Menu

Mode Gelap
Security KAI Gagalkan Pencurian Kabel Grounding LRT Jabodebek Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat 3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops Pascagempa, Kemen PU Pastikan Akses dan Kebutuhan Dasar di Labuan Bajo Segera Ditangani Jelang 17 Agustus, 16.913 Tiket Promo KAI Terjual, Pemesanan Long Weekend Capai 706.908 Tiket

SENI BUDAYA

Peluncuran Buku “Djali-Djali Bintang Kedjora” Angkat Sejarah dan Budaya Betawi di Tengah Minimnya Dukungan Kebudayaan

badge-check


 Peluncuran Buku “Djali-Djali Bintang Kedjora” Angkat Sejarah dan Budaya Betawi di Tengah Minimnya Dukungan Kebudayaan Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Tiga hari menjelang peringatan HUT ke-499 Kota Jakarta, budayawan dan sastrawan Betawi Chairil Gibran Ramadhan (CGR) meluncurkan buku terbarunya berjudul Djali-Djali Bintang Kedjora: Setangkle Cerita Sejarah & Budaya ~ Betawi, Batavia, Jakarta di Aula Ali Sadikin, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jumat (19/6/2026).

Peluncuran buku berlangsung meriah dengan nuansa khas Betawi yang diwarnai gelak tawa, tepuk tangan, pertunjukan tepak beksi, dan aroma kerak telor. Acara ini difasilitasi oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta bersama Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.

Hadir sebagai pembicara dalam diskusi buku tersebut, Nuthayla Anwar, penyair, jurnalis sekaligus Wakil Rektor Al Ghuraaba, dan Idrus F. Shahab, penulis serta mantan wartawan senior TEMPO. Diskusi dipandu penyair Giyanto Subagio. Sejumlah tokoh juga memberikan sambutan, di antaranya Prof. Dr. Yasmine Zaki Shahab, Guru Besar Antropologi FISIP UI, antropolog Dr. Ninuk Kleden, dan produser film Harry Simon.

Dalam kesempatan itu, Chairil Gibran Ramadhan menyoroti rendahnya perhatian terhadap karya tulis sejarah, sastra, dan budaya di Jakarta. Menurutnya, dukungan terhadap karya intelektual masih sangat minim dibandingkan kegiatan seremonial dan hiburan yang kerap memperoleh alokasi anggaran besar.

Ia mencontohkan pengalaman pribadinya saat menolak penerbitan bukunya Kembang Kelapa: Setangkle Catatan Budaya ~ Betawi dari Batavia hingga Jakarta oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta pada 2025 karena hanya akan dicetak sebanyak 30 eksemplar. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan masih rendahnya apresiasi terhadap karya-karya literasi yang mendokumentasikan sejarah dan budaya Betawi.

“Kita lebih senang menebang pohon dan menjadikannya sebagai kayu bakar untuk menerangi diri sendiri, ketimbang menanam pohon untuk dinikmati anak-cucu,” ujar CGR.

Buku Djali-Djali Bintang Kedjora memuat 18 cerpen yang sebagian besar pernah diterbitkan di Majalah Sastra Horison pada periode 2011–2016. Karya-karya tersebut mengangkat berbagai sisi kehidupan, sejarah, dan budaya Betawi dengan pendekatan kreatif yang khas. Dalam penulisannya, CGR menggunakan beragam ragam bahasa dan ejaan yang pernah berkembang di Indonesia sebagai bagian dari eksplorasi estetik dan historis.

Rekam jejak kepenulisannya di Majalah Sastra Horison menjadikan CGR sebagai salah satu penulis dengan jumlah cerpen terbanyak yang dimuat selama lima tahun berturut-turut. Ia juga tercatat sebagai satu-satunya orang Betawi yang pernah menjadi redaktur di majalah sastra bergengsi tersebut.

Sejumlah tokoh sastra memberikan apresiasi terhadap karya-karya CGR. Ahmadun Yosi Herfanda menyebut kemunculan CGR sebagai angin segar bagi sastra Betawi dan Indonesia. Sementara penyair sekaligus redaktur Horison, Dr. Cecep Syamsul Hari, menilai cerpen-cerpen CGR berhasil menghadirkan dunia Betawi secara kuat dan autentik. Adapun pengamat sastra FIB UI, Dr. Ibnu Wahyudi, menilai kumpulan cerpen tersebut memiliki dimensi dokumentatif yang penting karena mampu menghadirkan wawasan lokal Betawi secara mendalam sekaligus mencerdaskan pembacanya.

Peluncuran buku ini menjadi momentum penting dalam upaya pelestarian dan penguatan identitas budaya Betawi di tengah tantangan modernisasi Jakarta. Karya tersebut tidak hanya menawarkan pengalaman sastra, tetapi juga menjadi dokumentasi kultural yang merekam perjalanan Betawi, Batavia, hingga Jakarta dalam bingkai sejarah dan kebudayaan.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Budaya Aceh Dilecehkan di Jamnas Pramuka 2026: Lampu Panggung Dimatikan Saat Penampilan

16 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Perankan Tan Malaka, Tanta Ginting Temukan Banyak Sisi yang Belum Banyak Diketahui

14 Agustus 2026 - 22:06 WIB

81 Tahun Merdeka, Meradjoet Sendja Ajak Generasi Muda Menemukan Kembali Role Model dan Makna Kemerdekaan

14 Agustus 2026 - 21:53 WIB

SCTV Siapkan Pesta Musik dan Hiburan Spektakuler di HUT ke-36

14 Agustus 2026 - 21:48 WIB

Mural Masuk Sekolah Mengokohkan SMPN 2 Semarang Tiada Hari Tanpa Prestasi 

14 Agustus 2026 - 18:46 WIB

Patricia Gouw Turun Langsung, Peserta Main Drama Casting Diuji Bangun Chemistry

14 Agustus 2026 - 17:58 WIB

Lima Tahun Vakum, Olivia Zalianty Kembali ke Panggung Teater

14 Agustus 2026 - 17:52 WIB

ATL Beri Mandat Salman Yoga Bentuk Kepengurusan ATL Gayo 2026–2030

14 Agustus 2026 - 16:13 WIB

“Duta” Rimba Raya Gerilya di Ibu Kota, Bawa Kembali Jejak Suara; “Indonesia Masih Ada”

13 Agustus 2026 - 21:39 WIB

Trending di PERISTIWA