Wartatrans.com, JAKARTA – Perupa Andri Wintarso akan menggelar pameran lukisan tunggal yang menampilkan lebih dari 40 karya terbaru hasil perjalanan kreatifnya selama periode 2020 hingga 2026. Pameran berlangsung pada 20–29 Juni 2026 di Perpustakaan Nasional RI Lantai 4, Jalan Medan Merdeka Selatan No. 11, Jakarta Pusat.
Pembukaan pameran dijadwalkan pada Sabtu, 20 Juni 2026 pukul 10.00 WIB dan akan dibuka oleh Wakil Menteri Hak Asasi Manusia, Mutiara Pasaribu.

Pameran ini menjadi momentum penting bagi Andri Wintarso untuk menampilkan perkembangan eksplorasi artistiknya yang selama ini banyak dipengaruhi pengalaman mengajar Art Therapy Senirupa bagi penyandang disabilitas fisik, mental, serta Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Kementerian Sosial di Bekasi.
Selain pameran lukisan, kegiatan ini juga dirangkai dengan bedah buku Art Therapy Senirupa karya Andri Wintarso yang mengupas pengalaman dan metode seni sebagai media terapi dan pemberdayaan manusia.
Dalam karya-karyanya, Andri masih mempertahankan ciri khas figur dengan garis-garis sederhana dekoratif yang menggambarkan berbagai lapisan atau layer kehidupan manusia. Namun, pada karya-karya terbarunya, ia mulai menghadirkan unsur figur realis yang dipadukan dengan representasi budaya Nusantara.

Judul : Kuda perang, Ukuran : 120cm x 140cm, Bahan : Cat Akrilik di kanvas
Menurut Andri, tema-tema yang diangkat dalam pameran ini berangkat dari pengamatannya terhadap kompleksitas karakter dan kondisi manusia selama mendampingi para penyandang disabilitas. Melalui pendekatan seni, ia berusaha memahami berbagai lapisan kehidupan seseorang secara lebih mendalam sehingga dapat membantu menemukan solusi atas kendala yang mereka hadapi.
“Pengalaman berinteraksi dan mendampingi para disabilitas memberikan banyak pelajaran tentang ketangguhan, harapan, dan kemanusiaan. Semua itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa visual melalui karya-karya yang dipamerkan,” ungkapnya.
Pameran ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni rupa, tetapi juga media edukasi tentang pentingnya seni sebagai sarana terapi, pemberdayaan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Masyarakat, pegiat seni, akademisi, serta pemerhati isu disabilitas diundang untuk hadir dan menyaksikan langsung karya-karya yang merekam perjalanan artistik sekaligus refleksi kemanusiaan tersebut.*** (Dulloh)






























