Menu

Mode Gelap
Seniman Gayo Tolak Judul Film “Malahayati: Pasukan 1000 Janda”, Dinilai Mereduksi Martabat Pahlawan Aceh InJourney Percepat Konsolidasi Hotel BUMN, Perkuat Ekosistem Pariwisata Nasional Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz Jadi Ujian Pemerataan Digital, Pengamat Ingatkan Jangan Sekadar Kejar PNBP PPN XIV Aceh 2026 Hadirkan Nusantara Puisi Musikal, Teatrikal, dan Puisi Visual di Perpustakaan Banda Aceh KAI Services Ajak Warga Pasar Gaplok Tukar Sampah dengan Sembako Giat ‘Jaga Jakarta on The Spot’,  Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok Ajak Masyarakat Bersinergi Menjaga Kamtibmas

SENI BUDAYA

Seniman Gayo Tolak Judul Film “Malahayati: Pasukan 1000 Janda”, Dinilai Mereduksi Martabat Pahlawan Aceh

badge-check


 Seniman Gayo Tolak Judul Film “Malahayati: Pasukan 1000 Janda”, Dinilai Mereduksi Martabat Pahlawan Aceh Perbesar

Wartatrans.com, BANDA ACEH – Sejumlah seniman dan budayawan Gayo menyatakan penolakan terhadap penggunaan judul film “Malahayati: Pasukan 1000 Janda” karena dinilai mengandung konotasi yang kurang tepat dan berpotensi mereduksi kebesaran sosok Malahayati sebagai pahlawan nasional, dalam sebuah diskusi, Sabtu (27/06/2026).

Di antara tokoh yang menyuarakan penolakan tersebut adalah Putra Gara, Fauzan Azima, Salman Yoga, Jasa Purnama, serta sejumlah seniman dan pegiat budaya Gayo lainnya. Mereka menilai penyebutan “Pasukan 1000 Janda” lebih menonjolkan status para prajurit daripada kepemimpinan, kecerdasan strategi, dan jasa besar Malahayati dalam mempertahankan kedaulatan Kesultanan Aceh.

Putra Gara mengatakan, pengangkatan kisah Malahayati ke layar lebar merupakan langkah positif untuk memperkenalkan sejarah Aceh kepada generasi muda. Namun, menurutnya, judul film seharusnya tetap menjaga marwah tokoh sejarah tersebut dan tidak menimbulkan persepsi yang keliru.

“Pendiri dan sultan pertama Kesultanan Aceh Darussalam adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang memerintah sejak 1495 hingga 1530. Dalam tradisi sejarah Aceh dan Tanoh Gayo, beliau diyakini merupakan keturunan Meurah Johan atau Johan Syah, salah seorang putra pendiri Kerajaan Linge di Gayo. Garis keturunan itu kemudian melahirkan dinasti Kesultanan Aceh yang diteruskan oleh Sultan Alauddin al-Kahar dan para penerusnya. Dari dinasti itulah lahir keluarga-keluarga bangsawan Aceh, termasuk garis keturunan Laksamana Mahmud Syah yang menurunkan Malahayati. Dengan demikian, menurut tradisi silsilah Aceh dan Gayo, Sultan Ali Mughayat Syah dan Malahayati masih berada dalam satu garis keturunan Dinasti Linge yang menjadi cikal bakal Kesultanan Aceh Darussalam,” ujar Putra Gara, penulis novel sejarah.

Keterangan Putra Gara diamini Fauzan Azima, ia menambahkan; hubungan genealogis tersebut menunjukkan bahwa Malahayati bukan hanya seorang panglima perang, tetapi juga bagian dari mata rantai sejarah panjang Kesultanan Aceh.

“Karena itu, penyematan judul yang dianggap sensasional dikhawatirkan mengaburkan kebesaran sejarah dan martabat tokoh yang selama ini dihormati masyarakat Aceh,” kata Fauzan.

Sedangkan Salman Yoga menilai, secara historis, Malahayati memang dikenal adanya pasukan Inong Balee, yaitu kesatuan perempuan yang sebagian besar beranggotakan para janda syuhada yang gugur di medan perang.

“Pasukan ini dipimpin oleh Malahayati dan menjadi salah satu kekuatan militer penting Kesultanan Aceh. Namun pengambilan judul film Pasukan 1000 Janda memiliki konotasi negatif. Ditambah kami menilai tidak ada bukti sejarah yang menyebut nama resmi pasukan tersebut sebagai “Pasukan 1000 Janda”, sehingga penggunaan istilah itu sebagai judul film berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat,” terang Salman Yoga yang juga Direktur Gayo Institut.

Para budayawan berharap rumah produksi membuka ruang dialog dengan sejarawan, budayawan, dan tokoh masyarakat Aceh agar karya yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga menghormati fakta sejarah serta menjaga kehormatan salah satu pahlawan terbesar yang dimiliki Aceh. *** (Adung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PPN XIV Aceh 2026 Hadirkan Nusantara Puisi Musikal, Teatrikal, dan Puisi Visual di Perpustakaan Banda Aceh

27 Juni 2026 - 12:11 WIB

Puisi Tak Lagi Sekadar Dibaca, PPN XIV Aceh Dorong Sastra Menembus Musik dan Teknologi

26 Juni 2026 - 19:14 WIB

DKA Dukung Penuh PPN XIV Aceh, Tengku Afifuddin: Ini Diplomasi Budaya yang Mengangkat Nama Daerah

26 Juni 2026 - 18:45 WIB

Tengku Afifuddin: Sastra Klasik Aceh Adalah Rekaman Peradaban yang Tak Tergantikan AI

26 Juni 2026 - 17:44 WIB

Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri Baca Puisi di PPN XIV Aceh, Rayakan Ulang Tahun ke-85 dengan Iringan Musik “Selamat Ulang Tahun”

26 Juni 2026 - 17:36 WIB

Semau Gue, Pameran Seni Rupa 54 Seniman Meriahkan HUT Ke-499 Jakarta

26 Juni 2026 - 06:20 WIB

Parade Baca Puisi PPN XIV Berlangsung Seharian, Ditutup di Galeri Kopi Aceh Tengah

24 Juni 2026 - 21:21 WIB

Puisi Mengalun di Temas River Park, Peserta PPN XIV Nikmati Sastra di Tengah Alam Takengon

24 Juni 2026 - 18:16 WIB

ISU ISI 2026 Dorong Kolaborasi Seni dan Kewirausahaan di ISI Padangpanjang

24 Juni 2026 - 16:19 WIB

Catatan Putra Gara dari PPN XIV Aceh: Bur Telege Menjadi Panggung Sastra dan Budaya

24 Juni 2026 - 11:44 WIB

Trending di SENI BUDAYA