Wartatrans.com, BANDA ACEH – Ketua Kurator Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh-Indonesia, Salman Yoga S., menyampaikan pidato yang membakar semangat para peserta saat pembukaan PPN XIV di Istana Wali Nanggroe, Banda Aceh, Senin (22/6/2026) malam.
Di hadapan penyair, sastrawan, budayawan, dan delegasi dari 14 negara, Salman menegaskan bahwa kata-kata memiliki kekuatan besar dalam membentuk sejarah dan peradaban manusia. Menurutnya, berbagai peristiwa penting yang mengubah perjalanan bangsa dan dunia selalu bermula dari kekuatan bahasa dan gagasan yang dirangkai melalui kata-kata.

“Semua berawal dari kata-kata,” ujar Salman dalam pengantar kuratorialnya yang mendapat perhatian serius dari para hadirin.
Ia mengingatkan bahwa lahirnya bangsa Indonesia tidak terlepas dari kekuatan kata-kata yang terpatri dalam naskah Proklamasi Kemerdekaan. Begitu pula dengan Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak persatuan bangsa, yang pada dasarnya merupakan kesepakatan besar yang dirumuskan dan diikat melalui kata-kata.
Menurut Salman, dalam perjalanan sejarah umat manusia, para penyair dan penyusun kata selalu memiliki posisi penting. Bahkan dalam berbagai riwayat sejarah Islam, Rasulullah SAW kerap didampingi para penyair yang bertugas merekam, menyampaikan, dan mengabadikan berbagai peristiwa melalui syair dan ungkapan bahasa yang kuat.
“Kata-kata bukan sekadar rangkaian huruf. Ia adalah gagasan, semangat, dan energi yang mampu menggerakkan manusia, membangun kesadaran, bahkan mengubah arah sejarah,” ungkapnya.
Dalam forum yang mempertemukan penyair dari 14 negara tersebut, Salman juga menekankan bahwa sastra memiliki peran strategis di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks. Ketika dunia dipenuhi berbagai kepentingan politik, ekonomi, dan teknologi, sastra tetap hadir sebagai ruang kemanusiaan yang menjaga nilai-nilai peradaban.
Pengantar kuratorial Salman Yoga menjadi salah satu momen penting dalam pembukaan Pertemuan Penyair Nusantara XIV. Melalui penyampaiannya yang lugas dan penuh energi, ia mengingatkan kembali bahwa para penyair bukan sekadar pencipta karya sastra, melainkan penjaga ingatan, penafsir zaman, dan perawat peradaban.
Di Istana Wali Nanggroe malam itu, kata-kata kembali menemukan panggungnya. Dan melalui PPN XIV Aceh-Indonesia, para penyair dari berbagai bangsa dipertemukan untuk membuktikan bahwa peradaban besar selalu lahir dari kekuatan sebuah kata.*** (Jasa)






























