Wartatrans.com, JAKARTA – Green SM menawarkan sewa mobil listrik VinFast mulai Rp254.000 per hari bagi para calon pengemudinya.
Penawarannya dengan pembayaran awal oleh pengemudi senilai Rp2 juta per kendaraan.
Program ini menjanjikan bagi hasil hingga 92 persen, bonus bulanan, dan pengisian daya gratis.
Namun, keuntungan pengemudi bergantung pada produktivitas, pemenuhan syarat insentif, serta pendapatan setelah biaya sewa dan operasional.
Global CEO Green SM, Pham Nhat Minh Hoang mengatakan, program tersebut dirancang untuk memperluas akses calon pengemudi terhadap kendaraan listrik.
“Melalui program ini, kami ingin memberikan alternatif bagi calon pengemudi untuk memulai perjalanan profesional mereka dengan skema yang lebih terjangkau, pilihan kendaraan yang beragam, serta dukungan yang membantu mereka menjalankan aktivitas secara optimal,” ujar Hoang di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Green SM menawarkan bonus pendaftaran Rp1 juta per bulan, bonus merek Rp676.000, dan bonus operasional hingga Rp1,34 juta per bulan.
Perusahaan juga menyebut potensi penghasilan hingga Rp14 juta per bulan.
“Namun, angka tersebut bukan jaminan pendapatan bersih karena bonus bergantung pada persyaratan program,” ungkapnya.
Fasilitas pengisian daya gratis di stasiun V-Green berpotensi mengurangi biaya energi.
Meski demikian, pengemudi tetap harus memperhitungkan biaya sewa dan pengeluaran operasional lainnya.
Sebagai pembanding, Moladin, platform teknologi dan pembiayaan di sektor otomotif, meluncurkan program sewa kepemilikan mobil listrik bagi pengemudi transportasi daring pada 1 Oktober 2026.
Melalui PT Moladin Finance Indonesia, program tersebut menawarkan pembayaran mulai Rp260.000 per hari dengan uang muka Rp5,5 juta serta peluang memiliki kendaraan setelah seluruh kewajiban dipenuhi.
CEO Moladin Jovin Hoon menjelaskan, kendaraan dalam program tersebut diposisikan sebagai aset produktif untuk mendukung aktivitas ekonomi pengemudi.
Tarif awal Green SM memang lebih rendah Rp6.000 per hari, tetapi perbandingan keuntungan harus mempertimbangkan kontrak, biaya tambahan, insentif, dan hak kepemilikan kendaraan.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia menunjukkan distribusi mobil listrik berbasis baterai mencapai 103.931 unit sepanjang 2025, naik 141 persen dari 43.188 unit pada 2024.
Pangsa pasarnya mencapai sekitar 12,9 persen. Pertumbuhan ini memperluas ekosistem kendaraan listrik, tetapi belum membuktikan kelayakan biaya sewanya bagi pengemudi.
Dengan pemakaian 26 hari, biaya sewa Green SM mencapai sekitar Rp6,6 juta per bulan. Jika penerimaan perjalanan Rp400.000 per hari, totalnya Rp10,4 juta, menyisakan Rp3,8 juta setelah sewa, sebelum biaya lainnya.
Karena itu, calon mitra perlu menilai jam kerja, permintaan perjalanan, potongan pendapatan, dan syarat bonus. Uang muka rendah belum tentu berarti keuntungan tinggi. Kelayakan program ditentukan oleh pendapatan bersih aktual dan transparansi kontrak. (Artha Tidar)


























