Menu ✖

Mode Gelap
BGN Keluarkan Aturan Baru Tentang Insentif SPPG, Berlaku Mulai 5 Oktober 2026 Pencuri Kabel Whoosh Berhasil Ditangkap, KCIC: Aksinya Bisa Membahayakan Keselamatan Perjalanan Perawatan Sistem Avionik, FL Technics Indonesia Gandeng GE Aerospace InJourney Airports dan SDhI Rampungkan Transisi Pengelolaan Bandara Dhoho Garuda dan Yoowifi Hadirkan eSIM, Komunikasi  jadi Makin Terjangkau Saat di Luar Negeri Modernisasi PPN Pengambengan, Nelayan Lokal Harap Ada Lapangan Kerja Saat Paceklik

SENI BUDAYA

Peluncuran Buku “Djali-Djali Bintang Kedjora” Angkat Sejarah dan Budaya Betawi di Tengah Minimnya Dukungan Kebudayaan

badge-check


 Peluncuran Buku “Djali-Djali Bintang Kedjora” Angkat Sejarah dan Budaya Betawi di Tengah Minimnya Dukungan Kebudayaan Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Tiga hari menjelang peringatan HUT ke-499 Kota Jakarta, budayawan dan sastrawan Betawi Chairil Gibran Ramadhan (CGR) meluncurkan buku terbarunya berjudul Djali-Djali Bintang Kedjora: Setangkle Cerita Sejarah & Budaya ~ Betawi, Batavia, Jakarta di Aula Ali Sadikin, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jumat (19/6/2026).

Peluncuran buku berlangsung meriah dengan nuansa khas Betawi yang diwarnai gelak tawa, tepuk tangan, pertunjukan tepak beksi, dan aroma kerak telor. Acara ini difasilitasi oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta bersama Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.

Hadir sebagai pembicara dalam diskusi buku tersebut, Nuthayla Anwar, penyair, jurnalis sekaligus Wakil Rektor Al Ghuraaba, dan Idrus F. Shahab, penulis serta mantan wartawan senior TEMPO. Diskusi dipandu penyair Giyanto Subagio. Sejumlah tokoh juga memberikan sambutan, di antaranya Prof. Dr. Yasmine Zaki Shahab, Guru Besar Antropologi FISIP UI, antropolog Dr. Ninuk Kleden, dan produser film Harry Simon.

Dalam kesempatan itu, Chairil Gibran Ramadhan menyoroti rendahnya perhatian terhadap karya tulis sejarah, sastra, dan budaya di Jakarta. Menurutnya, dukungan terhadap karya intelektual masih sangat minim dibandingkan kegiatan seremonial dan hiburan yang kerap memperoleh alokasi anggaran besar.

Ia mencontohkan pengalaman pribadinya saat menolak penerbitan bukunya Kembang Kelapa: Setangkle Catatan Budaya ~ Betawi dari Batavia hingga Jakarta oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta pada 2025 karena hanya akan dicetak sebanyak 30 eksemplar. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan masih rendahnya apresiasi terhadap karya-karya literasi yang mendokumentasikan sejarah dan budaya Betawi.

“Kita lebih senang menebang pohon dan menjadikannya sebagai kayu bakar untuk menerangi diri sendiri, ketimbang menanam pohon untuk dinikmati anak-cucu,” ujar CGR.

Buku Djali-Djali Bintang Kedjora memuat 18 cerpen yang sebagian besar pernah diterbitkan di Majalah Sastra Horison pada periode 2011–2016. Karya-karya tersebut mengangkat berbagai sisi kehidupan, sejarah, dan budaya Betawi dengan pendekatan kreatif yang khas. Dalam penulisannya, CGR menggunakan beragam ragam bahasa dan ejaan yang pernah berkembang di Indonesia sebagai bagian dari eksplorasi estetik dan historis.

Rekam jejak kepenulisannya di Majalah Sastra Horison menjadikan CGR sebagai salah satu penulis dengan jumlah cerpen terbanyak yang dimuat selama lima tahun berturut-turut. Ia juga tercatat sebagai satu-satunya orang Betawi yang pernah menjadi redaktur di majalah sastra bergengsi tersebut.

Sejumlah tokoh sastra memberikan apresiasi terhadap karya-karya CGR. Ahmadun Yosi Herfanda menyebut kemunculan CGR sebagai angin segar bagi sastra Betawi dan Indonesia. Sementara penyair sekaligus redaktur Horison, Dr. Cecep Syamsul Hari, menilai cerpen-cerpen CGR berhasil menghadirkan dunia Betawi secara kuat dan autentik. Adapun pengamat sastra FIB UI, Dr. Ibnu Wahyudi, menilai kumpulan cerpen tersebut memiliki dimensi dokumentatif yang penting karena mampu menghadirkan wawasan lokal Betawi secara mendalam sekaligus mencerdaskan pembacanya.

Peluncuran buku ini menjadi momentum penting dalam upaya pelestarian dan penguatan identitas budaya Betawi di tengah tantangan modernisasi Jakarta. Karya tersebut tidak hanya menawarkan pengalaman sastra, tetapi juga menjadi dokumentasi kultural yang merekam perjalanan Betawi, Batavia, hingga Jakarta dalam bingkai sejarah dan kebudayaan.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kebun Hantu, Menyusuri Arsip Tubuh dan Pengalaman yang Tak Selesai

1 Oktober 2026 - 10:53 WIB

Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO

1 Oktober 2026 - 03:44 WIB

Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda

1 Oktober 2026 - 03:12 WIB

Rhoma Irama Menangis Saat Menonton Film Lawas, dari Pengabdian ke Perjuangan Dangdut Menuju UNESCO

30 September 2026 - 08:17 WIB

Kolaborasi Addie MS & Twilite Orchestra, Anggun, dan Judika Warnai Perayaan 81 Tahun KAI

30 September 2026 - 07:37 WIB

Mentor Bang Budi dan Lukisan Karya Anak yang Membawa Cerita Aceh Tamiang ke Jakarta

30 September 2026 - 01:37 WIB

Bupati Aceh Tamiang Dorong Terapi Melukis untuk Pulihkan Trauma Anak Korban Bencana

29 September 2026 - 19:34 WIB

Ekraf Peduli Hadirkan Karya Anak Korban Bencana Sumatra, Pemerintah Dorong Pemulihan Lewat Seni

29 September 2026 - 18:39 WIB

Dianna Dee Full Jadwal Show, Sempatkan Cover Lagu di YouTube, 1 Minggu Tembus Setengah Juta Views

29 September 2026 - 17:10 WIB

HUT ke 81, KAI Daop 4 Semarang Menggelar Acara Baca Puisi Antar Negara

29 September 2026 - 09:44 WIB

Trending di RAGAM