijauhi

22 Juli 2026 - 20:42 WIB

Bertemu Awak Media Jakarta, Ahli Waris Kapitan Pattimura Frans Matulessy Dapat Dukungan Moril Pembangunan Museum

21 Juli 2026 - 21:22 WIB

Haul Akbar Kenang Syuhada Beutong Ateuh Digelar 23 Juli di Nagan Raya

21 Juli 2026 - 20:03 WIB

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Mengintip Transformasi PELNI di Bawah Kepemimpinan Tri Andayani

19 Juni 2026 - 12:49 WIB

RUPS 2025: Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

18 Juni 2026 - 09:04 WIB

Yusuf Kurniawan Raih Penghargaan Inspiring Frontliner of the Month KAI Services April 2026

26 Mei 2026 - 10:10 WIB

Trending di SOSOK