Wartatrans.com, TAKENGON – Salah satu warisan budaya paling berharga milik masyarakat Gayo, Tari Sining, dipastikan akan tampil dalam rangkaian Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV yang akan diikuti peserta dari 14 negara di Takengon, Aceh Tengah. Penampilan ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kembali kekayaan budaya Gayo kepada dunia internasional.
Tari Sining memiliki perjalanan sejarah yang unik. Tarian ritual masyarakat Gayo ini pernah mengalami masa kevakuman hingga dianggap punah. Namun, melalui upaya penelitian dan revitalisasi yang serius, tarian tersebut berhasil dihidupkan kembali dan kini kembali menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Gayo.

Kepastian penampilan Tari Sining dalam ajang internasional tersebut disampaikan Sekretaris Panitia PPN XIV Kabupaten Aceh Tengah, Nanda Winar Sagita, didampingi Koordinator Bidang Acara Angga Prasetyo, di Sekretariat Panitia PPN XIV, Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Aceh Tengah, Kecamatan Bebesen, Senin (22/6/2026).
Menurut Winar Sagita, Tari Sining merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki nilai historis, spiritual, dan artistik tinggi bagi masyarakat Gayo. Oleh karena itu, kehadirannya dalam PPN XIV bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari upaya memperkenalkan identitas budaya Gayo kepada para tamu dan penyair mancanegara.
“Tari Sining adalah kekayaan budaya Gayo yang patut diperkenalkan kepada dunia. Selain sebagai bagian dari promosi budaya daerah, tarian ini juga memiliki sejarah panjang karena pernah hilang dari kehidupan masyarakat sebelum akhirnya berhasil direvitalisasi kembali,” ujarnya.
Tari Sining sendiri telah memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah. Tarian ini tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia dan juga telah mengantongi Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual Komunal (HKIK) dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia pada 17 September 2018.
Revitalisasi Tari Sining dilakukan melalui penelitian mendalam yang diprakarsai oleh budayawan dan peneliti budaya Gayo, Salman Yoga S, melalui program Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tahun 2016. Hasil penelitian tersebut berhasil merekonstruksi bentuk, fungsi, serta nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tarian tersebut sehingga dapat kembali dipentaskan kepada masyarakat.
Winar Sagita menambahkan, selama ini Tari Sining lebih banyak ditampilkan dalam ruang-ruang budaya yang terbatas dan belum pernah memperoleh panggung internasional yang luas. Karena itu, PPN XIV dinilai menjadi kesempatan berharga untuk memperkenalkan tarian sakral tersebut kepada audiens lintas negara.
“Selama ini Tari Sining belum pernah tampil dalam forum internasional sebesar ini. Kehadiran peserta dari 14 negara menjadi peluang penting untuk memperkenalkan budaya Gayo dalam pergaulan budaya dunia,” katanya.
Sementara itu, Angga Prasetyo menilai bahwa penampilan Tari Sining akan memperkuat posisi PPN XIV bukan hanya sebagai pertemuan sastra, tetapi juga sebagai ruang diplomasi budaya. Melalui seni pertunjukan tradisional, para peserta dapat mengenal lebih dekat nilai-nilai kehidupan masyarakat Gayo yang diwariskan turun-temurun.
PPN XIV Takengon sendiri dijadwalkan berlangsung di sejumlah destinasi wisata ikonik di Aceh Tengah. Selain menghadirkan pembacaan puisi internasional, kegiatan ini juga akan diisi seminar sastra Nusantara, seminar internasional, dialog kebudayaan, serta berbagai pertunjukan seni tradisional yang menampilkan kekayaan budaya Aceh dan Nusantara.
Penampilan Tari Sining dalam ajang tersebut diharapkan menjadi tonggak baru dalam perjalanan pelestarian budaya Gayo, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi warisan budaya daerah untuk dikenal dan diapresiasi oleh masyarakat dunia. Dengan demikian, PPN XIV tidak hanya menjadi pertemuan para penyair, tetapi juga panggung penting bagi kebangkitan dan pengakuan budaya lokal di tingkat internasional.*** (Jasa)






























