Oleh: Riri Satria
____________

Wartatrans.com, OPINI —- Setiap kali membahas topik kecerdasan buatan atau AI, saya hampir selalu mendengar pertanyaan yang sama, yaitu pekerjaan apa yang akan hilang? Di Indonesia, pertanyaan itu terasa lebih berat. Pasar kerja kita belum sepenuhnya mapan, pendidikan masih berjuang mengejar ketimpangan, dan literasi teknologi belum merata. Maka wajar jika AI lebih sering dipandang sebagai ancaman ketimbang kemungkinan.
Namun semakin saya mengamati perkembangan ini, semakin saya merasa bahwa kekhawatiran itu ering kali salah sasaran, meski tidak keliru sepenuhnya. Persoalan utama kita bukan semata hilangnya pekerjaan, melainkan ketidaksiapan menghadapi perubahan makna kerja itu sendiri. Jadi kata kuncinya adalah kesiapan atau ketidaksiapan. Faktor penentu bagaimana kita akhirnya secara subyektif memandang AI.
AI bukan sekadar teknologi baru. Ia adalah cermin cara kita berpikir, menilai, dan mengambil keputusan, dan akhirnya berbagai profesi baru bernunculan.
Di lapisan paling awal, memang muncul profesi-profesi teknis yang membutuhkan keahlian tinggi seperti machine learning engineer, AI engineer, serta data scientist. Mereka yang bekerja merancang dan melatih mesin agar mampu mengenali pola dan membuat prediksi. Namun perlu dipahami bahwa bahwa AI tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia hidup dari data yang kita pilih, asumsi yang kita tanamkan, dan tujuan yang kita tetapkan.
Dengan kata lain, kecerdasan buatan selalu membawa nilai-nilai penciptanyqa, baik disadari atau tidak. Ini penting untuk dipahami bahwa teknologi itu tidak sepenuhnya netral seperti yang diyakini banyak orang.
Kebutuhan akan talenta teknis ini memang nyata, baik di Indoneia maupun dunia global. Tetapi yang tidak kalah menarik adalah lahirnya profesi-profesi lainnyai antara manusia dan mesin yang menjadi jembatan antara manusia dan mesin seperti prompt engineer, conversational designer, dan AI trainer. AI justru sangat bergantung pada pemahaman bahasa, budaya, dan konteks lokal. Mesin bisa belajar dari data global, tetapi tanpa kepekaan terhadap cara orang lokai seperti orang Indonesia berbicara, berpikir, dan berinteraksi, hasilnya sering terasa asing atau keliru.
Di titik ini, saya melihat peluang besar yang jarang dibicarakan di mana AI tidak hanya membutuhkan engineer, tetapi juga lulusan humaniora, komunikasi, sosiologi, dan seni. Profesi masa depan tidak selalu berdiri di atas baris kode, algoritma, atau matematika, tetapi di antara kalimat, konteks, dan makna.
Namun peluang ini tidak akan tumbuh tanpa perubahan serius di dunia pendidikan. Hingga kini, pendidikan AI di Indonesia masih sering dipersempit menjadi soal coding, matematika, dan sertifikasi teknis. Padahal literasi AI seharusnya jauh lebih luas, yaitu memahami bagaimana algoritma bekerja, mengenali bias, dan menyadari dampak sosial dari keputusan berbasis mesin.
Saya percaya di negara seperti Indonesia, literasi AI bukan sekadar keahlian tambahan, melainkan kebutuhan kita semua. Ketika AI mulai digunakan dalam rekrutmen tenaga kerja, penilaian kredit, layanan kesehatan, hingga kebijakan publik, masyarakat perlu tahu kapan harus percaya dan kapan harus bertanya dengan kritis.
Dari sini lahir peran baru dalam pendidikan yaitu pendidik literasi AI, perancang kurikulum adaptif, dan fasilitator pembelajaran berbasis teknologi. Mereka bukan hanya mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi juga cara bersikap kritis terhadapnya.
Di sisi lain, AI juga memunculkan kegelisahan yang tidak bisa diabaikan. Data yang timpang, bias algoritma, dan kesenjangan digital berpotensi memperbesar ketidakadilan sosial jika teknologi ini diterapkan tanpa refleksi. Karena itu, saya melihat pentingnya profesi-profesi penjaga batas eeperti spesialis etika AI, auditor algoritma, dan analis kebijakan AI yang memahami konteks sosial lokal seperti Indonesia. Keberadaan mereka mengingatkan kita bahwa tidak semua yang efisien itu adil, dan tidak semua yang cerdas itu bijak.
Perubahan serupa juga terasa di ranah kreatif, yaitu wilayah yang selama ini menjadi kekuatan khas Indonesia. AI kini mampu menulis, menggambar, dan mencipta musik. Banyak yang takut kreativitas manusia akan berakhir. Namun yang saya lihat justru pergeseran peran. Muncul AI creative director dan AI content strategist dengan paradigma bahwa manusia yang tidak selalu mencipta dari nol, tetapi mengarahkan, memilih, dan memberi makna.
Kreativitas tidak mati, malahan justru bernegosiasi dengan alat baru. Dan di tengah banjir konten otomatis, kepekaan terhadap konteks budaya dan narasi lokal justru menjadi semakin penting.
Semakin jauh AI masuk ke kehidupan sehari-hari, semakin saya merasa bahwa profesi masa depan akan banyak berkaitan dengan menjaga unsur kemanusiaan itu sendiri.
Ada peran human-in-the-loop yang memastikan manusia tetap hadir dalam keputusan penting. Ada pula profesi yang fokus pada dampak AI terhadap kesehatan mental, relasi sosial, dan budaya kerja. Di titik ini, bekerja tidak lagi semata soal produktivitas, melainkan soal tanggung jawab.
Pada akhirnya, bagi saya, profesi-profesi baru di era kecerdasan buatan bukan sekadar daftar jabatan yang lahir dari kemajuan teknologi. Ia adalah penanda perubahan cara hidup.
Kondisinya adalah AI memaksa kita bertanya ulang, di mana bagian mana dari hidup yang ingin kita serahkan pada mesin, dan bagian mana yang harus tetap kita jaga sebagai wilayah manusia.
Di Indonesia, menurut saya tantangan terbesar kita bukanlah tertinggal secara teknologi, melainkan kehilangan arah dalam mengadopsinya. Jika pendidikan mampu memperluas literasi AI, jika pasar kerja memberi ruang bagi peran-peran lintas disiplin, dan jika kebijakan publik berpihak pada keadilan, maka AI tidak harus menjadi ancaman, justru menjadi peluang. Namun kelihatannya sampai saat iniu yang massih dominan adalah kegamangan.
Mungkin pekerjaan terpenting kita hari ini bukan menciptakan mesin yang semakin cerdas, melainkan memastikan bahwa di tengah kecanggihan itu, kita tetap tahu mengapa dan untuk siapa teknologi ini digunakan.
Saya tidak khawatir dengan perkembangan teknologi. Saya justru khawatir dengan sikap atau perilaku manusia yang mengendalikan teknologi itu sendiri.***
(RS – Des 2025)





























