Wartatrans.com, JAKARTA – Pendapatan usaha lainnya PT Jasa Marga (Persero) Tbk. tumbuh 17,62% menjadi Rp798,23 miliar pada semester I/2026.
Di tengah pertumbuhan tersebut, perseroan memperkuat integrasi layanan jalan tol melalui digitalisasi operasional, pembenahan tempat istirahat, serta pengembangan fasilitas komersial dan pendukung perjalanan.
Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono mengatakan, transformasi layanan diarahkan pada pengalaman nyata pengguna jalan.
“Transformasi layanan tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur dan menghadirkan teknologi. Keberhasilannya harus tercermin dalam pengalaman nyata yang dirasakan masyarakat,” ujarnya Rabu (14/10/2026) lalu.
Implementasi fisik yang terdokumentasi antara lain berada di Jalan Tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang), khususnya Travoy Rest KM 88A dan KM 88B.
Pembenahan mencakup fasilitas toilet, ruang terbuka, pengaturan kendaraan, penambahan fasilitas pengisian kendaraan listrik, serta penguatan peran UMKM lokal.
Sebelumnya, dia mengatakan, transformasi pada Travoy Rest KM 88A Jalan Tol Cipularang dimulai dengan membenahi fasilitas esensial rest area sebagai prioritas utama.
Lokasi tersebut disiapkan sebagai percontohan pengembangan tempat istirahat berikutnya.
Program peningkatan layanan tempat istirahat juga mencakup TIP KM 10A dan KM 21B di ruas Tol Jagorawi, sebagaimana tercantum dalam materi paparan publikasi Jasa Marga.
Namun, cakupan pembenahan fasilitas fisik tersebut perlu dibedakan dari integrasi digital yang menjangkau jaringan lebih luas.
Jasamarga Tollroad Command Center (JMTC) memantau jaringan jalan tol Jasa Marga Group selama 24 jam dengan dukungan kamera pengawas, sistem penghitungan lalu lintas, kecerdasan buatan, dan analisis data.
Informasi perjalanan juga disalurkan melalui aplikasi Travoy, termasuk kondisi lalu lintas dan fasilitas rest area.
Dari sisi keuangan, pendapatan tol mencapai sekitar Rp9,50 triliun pada semester I/2026, naik 6,82% secara tahunan.
Sementara itu, pendapatan usaha lainnya mencapai Rp798,23 miliar, sedangkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sekitar Rp1,90 triliun.
Ke depan, penguatan layanan berpotensi memperluas nilai ekonomi koridor tol melalui fasilitas yang lebih baik dan kegiatan usaha pendukung.
Rincian pendapatan serta profitabilitas tiap lini akan membantu memperlihatkan seberapa besar peran bisnis non-tol dalam pertumbuhan jangka panjang perseroan.(Artha Tidar)




























