Wartatrans.com, JAKARTA — Badan Geologi Kementerian ESDM memberitakan empat gunung api di Indonesia erupsi secara bersamaan pada Minggu (06/09/2026) pagi. Lokasi gunung menyebar pada beberapa daerah, sebut saja Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Illi Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, dan Gunung Ibu di Halmahera Barat
Khusus gunung Anak Krakatau mengalami erupsi sejak Jumat (04/09/2026) malam. Abu vulkanik yang dimuntahkan mencapai Bengkulu, Jakarta, hingga Samudra Hindia. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan sebaran abu vulkanik gunung Anak Krakatau terbagi menjadi dua sebaran.

Sebaran pertama ke arah timur laut – selatan yang mencakup sebagian Jakarta, Banten, dan Jawa Barat serta perairan sekitarnya. Sebaran kedua bergerak ke arah barat daya – barat laut, mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda Selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu – Lampung – Banten.
Gunung Ibu di Provinsi Maluku Utara juga dilaporkan erupsi pada Minggu. Tinggi kolom letusan mencapai 400 meter di atas puncak atau sekira 1.725 meter di atas permukaan laut. Kolom abu dengan intensitas sedang bergerak ke arah timur laut.
Gunung lainnya adalah Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur yang mengalami erupsi dalam 48 jam terakhir. Letusan terkuat terjadi pada Minggu pukul 06.41 WITA. Kolom abu yang dimuntahkan mencapai 600 meter di atas puncak atau setara 2.023 meter di atas permukaan laut. Arahnya ke tenggara dan terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi 82 detik.

Pada hari yang sama, gunung Semeru di Jawa Timur mengalami erupsi jam 07.51 WIB. Tinggi kolom abu teramati mencapai 1.000 meter di atas puncak. Erupsi terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan durasi 102 detik.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam siaran persnya Senin (07/09/2026) mengatakan
dua hal yang berbahaya dari letusan gunung berapi adalah abu dan gas vulkanik yang dimuntahkan. Jika menimpa manusia, abu yang beterbangan mengakibatkan mata pedih, iritasi kulit, dan sesak napas.
Menghadapinya, Budi minta masyarakat tidak panik dan segera melakukan langkah pencegahan mandiri dengan tetap berada di dalam ruangan. Masker serta kacamata wajib dipakai jika dalam kondisi mendesak harus keluar rumah. Penggunaan alat pelindung tersebut penting untuk menghalangi partikel debu vulkanik masuk ke sistem tubuh dan menyebabkan gangguan kesehatan.
Kemenkes juga memastikan pihaknya telah menyiagakan seluruh fasilitas kesehatan di wilayah erupsi dan sekitarnya untuk memberikan penanganan cepat bagi warga terdampak.***
(Aditiya Widodo Putra)




























