Wartatrans.com, JAKARTA – Situasi memanas mewarnai dinamika pergerakan mahasiswa di Jakarta. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (BEM FH UBK) dilaporkan menjadi sasaran pengeroyokan oleh massa mahasiswa setelah muncul dugaan dirinya menerima sejumlah uang dari oknum aparat kepolisian.
Berdasarkan informasi yang beredar, insiden tersebut terjadi setelah yang bersangkutan mengakui telah menerima dana yang diduga bertujuan memengaruhi arah aksi demonstrasi mahasiswa. Pengakuan itu memicu kemarahan massa hingga berujung pada aksi kekerasan terhadap Ketua BEM FH UBK.

Dugaan tersebut mencuat setelah pertemuan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan sejumlah perwakilan mahasiswa pada Senin, 15 Juni 2026. Pertemuan itu menjadi sorotan karena sejumlah pihak mempertanyakan absennya perwakilan Universitas Indonesia yang sebelumnya disebut-sebut sebagai salah satu penggerak utama aksi mahasiswa.
Menurut informasi yang beredar di media sosial, pada malam hari setelah pertemuan tersebut, beberapa mahasiswa yang hadir dalam agenda bersama Wakil Presiden disebut mengakui telah menerima dana untuk mengubah arah dukungan dalam gerakan mahasiswa. Pengakuan yang belum dapat diverifikasi secara independen itu kemudian memicu amarah mahasiswa lainnya.
Peristiwa tersebut dengan cepat menjadi viral di berbagai platform media sosial. Sejumlah warganet menyampaikan kritik keras terhadap dugaan praktik yang dinilai mencederai independensi gerakan mahasiswa.
Salah satu unggahan di platform X menyebut, “Kalau suara mahasiswa dibeli agar diam, itu berarti ada ketakutan terhadap kritik, bukan kesiapan menghadapi kritik. Demokrasi tidak boleh berubah jadi transaksi.”
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian, pihak kampus, maupun pihak yang disebut dalam informasi tersebut terkait dugaan aliran dana maupun insiden pengeroyokan. Selain itu, belum terdapat bukti yang dapat memverifikasi secara independen kebenaran pengakuan yang beredar di media sosial.
Publik kini menunggu penjelasan resmi dari seluruh pihak terkait guna mengungkap fakta di balik dugaan penyuapan dan insiden kekerasan yang terjadi di tengah pergerakan mahasiswa.*** (Daus)





























