Menu

Mode Gelap
Depok Main Tegas: 52 SMP Swasta Gratis, Tapi Jangan Cuma Jualan Angka Bedah Novel di Distrik Gintung Bahas Cinta, Perjuangan, dan Ruang Literasi PT Bejira Cipta Media Gelar Berbagi dan Doa Bersama Anak Yatim di Pesantren Tahfiz Ruhama FIFGROUP Ajak Karyawan Trekking, Kumpulkan 240 Kg Sampah dan Resmikan 4 Toilet Umum Haflah TK B Sekolah Alam Aceh Tengah Usung Tema “Gayo Day”, Tanamkan Cinta Budaya Sejak Dini Aceh Bersiap Sambut Pertemuan Penyair Nusantara XIV, Rapat Koordinasi Digelar Dua Hari

Uncategorized

Ferly Halim Wujudkan Mimpi Menjadi Sutradara Lewat Film Perdana Takkan Kubiarkan Kau Menangis

badge-check


 Ferly Halim Wujudkan Mimpi Menjadi Sutradara Lewat Film Perdana Takkan Kubiarkan Kau Menangis Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Setelah bertahun-tahun berkarya sebagai aktris, Ferly Halim kini membuka lembaran baru dalam perjalanan kariernya. Perempuan yang dikenal aktif di dunia hiburan itu resmi menjalani debut sebagai sutradara melalui film drama keluarga Takkan Kubiarkan Kau Menangis.

Film produksi Langit Pictures Indonesia tersebut menjadi tonggak penting bagi Ferly karena untuk pertama kalinya ia berada di balik layar sebagai pengarah cerita. Tak hanya itu, ia juga terlibat sebagai produser, menunjukkan keseriusannya dalam mewujudkan proyek yang memiliki makna mendalam bagi dirinya.

“Menjadi sutradara memang salah satu impian saya. Setelah cukup lama berada di depan kamera, saya merasa tertantang untuk mencoba perspektif yang berbeda dalam dunia perfilman,” kata Ferly Halim saat ditemui di kawasan Taman Mini, Jakarta Timur, Rabu (10/6/2026).

Perjalanan Ferly menuju kursi sutradara tidak terjadi secara instan. Pengalaman bertahun-tahun sebagai pemain film dan sinetron memberinya kesempatan memahami berbagai aspek produksi, mulai dari pengembangan karakter hingga proses kreatif di balik sebuah karya.

Melalui Takkan Kubiarkan Kau Menangis, Ferly memilih mengangkat kisah yang dekat dengan kehidupan banyak orang, yakni hubungan antara ibu dan anak. Menurutnya, konflik keluarga sering kali lahir bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena komunikasi yang tidak berjalan dengan baik.

Ia menggambarkan bagaimana seorang anak kerap menilai ibunya terlalu mengekang, sementara sang ibu sebenarnya berusaha melindungi anaknya dengan cara yang ia yakini benar. Ketika keduanya gagal saling memahami, lahirlah jarak emosional yang semakin lebar.

“Film ini berbicara tentang kasih sayang yang tidak selalu bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kadang seseorang terlihat keras, padahal sebenarnya sangat peduli,” ujarnya.

Kedekatan tema film dengan kehidupan pribadi menjadi alasan lain mengapa proyek ini terasa istimewa bagi Ferly. Ia mengakui sejumlah adegan dan dialog terinspirasi dari pengalaman bersama ibunya. Bahkan, judul film tersebut berangkat dari janji yang pernah ia ucapkan kepada sang ibu.

Nuansa personal itu semakin kuat karena Ferly juga terlibat dalam penciptaan lagu yang menjadi bagian dari film. Lagu tersebut dibuat sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan cinta kepada ibunya, sehingga mampu memperkuat emosi yang ingin disampaikan dalam cerita.

Sebagai sutradara, Ferly juga memberikan perhatian besar pada proses pemilihan pemain. Ia menggandeng sejumlah nama seperti Shanty, Aryo Wahab, Didi Riyadi, dan Ari Irham untuk menghidupkan karakter dalam film.

Karena kisahnya berkaitan erat dengan dunia musik, para pemain dituntut tidak hanya mampu berakting, tetapi juga memiliki kemampuan bermusik atau kesediaan untuk berlatih secara intensif.

“Kami mencari pemain yang bisa menyanyi atau memainkan alat musik. Kalau belum bisa, mereka harus siap belajar. Yang terpenting adalah kemauan untuk mendalami karakter,” jelasnya.

Bagi Ferly, keberhasilan menyelesaikan film ini menjadi bukti bahwa mimpi tidak mengenal batas usia maupun profesi. Setelah sukses membangun karier sebagai aktris, ia kini siap mengembangkan kreativitasnya dari balik layar.

Melalui Takkan Kubiarkan Kau Menangis, Ferly Halim tidak hanya memperkenalkan dirinya sebagai sutradara baru, tetapi juga menghadirkan sebuah karya yang lahir dari pengalaman pribadi, cinta kepada keluarga, dan keyakinan bahwa komunikasi adalah kunci untuk menjaga hubungan yang paling berharga dalam hidup.*** (Byl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Depok Main Tegas: 52 SMP Swasta Gratis, Tapi Jangan Cuma Jualan Angka

13 Juni 2026 - 19:53 WIB

Bedah Novel di Distrik Gintung Bahas Cinta, Perjuangan, dan Ruang Literasi

13 Juni 2026 - 19:42 WIB

PT Bejira Cipta Media Gelar Berbagi dan Doa Bersama Anak Yatim di Pesantren Tahfiz Ruhama

13 Juni 2026 - 19:29 WIB

Haflah TK B Sekolah Alam Aceh Tengah Usung Tema “Gayo Day”, Tanamkan Cinta Budaya Sejak Dini

13 Juni 2026 - 17:21 WIB

Aceh Bersiap Sambut Pertemuan Penyair Nusantara XIV, Rapat Koordinasi Digelar Dua Hari

13 Juni 2026 - 17:03 WIB

Erik Fitriadi: Kemajuan Papua Perlu Dibarengi Penguatan Dialog dan Perlindungan Warga Sipil

13 Juni 2026 - 16:16 WIB

Podcast Halimah Munawir Tembus 200 Ribu Penonton dalam Dua Bulan, Digelar Syukuran Bersama Awak Media

13 Juni 2026 - 15:25 WIB

Mantan Gubernur Aceh Dr Zaini Abdullah Wafat di Usia 86 Tahun

13 Juni 2026 - 14:05 WIB

Terima Penghargaan JMSI, Mahlizar Safdi ketua Posko Rakyat Dedikasikan Piala untuk Istri, Ratusan Relawan Posko Rakyat, dan Sinergi Lintas Sektor

13 Juni 2026 - 13:26 WIB

PACE: Stigma Politik Hambat Partisipasi Masyarakat Papua dalam Pembangunan

13 Juni 2026 - 12:50 WIB

Trending di RAGAM