Wartatrans.com, BANDA ACEH – Sastrawan Aceh, Putra Gara, membacakan puisi berjudul Inong Balee pada rangkaian Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh di Museum Tsunami, Banda Aceh, Sabtu (27/6/2026). Pembacaan puisi tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan para perempuan Aceh sekaligus menyuarakan penolakannya terhadap penggunaan judul film Malahayati: Pasukan 1000 Janda. PPN XIV sendiri digelar di Aceh pada 22–28 Juni 2026 dengan menghadirkan penyair dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara.
Puisi Inong Balee ditulis Putra Gara pada 25 Januari 2014 di Pidie. Dalam bait-bait puisinya, ia menggambarkan keteguhan perempuan Aceh yang tidak larut dalam kesedihan meski harus menghadapi perang dan kehilangan. Sosok “Ummi” dalam puisi tersebut menjadi simbol ibu pertiwi dan semangat juang yang diwariskan kepada anak-anak negeri.

Usai pembacaan puisi, Putra Gara menegaskan keberatannya terhadap judul film Pasukan 1000 Janda yang mengangkat kisah Laksamana Keumalahayati.
“Judul Pasukan 1000 Janda memiliki konotasi negatif. Kami menolak judul film tersebut,” kata Putra Gara.
Menurutnya, istilah tersebut tidak mencerminkan nilai sejarah dan kehormatan pasukan Inong Balee, yaitu pasukan perempuan Aceh yang dibentuk pada masa Kesultanan Aceh dan dikenal sebagai prajurit tangguh dalam mempertahankan kedaulatan negeri di bawah kepemimpinan Laksamana Keumalahayati.
Putra Gara menilai penggunaan istilah “1000 janda” berpotensi menggeser makna perjuangan menjadi sekadar sensasi. Ia berharap film yang mengangkat tokoh besar Aceh tetap mengedepankan akurasi sejarah, menghormati martabat para pejuang perempuan, serta menjaga nilai budaya yang melekat pada sosok Keumalahayati.
Pembacaan puisi Inong Balee mendapat perhatian peserta PPN XIV yang memadati Museum Tsunami Aceh. Penampilan tersebut menjadi salah satu panggung sastra yang menghubungkan puisi dengan isu-isu kebudayaan dan sejarah yang tengah menjadi perhatian masyarakat Aceh.*** (Jasa)






























