Wartatrans.com, JAKARTA – Pembangunan infrastruktur sandar kapal induk di Teluk Ratai, Kabupaten Pesawaran, Lampung, mencapai sekitar 76 persen pada Juli 2026.
Infrastruktur tersebut disiapkan untuk menerima kapal induk ringan Italia ITS Giuseppe Garibaldi (Italian Ship) setelah melalui proses hibah antarnegara.

Masuknya Giuseppe Garibaldi ke Indonesia dilakukan melalui skema pengalihan aset dari pemerintah Italia, bukan pembelian langsung.
Pemerintah kemudian menjalankan proses penerimaan melalui Kementerian Pertahanan dan persetujuan DPR.
Komisi I DPR pada Senin (20/7/2026) menyetujui penerimaan hibah satu unit kapal Giuseppe Garibaldi kepada Kementerian Pertahanan RI.
Nilai aset hibah tersebut disebut mencapai sekitar 54,02 juta euro, sebelum masuk tahap penyesuaian kebutuhan operasional TNI Angkatan Laut (TNI AL).
Pemilihan Teluk Ratai tidak hanya terkait pembangunan fasilitas, tetapi juga posisi strategis Lampung. Kawasan tersebut berada di sekitar Selat Sunda yang menghubungkan Samudra Hindia dan Laut Jawa serta menjadi bagian dari jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I.
Teluk Ratai memiliki karakter perairan yang relatif terlindung dibandingkan pantai terbuka, sehingga mendukung aktivitas sandar dan dukungan logistik kapal besar.
Namun, keberadaan pangkalan tetap membutuhkan sistem pengawasan maritim, pertahanan udara, dan keamanan operasional.
Dalam konteks teknis, Teluk Ratai disiapkan sebagai dermaga khusus, bukan pelabuhan komersial.
Dermaga merupakan fasilitas tempat kapal bersandar dan mendapatkan layanan pendukung, sedangkan pelabuhan memiliki cakupan lebih luas yang mencakup terminal, alur pelayaran, fasilitas logistik, dan layanan kapal.
Direktur Jenderal Kekuatan Pertahanan Kementerian Pertahanan Marsda TNI Hendrikus Haris Haryanto dalam rapat bersama Komisi I DPR menyampaikan pembangunan fasilitas kapal induk di Teluk Ratai telah mencapai 76 persen.
Sementara itu, Komandan Brigif 4 Marinir/Beruang Sakti Kolonel Marinir Kanang Budi Raharjo, Selasa (21/7/2026) mengatakan, perairan Lampung memenuhi syarat untuk menjadi lokasi sandar kapal induk.
“Kondisi perairan Lampung memenuhi syarat untuk kapal induk. Saat ini seluruh fasilitas pendukung sandarnya kapal induk tersebut sedang dikembangkan,” kata Kanang.
Kapal Giuseppe Garibaldi memiliki panjang 180,2 meter dengan bobot penuh sekitar 13.850 ton.
Kapal yang mulai beroperasi pada 1985 tersebut merupakan kapal induk ringan (light aircraft carrier) yang membutuhkan dukungan pemeliharaan dan logistik khusus.
Dari sisi ekonomi, pembangunan Teluk Ratai berpotensi memperkuat sektor maritim Lampung. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Lampung pada 2025 mencapai PDRB atas dasar harga berlaku Rp523,85 triliun dengan pertumbuhan 5,28 persen.
Basis ekonomi tersebut dapat mendukung sektor logistik, transportasi laut, konstruksi, dan jasa pemeliharaan kapal.
Namun, manfaat ekonomi bergantung pada kemampuan menghubungkan proyek pertahanan dengan industri lokal dan rantai pasok nasional.
Penguatan pangkalan laut juga menjadi tren kawasan. Malaysia pada 2025 mengalokasikan lebih dari RM250 juta untuk peningkatan infrastruktur Pangkalan TLDM Lumut, sedangkan Singapura mengembangkan Changi Naval Base sebagai pangkalan modern yang mengintegrasikan fungsi sandar, logistik, dan pemeliharaan.
Sebelumnya, Pengamat pertahanan Gerry Soejatman menyampaikan, penggunaan Giuseppe Garibaldi harus disesuaikan dengan kebutuhan pertahanan Indonesia karena kemampuan kapal induk berbeda berdasarkan kelasnya.
“Kita perlu membagi dua kategori kapal induk, yaitu yang dapat beroperasi sebagai kekuatan utama sepenuhnya dengan kemampuan air wings yang mumpuni untuk gelar operasi, dan ada jenis light aircraft carrier seperti ITS Giuseppe Garibaldi masuk dalam kelas ini,” ungkap Gerry.
Pengembangan Teluk Ratai menunjukkan pembangunan pertahanan tidak hanya membutuhkan kapal, tetapi juga ekosistem pangkalan, logistik, dan industri maritim agar memberi manfaat strategis serta ekonomi dalam jangka panjang. (Artha Tidar)
































