Wartatrans.com, BANDA ACEH – Sejumlah seniman dan budayawan Gayo menyatakan penolakan terhadap penggunaan judul film “Malahayati: Pasukan 1000 Janda” karena dinilai mengandung konotasi yang kurang tepat dan berpotensi mereduksi kebesaran sosok Malahayati sebagai pahlawan nasional, dalam sebuah diskusi, Sabtu (27/06/2026).
Di antara tokoh yang menyuarakan penolakan tersebut adalah Putra Gara, Fauzan Azima, Salman Yoga, Jasa Purnama, serta sejumlah seniman dan pegiat budaya Gayo lainnya. Mereka menilai penyebutan “Pasukan 1000 Janda” lebih menonjolkan status para prajurit daripada kepemimpinan, kecerdasan strategi, dan jasa besar Malahayati dalam mempertahankan kedaulatan Kesultanan Aceh.

Putra Gara mengatakan, pengangkatan kisah Malahayati ke layar lebar merupakan langkah positif untuk memperkenalkan sejarah Aceh kepada generasi muda. Namun, menurutnya, judul film seharusnya tetap menjaga marwah tokoh sejarah tersebut dan tidak menimbulkan persepsi yang keliru.
“Pendiri dan sultan pertama Kesultanan Aceh Darussalam adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang memerintah sejak 1495 hingga 1530. Dalam tradisi sejarah Aceh dan Tanoh Gayo, beliau diyakini merupakan keturunan Meurah Johan atau Johan Syah, salah seorang putra pendiri Kerajaan Linge di Gayo. Garis keturunan itu kemudian melahirkan dinasti Kesultanan Aceh yang diteruskan oleh Sultan Alauddin al-Kahar dan para penerusnya. Dari dinasti itulah lahir keluarga-keluarga bangsawan Aceh, termasuk garis keturunan Laksamana Mahmud Syah yang menurunkan Malahayati. Dengan demikian, menurut tradisi silsilah Aceh dan Gayo, Sultan Ali Mughayat Syah dan Malahayati masih berada dalam satu garis keturunan Dinasti Linge yang menjadi cikal bakal Kesultanan Aceh Darussalam,” ujar Putra Gara, penulis novel sejarah.
Keterangan Putra Gara diamini Fauzan Azima, ia menambahkan; hubungan genealogis tersebut menunjukkan bahwa Malahayati bukan hanya seorang panglima perang, tetapi juga bagian dari mata rantai sejarah panjang Kesultanan Aceh.
“Karena itu, penyematan judul yang dianggap sensasional dikhawatirkan mengaburkan kebesaran sejarah dan martabat tokoh yang selama ini dihormati masyarakat Aceh,” kata Fauzan.
Sedangkan Salman Yoga menilai, secara historis, Malahayati memang dikenal adanya pasukan Inong Balee, yaitu kesatuan perempuan yang sebagian besar beranggotakan para janda syuhada yang gugur di medan perang.
“Pasukan ini dipimpin oleh Malahayati dan menjadi salah satu kekuatan militer penting Kesultanan Aceh. Namun pengambilan judul film Pasukan 1000 Janda memiliki konotasi negatif. Ditambah kami menilai tidak ada bukti sejarah yang menyebut nama resmi pasukan tersebut sebagai “Pasukan 1000 Janda”, sehingga penggunaan istilah itu sebagai judul film berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat,” terang Salman Yoga yang juga Direktur Gayo Institut.
Para budayawan berharap rumah produksi membuka ruang dialog dengan sejarawan, budayawan, dan tokoh masyarakat Aceh agar karya yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga menghormati fakta sejarah serta menjaga kehormatan salah satu pahlawan terbesar yang dimiliki Aceh. *** (Adung)






























