Wartatrans.com, ACEH – Sastra klasik Aceh merupakan jejak peradaban yang menyimpan sejarah, nilai kehidupan, hingga cara berpikir masyarakat masa lampau. Karena itu, keberadaannya harus terus dijaga dan diwariskan di tengah derasnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Pandangan tersebut disampaikan Tengku Afifuddin dalam Sarasehan Karya Sastra Klasik Aceh yang menjadi bagian dari rangkaian Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026, Kamis (25/6/2026).

Dalam paparannya, Tengku Afifuddin menjelaskan bahwa sastra klasik memiliki hubungan yang sangat erat dengan perjalanan sejarah peradaban Aceh, terutama pada masa kerajaan. Berbagai karya seperti hikayat tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga menjadi dokumen penting yang merekam pemikiran, diplomasi, adat istiadat, hingga pandangan hidup masyarakat pada masanya.
“Sastra klasik bukan sekadar artefak budaya, tetapi merupakan sumber pengetahuan yang merekam cara berpikir sebuah masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, bahasa dalam karya sastra klasik merupakan kekuatan budaya yang mampu menjaga identitas suatu bangsa. Melalui sastra, sejarah dapat diwariskan, semangat masyarakat dibangun, serta nilai-nilai kehidupan terus hidup lintas generasi.
Tengku Afifuddin juga mengingatkan bahwa modernisasi tidak boleh dimaknai sebagai meninggalkan akar budaya. Baginya, sastra modern justru harus mampu melahirkan pemikiran yang kritis tanpa kehilangan identitas lokal yang menjadi fondasinya.
Ia turut menyoroti pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan dalam dunia kreatif. Meski AI dapat membantu berbagai proses penciptaan karya, menurutnya teknologi tidak akan mampu menggantikan pengalaman batin, rasa, dan kedalaman pemikiran manusia yang menjadi ruh sebuah karya sastra.
“Teknologi akan memberi hasil terbaik ketika digunakan oleh manusia yang memiliki pengetahuan dan kemampuan berpikir yang kuat,” katanya.
Karena itu, ia menilai penguatan literasi dan pendidikan budaya menjadi kunci agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang berakar pada identitas dan nilai-nilai budaya daerah.
Melalui forum Sarasehan Karya Sastra Klasik Aceh, Tengku Afifuddin berharap sastra klasik tidak lagi dipandang sebagai peninggalan masa lalu semata, melainkan sebagai warisan hidup yang terus memberi inspirasi bagi perkembangan kebudayaan Indonesia di masa depan.
Sarasehan yang berlangsung dalam rangkaian PPN XIV Aceh 2026 tersebut menjadi ruang dialog antara sejarah, sastra, dan perkembangan teknologi, sekaligus memperkuat komitmen untuk menjaga keberlanjutan khazanah sastra Aceh sebagai bagian penting dari pemajuan kebudayaan nasional.*** (Jasa)






























