Wartatrans.com, JAKARTA – Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan berupaya meningkatkan keselamatan transportasi jalan melalui berbagai strategi mulai dari pengawasan, penegakan hukum, hingga edukasi/kampanye.
Keselamatan transportasi darat perlu menjadi budaya yang diterapkan oleh semua stakeholders, tidak hanya pemerintah sebagai regulator tetapi juga pihak lainnya, seperti operator perusahaan angkutan dan masyarakat untuk mematuhi aturan.
Direktur Keselamatan Transportasi Jalan Sigit Widodo saat menyampaikan paparannya dalam Diskusi Forwahub bertema “Keselamatan dan Transportasi Jalan Tanggung Jawab Bersama” yang diadakan di Kantor Kemenhub, Jakarta pada Rabu (28/10/2026).
“Ditjen Perhubungan Darat terus memperkuat upaya untuk meningkatkan keselamatan dan meminimalisir kecelakaan lalu lintas dengan melibatkan berbagai pihak,” ucapnya.
Pemerintah sebagai regulator bertanggungjawab menjamin keselamatan tetapi perlu dukungan dan kolaborasi semua stakeholders.
“Kami melakukan sejumlah langkah mulai dari mewajibkan perusahaan menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum (SMK PAU), menangani lokasi rawan kecelakaan, hingga rutin melakukan rampcheck di terminal penumpang dan pool perusahaan otobus guna memastikan kendaraan memenuhi persyaratan administratif dan teknik laik jalan,” kata Sigit.
Berdasarkan data Korlantas Polri pada periode 2025 tercatat 158.508 kejadian kecelakaan lalu lintas dan kelompok usia pelajar/mahasiswa menyumbang sekitar 39 persen dari total keterlibatan kecelakaan.
Jumlah tersebut menjadi perhatian pemerintah, sebagai langkah pencegahan, Ditjen Perhubungan Darat menjalankan program Zona Selamat Sekolah (ZoSS) dan Rute Aman Selamat Sekolah (RASS) mulai dari kawasan permukiman hingga kawasan SD, SMP, dan SMA/sederajat. Sampai dengan tahun 2026 telah dibangun Zona Selamat Sekolah (ZoSS) pada 403 lokasi.
Selain itu, keselamatan transportasi jalan juga berfokus pada angkutan barang yang berkeselamatan dengan memastikan pengawasan serta penegakan hukum dilakukan secara lebih efisien dan transparan melalui pemanfaatan teknologi ETLE HUB.
“Sistem ini telah mencatat 221.606 deteksi kendaraan di 51 titik UPPKB dan BUJT selama periode 10 Agustus hingga 27 Oktober 2026,” ungkapnya.
Selain pengawasan, upaya yang dilakukan untuk membangun budaya keselamatan dengan edukasi dan kampanye untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran hingga perubahan perilaku masyarakat. Kami menyasar pelajar, komunitas, pengemudi angkutan, maupun masyarakat umum lainnya, kami turut melibatkan berbagai mitra untuk berkolaborasi dalam memberikan edukasi keselamatan.
Sejalan dengan upaya Kemenhub, PT Jasa Raharja turut mendorong peran yang lebih luas dalam ekosistem keselamatan transportasi jalan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Jasa Raharja Muhammad Awaluddin mengatakan, pihaknya tidak hanya ingin berkontribusi pada penanganan setelah kejadian kecelakaan, tetapi juga ingin memperkuat kontribusi dalam pencegahan kecelakaan melalui kolaborasi bersama regulator dan stakeholders lainnya.
“Kami tidak ingin hanya hadir setelah kecelakaan terjadi melalui pemberian santunan. Jasa Raharja ingin berkontribusi lebih dalam membangun ekosistem keselamatan, terutama melalui upaya pencegahan dan bagi kami keselamatan tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah atau satu lembaga saja sehingga kita perlu bergerak bersama, melibatkan seluruh stakeholders, komunitas, dan masyarakat,” imbuhnya.
Sigit berharap kolaborasi lintas sektor tersebut dapat terus diperkuat sehingga keselamatan menjadi bagian dari budaya masyarakat, bukan sekadar kewajiban untuk mematuhi aturan.
“Keselamatan merupakan prioritas yang harus diterapkan dalam pelayanan transportasi. Untuk menjamin hal tersebut diperlukan kolaborasi semua pihak, karena keselamatan adalah tanggung jawab kita bersama dalam ekosistem keselamatan transportasi darat,” tutupnya. (omy)



























