Wartatrans.com, BANDA ACEH – Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026 mendorong perubahan cara pandang terhadap puisi. Dalam seminar bertema “Puisi dan Musik” yang digelar di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Jumat (26/6/2026), para pembicara menegaskan bahwa puisi tidak boleh berhenti sebagai karya tulis, tetapi harus mampu menjelma ke berbagai medium kreatif agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Seminar yang dimoderatori Muhammad Ade Putra menghadirkan tiga narasumber, yakni Ganjar Hariman, Wayan Jengki, dan Sosiawan Leak. Ketiganya menawarkan perspektif berbeda mengenai hubungan puisi, musik, teknologi, dan perubahan budaya.

Ganjar Hariman menilai musikalisasi puisi tidak cukup hanya mengubah teks menjadi lagu. Menurutnya, proses kreatif harus diawali dengan memahami makna, suasana, dan ruh puisi sehingga karya yang lahir tetap menjaga kekuatan sastranya.
Ia juga mengajak peserta untuk terus mendiskusikan batas-batas antara musikalisasi puisi, lagu, pembacaan puisi yang diiringi musik, hingga karya musik yang memiliki kualitas puitik.
Sementara itu, Wayan Jengki menekankan bahwa perkembangan teknologi telah membuka peluang baru bagi puisi untuk bertransformasi. Menurutnya, musikalisasi puisi kini tidak lagi harus mengikuti pola konvensional karena bunyi-bunyian, instrumen tradisional, hingga teknologi digital dapat menjadi bagian dari proses penciptaan karya.
“Kekayaan musik Nusantara merupakan sumber inspirasi yang sangat besar sehingga musikalisasi puisi tidak perlu terjebak pada satu bentuk baku,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Sosiawan Leak yang melihat alih wahana sastra sebagai bagian dari perubahan paradigma kebudayaan. Ia mengatakan karya sastra harus terus berdialog dengan masyarakat, perkembangan media, dan perubahan zaman agar tidak kehilangan relevansi.
Menurutnya, puisi harus terus menemukan kemungkinan-kemungkinan baru sehingga mampu menjangkau publik yang lebih luas melalui berbagai medium seni.
Seminar ini menjadi salah satu forum penting dalam rangkaian PPN XIV Aceh 2026 yang mempertemukan penyair, seniman, dan budayawan dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara. Melalui dialog tersebut, peserta diajak melihat bahwa masa depan puisi tidak hanya berada di halaman buku, tetapi juga di panggung pertunjukan, musik, teknologi digital, dan berbagai bentuk ekspresi kreatif lainnya.
Diskusi itu sekaligus menegaskan semangat PPN XIV Aceh 2026 untuk menjadikan sastra sebagai kekuatan budaya yang terus berkembang, beradaptasi, dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai estetikanya.*** (Jasa)






























