Menu

Mode Gelap
Security KAI Gagalkan Pencurian Kabel Grounding LRT Jabodebek Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat 3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops Pascagempa, Kemen PU Pastikan Akses dan Kebutuhan Dasar di Labuan Bajo Segera Ditangani Jelang 17 Agustus, 16.913 Tiket Promo KAI Terjual, Pemesanan Long Weekend Capai 706.908 Tiket

SENI BUDAYA

Menbud Klaim Market Share Film Domestik Tembus 67%, Tapi Penonton Bioskop Masih Susut

badge-check


 Menbud Klaim Market Share Film Domestik Tembus 67%, Tapi Penonton Bioskop Masih Susut Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menyebut, pangsa pasar atau _market share_ film domestik di bioskop Indonesia sudah mencapai 67 persen.

Angka itu disebut capaian tertinggi dalam satu dekade terakhir dan jadi bukti penonton mulai “pulang” ke film Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Menbud saat konferensi pers di Jakarta, Senin (16/6/2026). Ia menilai lonjakan itu didorong jumlah judul rilis yang naik, kualitas produksi lebih rapi, serta strategi _marketing_ dan penayangan yang lebih agresif dari rumah produksi lokal.

“_Market share_ film domestik telah mencapai 67 persen. Ini capaian penting karena berarti mayoritas kursi bioskop sekarang diisi karya anak bangsa,” ujar Fadli.

Di sisi lain, Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) mencatat, total penonton bioskop nasional 2025, masih di kisaran 55-60 juta orang.

Angka itu jauh di bawah pra-pandemi 2019 yang tembus 90 juta penonton. Artinya, meski 67 persen _market share_ dikuasai film Indonesia, ukuran kue totalnya masih menyusut.

Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) mencatat jumlah film nasional yang tayang 2025 mencapai 180-190 judul, naik dua kali lipat dibanding 2019 yang sekitar 80 judul.

Fragmentasi judul membuat _average_ penonton per film turun. Film _blockbuster_ bisa menyedot 4-6 juta penonton, sementara ratusan judul lain selesai tayang di bawah 100 ribu penonton.

Pengamat film Universitas Gadjah Mada (UGM), Hikmat Darmawan, memberi catatan, pada Selasa (17/6/2026), dalam diskusi “Peta Bioskop 2026”.

Menurutnya, 67 persen _market share_ patut diapresiasi, tapi belum otomatis berarti industri sehat.

“Kalau jumlah film bertambah tapi _screen_ bioskop, daya beli, dan _window_ tayang tidak ikut tumbuh, maka yang terjadi kanibalisme pasar. Film saling memakan penonton,” katanya.

Hikmat menyoroti 3 PR struktural yang jadi masalah utama.

Pertama, distribusi layar. Bioskop masih menumpuk di Jabodetabek dan kota besar Jawa-Bali-Sumatera.

Kota di kawasan tier-2 dan tier-3 masih minim layar, sehingga _market share_ tinggi tidak menjangkau penonton daerah.

Kedua, _revenue sharing_ dan durasi tayang. Bioskop cenderung memberi _slot_ prime time ke film yang sudah terbukti laku.

Film menengah-bawah sering digeser ke jam mati dalam 1-2 minggu. Itu memotong potensi long tail pendapatan.

Ketiga, ekosistem pasca-bioskop. Platform _Over The Top_ (OTT) seperti Netflix, Vidio, dan Disney+ Hotstar kini jadi ujung tombak pengembalian modal.

Tanpa skema lisensi dan jendela tayang _pay TV_/OTT yang jelas, produsen kecil sulit balik modal hanya dari tiket.

Pengamat ekonomi kreatif, Andry Cahyadi, memberi pendapat pada Rabu (18/6/2026), saat bedah tren industri kreatif. Ia melihat harga tiket rata-rata Rp40.000-Rp60.000 sudah jadi beban di tengah pelemahan daya beli 2025-2026.

“_Market share_ 67 persen itu cerita pangsa, bukan cerita pertumbuhan. Kalau total penonton tidak naik, pasti bioskop tetap sepi, operator rugi, dan ujungnya layar berkurang,” ujarnya.

Andry mendorong insentif non-tiket: paket keluarga, hari murah, dan integrasi film dengan pariwisata/daerah.

Ia juga mengingatkan pentingnya data _real-time_ dari sistem penjualan tiket agar kebijakan subsidi, kuota, atau insentif produksi tidak buta sasaran.

67 persen _market share_ film domestik adalah sinyal kuat: selera penonton ke karya lokal naik. Tapi tanpa ekspansi layar, perlindungan durasi tayang, dan perbaikan daya beli, angka itu bisa jadi “kemenangan kosong”.

Industri film butuh penonton yang bertambah, bukan hanya kue yang sama dibagi lebih banyak judul.***

(Artha Tidar)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Budaya Aceh Dilecehkan di Jamnas Pramuka 2026: Lampu Panggung Dimatikan Saat Penampilan

16 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Perankan Tan Malaka, Tanta Ginting Temukan Banyak Sisi yang Belum Banyak Diketahui

14 Agustus 2026 - 22:06 WIB

81 Tahun Merdeka, Meradjoet Sendja Ajak Generasi Muda Menemukan Kembali Role Model dan Makna Kemerdekaan

14 Agustus 2026 - 21:53 WIB

SCTV Siapkan Pesta Musik dan Hiburan Spektakuler di HUT ke-36

14 Agustus 2026 - 21:48 WIB

Mural Masuk Sekolah Mengokohkan SMPN 2 Semarang Tiada Hari Tanpa Prestasi 

14 Agustus 2026 - 18:46 WIB

Patricia Gouw Turun Langsung, Peserta Main Drama Casting Diuji Bangun Chemistry

14 Agustus 2026 - 17:58 WIB

Lima Tahun Vakum, Olivia Zalianty Kembali ke Panggung Teater

14 Agustus 2026 - 17:52 WIB

ATL Beri Mandat Salman Yoga Bentuk Kepengurusan ATL Gayo 2026–2030

14 Agustus 2026 - 16:13 WIB

“Duta” Rimba Raya Gerilya di Ibu Kota, Bawa Kembali Jejak Suara; “Indonesia Masih Ada”

13 Agustus 2026 - 21:39 WIB

Trending di PERISTIWA