Wartatrans. com, BANDA ACEH –- Provinsi Aceh menjadi tuan rumah pelaksanaan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Tahun 2026 yang mempertemukan para penyair, sastrawan, budayawan, dan pegiat literasi dari 14 negara. Rangkaian kegiatan diawali dengan kedatangan peserta dan tamu mancanegara melalui Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, Senin (22/6/2026).
Setelah proses registrasi dan check-in di Hotel Plum Lading Banda Aceh, para peserta mengikuti jamuan makan malam penyambutan (welcome dinner) yang berlangsung di Pendopo Gubernur Aceh. Kegiatan yang dikoordinasikan oleh panitia ini menjadi momentum awal mempererat silaturahmi antarpeserta sebelum mengikuti pembukaan resmi PPN XIV.

Usai welcome dinner, rombongan bergerak menuju Istana Wali Nanggroe sebagai lokasi Opening Ceremony. Setibanya di lokasi, para tamu disambut dengan prosesi adat Aceh, Seumapa, serta Tari Ranub Lampuan yang dibawakan para seniman di bawah pimpinan Syeh Muda Haris, Syeh Medya Hus, bersama Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh.
Acara pembukaan dipandu oleh Ade Putra dari Riau dan Wanda Ramadhana. Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Nisfun Nahar, dilanjutkan doa yang dipimpin Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Selanjutnya seluruh hadirin menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Hymne Aceh yang dibawakan oleh Paduan Isyarat bersama siswa-siswi SLB Bukesra Banda Aceh.
Nuansa sastra dan kebudayaan semakin terasa melalui pertunjukan “Harmoni Syair Nusantara dari Aceh untuk Dunia” yang diiringi Marching Band Gita Handayani. Setelah itu, Direktur Pelaksana PPN XIV Aceh-Indonesia, Noviati Maulida Rahmah, menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan yang menegaskan pentingnya diplomasi budaya melalui sastra di tengah dinamika dunia saat ini.
Malam pembukaan juga menghadirkan segmen penghormatan khusus “Tribute to Nik Rakib Nik Hasan”, tokoh sastra yang memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan jaringan sastra Nusantara. Acara dilanjutkan dengan tayangan sapaan penyair bersama Taufik Ismail serta parade pembacaan puisi yang menampilkan sejumlah penyair terkemuka seperti Imam Ma’arif, Bara Pattyradja, Tuyed Legam, Djamal Syarief, Nissa Rengganis, Ranie Kashmir, dan LK Ara, yang diiringi penampilan musik Riski Tangke.
Pengantar kuratorial PPN XIV disampaikan oleh Salman Yoga S, Rini Intama, Acep Zamzam Noor, Mohamad Saleeh Rahamad dari Malaysia, dan Zefri Ariff dari Brunei Darussalam. Para kurator menyoroti pentingnya sastra sebagai jembatan dialog lintas bangsa dan medium memperkuat persaudaraan budaya di kawasan Nusantara.
Dalam kesempatan tersebut, Staf Khusus Menteri Kebudayaan Nissa Rengganis turut memberikan sambutan, disusul Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Prof. E. Aminuddin Aziz, M.A., Ph.D. Keduanya menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung penguatan literasi, sastra, dan diplomasi kebudayaan Indonesia di tingkat regional maupun global.
Gubernur Aceh, Muzakkir Manaf, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Aceh sebagai tuan rumah penyelenggaraan PPN XIV. Menurutnya, Aceh memiliki sejarah panjang sebagai pusat peradaban, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan yang terbuka terhadap pergaulan dunia.
Puncak acara ditandai dengan penyampaian Ranub Sigapu Wali Nanggroe oleh Paduka Yang Mulia Teungku Malik Mahmud Al Haythar. Selanjutnya Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., secara resmi membuka Pertemuan Penyair Nusantara XIV Aceh-Indonesia.
Pembukaan ditandai dengan penandatanganan kesepakatan diplomasi budaya, penyerahan Anugerah Cakrawala Penyair Nusantara, penghargaan kepada sekolah-sekolah pegiat literasi, serta sesi foto bersama seluruh peserta dari berbagai negara.
Rangkaian kegiatan PPN XIV berlanjut pada Selasa (23/6/2026). Setelah sarapan dan check-out dari Hotel Plum Lading, para peserta bertolak menuju Kabupaten Aceh Tengah. Perjalanan dilakukan melalui Kabupaten Bireuen dengan koordinasi panitia dan liaison officer (LO). Di Bireuen, peserta dijadwalkan beristirahat dan melaksanakan ISOMA sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tanah Gayo, lokasi berbagai agenda sastra dan budaya berikutnya dalam Pertemuan Penyair Nusantara XIV.
PPN XIV Aceh-Indonesia menjadi momentum penting bagi penguatan jejaring sastra dunia Melayu-Nusantara sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Aceh kepada masyarakat internasional. Kehadiran delegasi dari 14 negara menunjukkan bahwa sastra tetap menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan bangsa-bangsa melalui dialog, kreativitas, dan persaudaraan budaya.Berita ini sudah disusun dengan gaya jurnalistik yang lebih rapi, bernas, dan layak untuk publikasi media.*** (Jasa)





























