Menu ✖

Mode Gelap
Enam Wilayah KAI Tumbuh Dua Digit, Aktivitas Pelanggan Capai 89,95 Juta Kemenhub Dukung Pencarian 1 ABK Pascatenggelamnya MV Khatulistiwa 8 di Perairan Tuban Jembatan Putus dan Kabar Bendungan Alami, Warga Reje Payung Mengungsi ke Tiga Desa Kemendiktisaintek Apresiasi AirNav Libatkan Perguruan Tinggi Optimalkan Layanan Berbasis Teknologi AI, AirNav–Telkom University Perkuat Riset dan Pengembangan IPCM Perluas Pasar, Perkuat Kesiapan Operasional di Balikpapan dan Tarakan

PERISTIWA

Kebakaran Bapenda, Uji Efektivitas Keselamatan Gedung Jakarta

badge-check


 Kebakaran di Bapenda, Jakarta Pusat Perbesar

Kebakaran di Bapenda, Jakarta Pusat

Wartatrans.com, JAKARTA – Kebakaran melanda Gedung Dinas Teknis Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) DKI Jakarta, Jumat (7/8/2026).

Dua hari sebelum kejadian, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI baru menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengesahan Manajemen Keselamatan Kebakaran Gedung (MKKG) kepada sembilan pengelola bangunan, termasuk Bapenda.

Momentum itu memperlihatkan bahwa penguatan manajemen keselamatan kebakaran tengah berjalan, tetapi kebakaran di gedung bertingkat kembali menguji seberapa efektif sistem tersebut ketika keadaan darurat benar-benar terjadi.

Kebakaran Gedung Dinas Teknis Bapenda terjadi di mana api melanda lantai 11 hingga 16.

Dinas Gulkarmat mengerahkan 37 kendaraan dan 185 personel, termasuk tiga Bronto Skylift untuk membantu pemadaman dari luar gedung.

Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta Bayu Meghantara mengatakan, kendaraan khusus itu dikerahkan untuk membantu menangani kebakaran di ketinggian.

“Kita kerahkan tiga unit bronto (skylift) ya, tiga bronto ini, untuk membantu untuk proses pemadaman,” kata Bayu.

Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran Bapenda itu.

Seorang pekerja yang sempat berada di lantai 15 berhasil dievakuasi.

Namun, api yang mencapai enam lantai memperlihatkan tantangan berbeda pada bangunan bertingkat: ketika titik kebakaran berada jauh di atas permukaan tanah, penyelamatan penghuni tidak hanya bergantung pada kecepatan petugas, tetapi juga pada sistem keselamatan yang bekerja dari dalam gedung.

Persoalan itu mengingatkan kembali pada kebakaran Terra Drone di Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Desember 2025.

Tragedi tersebut menewaskan 22 orang. Peristiwa itu memperlihatkan konsekuensi ketika kebakaran bertemu dengan keterbatasan akses evakuasi dan risiko material yang tersimpan di dalam bangunan.

Dua kasus tersebut memiliki karakter berbeda. Terra Drone menyoroti bagaimana kondisi bangunan dan pengelolaan risiko dapat menentukan keselamatan penghuni.

Bapenda memperlihatkan tantangan pemadaman dan evakuasi ketika api berkembang di lantai tinggi.

Namun, keduanya bertemu pada kebutuhan yang sama: sistem keselamatan harus berfungsi sebelum dan ketika kebakaran terjadi.

Karena itu, keberadaan MKKG tidak semestinya berhenti pada pengesahan dokumen.

Manajemen keselamatan harus diterjemahkan menjadi pemeriksaan rutin, latihan evakuasi, kesiapan petugas, pemeliharaan alarm, hydrant dan sprinkler, serta kepastian bahwa jalur keluar tetap dapat digunakan ketika asap memenuhi bangunan.

Masalah kepatuhan bangunan juga sudah ditemukan DPRD DKI. Pada Mei 2026, Panitia Khusus Tata Kelola Perparkiran DPRD DKI menemukan 15 dari 23 gedung yang diperiksa, ternyata tidak memiliki, atau belum memperpanjang Sertifikat Laik Fungsi (SLF).

Temuan SLF dan dua kebakaran tersebut menunjukkan,bahwa pengawasan tidak cukup mengandalkan kelengkapan administrasi.

Pemerintah perlu memastikan kondisi aktual bangunan sesuai dengan persyaratan keselamatan, termasuk fungsi sistem proteksi kebakaran dan jalur evakuasi.

Dengan penyebab kebakaran Bapenda masih dalam penyelidikan, audit tidak perlu diarahkan untuk mencari kesalahan sebelum fakta lengkap tersedia.

Adapun yang lebih mendesak adalah memastikan apakah gedung-gedung bertingkat di Jakarta memiliki sistem yang mampu mendeteksi api sejak dini, mengendalikan asap, memberi waktu evakuasi, dan membantu petugas menjangkau titik kebakaran.

MKKG yang baru diserahkan dua hari sebelum kebakaran, temuan SLF, serta pengalaman pahit Terra Drone memberi pesan yang sama: keselamatan gedung tidak boleh berhenti sebagai sertifikat. Ukurannya adalah kemampuan sistem bekerja ketika penghuni benar-benar membutuhkan jalan keluar. (Artha Tidar)

 

Baca Lainnya

Kabut Asap Selimuti Karas, Polisi Sektor Karas Bagikan Masker kepada Warga Malakuli.

6 Oktober 2026 - 09:37 WIB

Aceh Tengah Bersama Kodim 0106 Raih Juara Stand Terbaik Indonesia Fest 2026

5 Oktober 2026 - 19:51 WIB

Dugaan Pelecehan Seksual di Polinef, BEM Desak Wadir I Dicopot

5 Oktober 2026 - 19:46 WIB

Dua Hari 10 Ha TPA Ajibarang Semarang Terbakar, Gubernur Ahmad Luthfi Turun Tangan

2 Oktober 2026 - 08:35 WIB

Prabowo Reshuffle Kabinet Merah Putih, Sejumlah Menteri Bergeser

1 Oktober 2026 - 16:23 WIB

KAI Kooperatif dalam Proses Hukum dan Pastikan Pendampingan bagi Masinis Terkait Insiden Bekasi Timur

29 September 2026 - 20:09 WIB

Presiden Prabowo Perangi Korupsi, Dua Tahun Pemerintahan: 118 Tersangka Ditetapkan KPK

28 September 2026 - 23:16 WIB

SBY Terkesan dengan Giat Guruh Sukarno Putra Semasa Hidup

27 September 2026 - 05:19 WIB

Karhutla Kembali Terjadi di KM 3 Malakuli, Polisi dan Warga Berjibaku Padamkan Api

27 September 2026 - 05:13 WIB

Silaturahmi DPTD PKS Kabupaten Bogor: Memperkuat Militansi, Soliditas, dan Amanah Kader

26 September 2026 - 15:54 WIB

Trending di PERISTIWA